Bagikan:

HIDUP USAI TEROR Season 2 : Terpaksa Pindah Ke Suriah (Part 2)

Terpaksa Pindah Ke Suriah

NASIONAL

Senin, 31 Jan 2022 14:31 WIB

HIDUP USAI TEROR Season 2 : Terpaksa Pindah Ke Suriah (Part 2)

Ilustrasi Hidup Usai Teror Season 2. (FOTO : KBR)

KBR, Jakarta - “Awal gue masuk baru dikasih tau kalo di sana itu sering ada bom. Gue mikirnya bom itu cuma granat gitu, gak pernah mikir itu adalah rudal. Betapa ngerinya keadaan di sana. Disaat kita juga harus mencari cara keluar, di situ kita juga harus takut nyawa ita akan diambil suatu saat. Bukan hanya dari ISIS tapi juga dari bom,”

Anda mendengarkan serial Hidup Usai Teror, di season ke 2 ini kami menghadirkan para remaja. Mereka bekas returnee, berhasil kembali ke tanah air dan bertekun merajut mimpi. Mereka bercerita untuk anda.

Mereka emang perang ada di luar kota. Tapi namanya rudal itu dia bisa sampe masuk ke dalam kota. Makanya sering berapa kali pas kita ada di luar, ada bom-bom yang mem-bombardir. Jadi karena keluarga kita yang laki-laki gak ikut pelatihan militer, jadi rupanya itu tidak dianggap sebagai orang ISIS. Jadi disitu gue baru tau kalau orang ISIS itu dia yang gabung ke militer mereka. Sedangkan orang asing yang tidak bergabung dengan ISIS itu disebut Muhajir Madani. Ada juga orang-orang Madani yang tidak gabung ISIS, ada yang ikut gabung ISIS. Yang dipenuhi janjinya itu hanya untuk orang-orang yang bergabung dengan ISIS.

Dengan status Muhajir Madani itu kita tidak bisa mendapatkan fasilitas-fasilitas yang mereka janjikan. Jadi untuk makan minum itu kita pake tabungan kita sendiri, sebagian dari kita itu membawa perhiasan-perhiasan emas dan dijual di sana. Alhamdulillah untungnya makanan, pakaian, dan harga-harga barang di sana itu lebih murah karena mereka gak ada pajak.

Sistem kesehatan juga kita harus bayar. Kita juga gak bisa belajar di universitas mereka karena kita bukan orang ISIS. Di situ juga kita baru tau kalau ada kesenjangan sosial, jadi madani-madani yang ga gabung ISIS mereka mendapatkan perlakuan yang emang tidak baik dibandingkan dengan orang-orang yang gabung ISIS. Sedangkan khilafah pas Rasulullah semuanya itu sama, mau dia adalah orang asing, mau dia adalah orang sipil, mereka harus mendapatkan perlakuan yang baik. Dari sini juga udah keliatan mereka tidak mengikuti ajaran-ajaran Islam.

Disitulah mulai kita mencoba untuk menasehati dengan mengirim surat. Tetapi udah kita capek-capek mencari penerjemah untuk mengirimkan surat dengan Bahasa Arab, mereka menolak dan juga mengancam. Ancamannya waktu itu adalah, ‘Jangan pernah buat surat begini lagi, karena keluarga laki-laki kalian itu gak ada buat apa-apa ga ada nyumbang apa-apa ke negara ini’. Sebenarnya underline ancamannya, mereka mungkin gak ngomong, tetapi seperti yang biasa gue denger ya itu, bunuh. Yang nge-buat kita bertekad bulat untuk balik setelah kita melihat keanehan-keanehan itu adalah ketika surat kita ditolak dan mereka mau ancem kita.

Awalnya kita sebenarnya berharap mereka mau perbaiki, tetapi kalau mereka udah menolak surat kita, yang kita juga memberikan dalil-dalil yang kuat, itu berarti mereka udah gak ada harapan untuk berubah.

Akhirnya di situ kita bulatkan tekad untuk mencoba keluar dari wilayah ISIS. Dan kita baru sadar kalau keluarnya itu lebih susah dibandingkan dengan masuknya. Jadi mereka itu punya ideologi, siapa yang keluar dari wilayah ISIS, mereka adalah murtad. Dan yang murtad wajib dibunuh. Sedangkan dalam Al-Qur’an tidak ada paksaan dalam beragama. Dari sini kelihatan bahwa mereka tidak mengikuti ajaran Islam. Tetapi mereka mengikuti ajaran ulama mereka. Itu lah yang ulama mereka katakan.

