Bagikan:

Menteri PPPA: Perlu Langkah Strategis untuk Dorong RUU TPKS

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) bertekad menindaklanjuti arahan Presiden Joko Widodo, terkait percepatan pembentukan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual

BERITA | NASIONAL

Rabu, 05 Jan 2022 14:01 WIB

Perlu Langkah Strategis untuk Dorong RUU TPKS

Menteri PPPA Bintang Puspayoga dorong percepatan pembahasan dan pengesahan RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual. (Foto: Tangkapan layar Youtube Kemen PPPA)

KBR, Jakarta - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) bertekad menindaklanjuti arahan Presiden Joko Widodo, terkait percepatan pembentukan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS).

Menurut Menteri PPPA Bintang Puspayoga, Rancangan Undang-Undang TPKS sudah berproses sejak 2016 lalu, dan tahun ini masuk dalam daftar Prolegnas DPR. Bintang menyebut, perlu langkah-langkah strategis guna mendorong percepatan RUU TPKS.

"Kami bersama kementerian penerima surat Presiden, telah secara resmi pada tahun 2017 menyusun Daftar Inveteresasi Masalah (DIM) dari RUU PKS. Namun Rancangan Undang-Undang ini belum berhasil disahkan sampai pada tahun 2019. Berikutnya Rancangan Undang-Undang ini kembali menjadi inisiatif DPR pada Prolegnas 2020, berlanjut hingga kini pada Prolegnas 2022," kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga dalam keterangannya secara daring pada Selasa (4/1/2022).

Bintang juga memastikan, Pemerintah sudah berkomitmen untuk bersama-sama DPR membahas RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual. Bintang berharap, pengesahan Undang-Undang TPKS nantinya bisa menjadi payung hukum komprehensif. Terutama untuk melindungi masyarakat Indonesia, khususnya perempuan dan anak, dari kekerasan seksual.

Baca juga:

Draf RUU TPKS Terganjal Lagi, DPR Ramai Dikritik

Presiden Minta DIM RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual Segera Disiapkan

Editor: Fadli Gaper

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Haruskah Ikut Program Pengungkapan Sukarela?