Jadi setelah kita sepakat untuk pulang, udah mendapat kejutan dari ISIS yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Kita mulai mencari cara untuk pulang dengan melewati smuggler. Disitu kita pernah ditipu oleh orang-orang sipil 2 kali. Waktu itu udah dijanjikan bakal keluar tetapi dia ngambil sekitar 7000 Dollar dari kita, kemudian tas-tas kita juga diambil, sebagian dari hp-hp kita juga diambil dan dia menghilang begitu saja entah kemana.

Kemudian ada juga yang menjanjikan tapi dia udah pergi duluan. Baru yang terakhir ini alhamdulillah bertemu dengan seseorang yang memang amanah, jadi kita hanya membayar 4000 Dollar saja, dan juga kita juga gak bisa balik lagi ke Turki supaya bisa balik ke Indonesia.

Jadi kita harus masuk ke wilayah Syrian Democratic Forces (SDF). Alhamdulillah bisa masuk, dan masuknya pun sempat ditembaki beberapa kali. Disitu kita dipenjara selama satu malam, kemudian ke-esokannya yang laki dan perempuan dipisah. Yang perempuan ke camp Ayn Issa, yang laki dibawa ke penjara Kobanê. Disitu kita selama 2 bulan ada di wilayah SDF, jadi selama 1 tahun 10 bulan, kita berada di wilayah ISIS. Di wilayah SDF kita berada disana selama 2 bulan. Kita sempat nge-hubungin KBRI, cuma kata KBRI untuk menyerahkan diri ke tentara Suriah. Tapi gak mungkin, karena kalau nyerahkan diri ke tentara Suriah takut, ntar akhirnya kita udah pasti mati disitu.

Alhamdulillah masih baikan SDF lah, masih mau nampung kita. Jadi ketika kita di camp Ayn Issa, ada sebagian warga sipil yang mungkin merasa kita orang asing jadi pasti join sama ISIS dan karena mereka marah dengan ISIS, kita nya yang kena. Dengan bully-an biasa seperti dilempar air, ada juga yang Buang Air Besar di sebelah camp, tapi ada juga warga sipil yang baik dengan kita. Mereka percaya dengan cerita kita, dan kita juga sempat berteman dengan mereka.

Di situ juga banyak wartawan yang berdatangan, awalnya kita menolak karena kita takut kalau ketahuan wajah kita atau ketahuan identitas kita, kita akan menjadi buronan ISIS di Indonesia. Tapi akhirnya ada satu wartawan yang nge-buka mindset kita, bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk menghubungi pemerintah Indonesia. Karena waktu itu HP kita juga diambil oleh tentara SDF. Jadi dengan menerima wawancara-wawancara itu, kita bisa ngehubungin pemerintah Indonesia. Tapi kita cuma menerima wawancara International.

(Suara Pembawa Berita: 17 Warga Negara Indonesia melarikan diri dari kelompok ISIS di Raqqa, kini mereka tengah berada di perkemahan Ayn Issa)

Alhamdulillah sekitar 2 bulan di wilayah SDF, kita mendapat kabar bahwa kita akan dijemput untuk pulang ke Indonesia. Sedangkan kita gak tau apakah yang laki-laki juga akan dijemput pulang ke Indonesia. Di situ masih tidak jelas statusnya bagaimana.

Setelah kita sampai di suatu wilayah di perbatasan Suriah dan Irak, kita bertemu dengan menteri-menteri Luar Negeri Indonesia, bertemu dengan keluarga kita yang laki-laki, kita bertemu dengan Pak Noor Huda Ismail juga disana. Disitu kita dibawa ke wilayah Irak, kita di bawah ke Hotel Erbil untuk interogasi selama 3 hari. Semua orang diinterogasi, tapi entah kenapa cuma gue yang gak diinterogasi.

Setelah interogasi kita pulang ke Indonesia melalui Bandara Internasional Erbil, transit di Qatar. Sesampainya kita di Indonesia, kita dijemput oleh Densus 88, dan di bawa ke BNPT, ke mess mereka. Disitu diinterogasi juga oleh Densus, diinterogasi juga oleh Polri, kurang lebih selama sebulan disitu kita juga menjalani program deradikalisasi.

Jadi pada tahun 2017, kita kembali ke Indonesia tepat 2 tahun setelah kita pergi ke ISIS. Disitu, pas di BNPT itu salah satu polisi bilang ke kita harus ada yang bertanggung jawab atas kepergian kita ke ISIS. Jadi ayah gue, 2 paman gue, harus dipenjara sebagai pertanggung jawaban kita pergi ke ISIS.

Setelah dari BNPT gue ke rumah nenek gue dulu, kemudian bergabung kembali ke keluarga gue yang sama-sama punya perjalanan ke ISIS. Kita tinggal di situ sama-sama, dan tetangga-tetangga kita udah tahu ceritanya karena BNPT melakukan reintegrasi terlebih dahulu. Dan alhamdulillah mereka menerima kita dengan baik.

Kemudian gue dan keluarga inti gue pindah lagi, awal-awal ga kita kasi tahu. Tapi setelah bapak gue dikeluarkan dari penjara, mau gak mau RT dan RW harus tau. Kemudian mereka memberikan warning ke kita bahwa ini adalah kesempatan pertama dan terakhir ke keluarga kami untuk tidak melakukan hal seperti itu lagi.

Yang susah, ada sebagian masyarakat yang tidak percaya dengan percaya kita, juga kadang membuat kita merasa discouraged. Tapi alhamdulillah ada orang-orang yang membantu kita jadi kita bisa bangkit kembali. Walaupun tidak gampang mendapatkan kepercayaan dari publik, tapi ya gak gue pedulikan karena hidup ini harus jalan. Gak semua orang suka dengan kita, jadi kalau dia gak suka dengan kita ya udahlah jadi mau gimana lagi.

Semenjak gue balik ke Indonesia gue mencoba untuk menyadarkan tentang betapa bahayanya ISIS ini. Sekarang gue ngikutin kampanye-kampanye perdamaian UN Women, ruangobrol.id, jadi kontributor disitu. Gue juga ke sekolah-sekolah terutama SMA SMA di Indonesia. Kebanyakannya gue kampanye ke SMA-SMA itu karena kan anak-anak SMA itu emosinya masih labil. Jadi mereka itu kaya target yang gampang untuk direkrut oleh grup-grup radikal. Ada yang mengundang gue, gue ikut, supaya yang mendengar bisa mengetahui betapa bahayanya ISIS ini dan gimana supaya tidak terjebak oleh rayuan ISIS.

Nah, dan sekarang ini gue lagi bisnis madu dan sebetulnya lumayan lucu sih ceritanya. Gue rupanya juga direkrut sama mantan kombatan Afghanistan, alhamdulillah gak direkrut untuk hal-hal yang ga baik gitu…maksudnya gak direkrut untuk menjadi kombatan juga tapi direkrut untuk menjadi pengusaha. Supaya bisa bangkit. Bisa bangkit dari keterpurukan sekarang ini.

Jadi ada satu lagi yang mau gue bilang, kalau ISIS ini propaganda-nya masih ada. Walaupun mereka wilayahnya udah gak ada di Suriah, tetapi sel-sel tidur mereka, orang-orang yang support sama mereka masih ada. Dan propaganda-nya masih mereka gencarkan.

Jadi mereka ini celah masuknya itu adalah dengan memberikan hal-hal yang kita inginkan. Contohnya kaya tante gue butuh fasilitas kesehatan, itu mereka janjikan. Jadi gak hanya cuma akhirat doang, dunia juga mereka janjikan. Terus kalo adek gue dia butuh suasana kekeluargaan, itu mereka janjikan. Jadi apa-apa kelemahan kita itu mereka janjikan.

Jadi walaupun mereka memberikan bermacam-macam janji, tapi dengan apa yang gue alami itu mereka tidak memenuhi janji mereka sekiranya kemauan mereka tidak dituruti, kemauan mereka itu ya berperang dengan mereka. Nah, jadi untuk netizen yang sekarang ini kan paling suka banget untuk nge-judge tanpa tau sebenarnya ceritanya seperti apa. Jadi tolong jangan terlalu cepat men-judge.

Dengarkan juga : Terpaksa Pindah Ke Suriah (Part 1)


Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 7

Bagaimana Stok dan Stabilitas Harga Pangan Jelang Nataru?

Kabar Baru Jam 8

Kick Off Seminar: Jurnalisme di bawah Kepungan/Tekanan Digital

Kabar Baru Jam 7

Most Popular / Trending