Bagikan:

HIDUP USAI TEROR Season 2 : Racun Maskulin Dalam Jihad (Part 1)

NASIONAL

Senin, 31 Jan 2022 15:06 WIB

HIDUP USAI TEROR Season 2 : Racun Maskulin Dalam Jihad (Part 1)

Ilustrasi Hidup Usai Teror Season 2. (FOTO : KBR)

KBR, Jakarta - “Ya waktu itu kayaknya pegang senjata nih keren, ada suatu tantangan yang baru. Dan mereka punya slogan ‘Hadhih ard alrijal’, yang artinya ‘Ini adalah tanah lelaki’. Jadi secara gak langsung mengatakan kepada kita anak-anak muda, ‘lu tuh gak laki kalo gak kesini’. Harus kesini ya,”

Kamu mendengarkan serial Hidup Usai Teror, di season ke 2 ini KBR berkolaborasi dengan ruangobrol.id. Kami menghadirkan kisah anak muda, bekas simpatisan ISIS dan returnee dari Suriah.

Halo, kita jumpa lagi di Serial Hidup Usai Teror Season ke 2. KBR berkolaborasi dengan ruangobrol.id, saya Malika.

Teuku Akbar Maulana, Hafidz penerima beasiswa dari Pemerintah Turki untuk belajar agama di Imam Khatib Highschool. Usianya baru 16 tahun ketika tinggal di Turki, jauh dari keluarga. Merasa bosan dengan kehidupannya, dia pun mulai berselancar di dunia maya, tenggelam dalam pencarian jati diri. Dalam kegalauan, Akbar teringat akan satu pelajaran waktu SMP, ‘Hiduplah mulia, atau mati syahid. Nanti bisa dapat surga dikelilingi 72 bidadari’. Ingatannya itu membuka angan-angannya untuk menyebrang ke wilayah teritori ISIS. Lebih-lebih setelah melihat foto salah seorang temannya di media sosial yang sudah menjadi anggota militan ISIS. Apa sebetulnya yang Akbar lihat di media sosial sehingga membikin dia berniat menyebrang? Simak cerita Akbar bagian pertama berikut ini.

Bismillahirrahmanirrahim, Assalamualaikum Wr.Wb. Perkenalkan nama saya Teuku Akbar Maulana, saya berasal dari Aceh. Saya pernah bersimpati kepada ISIS.

Ketika saya berumur 17 tahun, saat sedang sekolah di Turki, mendapatkan beasiswa dari pemerintah Turki dari Presiden Recep Tayyip Erdoğan untuk sekolah di beasiswa SMA di sana. Ketika disana saya pernah bersimpati kepada ISIS.

Saya mendapatkan kabar bahwa ada teman yang telah pergi ke sana. Namanya Yazid. Kemudian apa sih yang membikin kami terutama anak-anak muda tertarik untuk ke sana? Ya mungkin kalau misalnya bisa kita ambil sedikit kesimpulan, yang pertama karena ingin terlihat cool sebagai lelaki ya kita ingin terlihat keren. Waktu itu ada abang kelas yang sudah pergi ke sana, setelah 3 bulan dia menghilang. Akhirnya dia muncul lagi di Facebook dengan memegang AK-47. Banyak orang-orang yang kasih likes, banyak orang-orang yang kasih comment ‘Wih, keren kali bang Yazid nih wak’ ‘Wihh look so cool ya, Zid’. Kan rata-rata tuh perempuan yang ini ya…yang kasih likes comment. Ya waktu itu kayaknya pegang senjata nih keren, ada suatu tantangan yang baru.

Kemudian, dari sana mereka juga banyak berinteraksi, banyak memberikan propaganda-propaganda. Mengiklan tentang yang disana sendiri dengan video-video dengan foto-foto dan mereka punya slogan. Dari slogan itu ada namanya 'Hadhih ard alrijal' (yang artinya) ‘Ini adalah tanah lelaki’. Jadi secara gak langsung mengatakan kepada kita anak-anak muda, ‘lu tuh gak laki kalo gak kesini. Harus kesini ya’.

Salah satu nya kenapa ya bersimpati kepada ISIS, kenapa tertarik kesana ya mungkin karena waktu itu ya setiap manusia, setiap anak muda ya terutama, setiap anak muda nih pasti pernah merasakan galau dalam banyak hal. Galau baik itu karena cinta, kehidupan, teman, keluarga dan sebagainya.

Ya mungkin kalau misalnya dari saya sendiri, waktu itu merasakan galau untuk pertama datang ke Turki kan kita baru. Bisa dibilang kalau misalnya di kuliah itu matrikulasi ya, diulang lagi apa yang kita belajar di SMA. Waktu SMA, diulang lagi pelajaran apa yang kita pelajari waktu SMP. ‘kok gini-gini aja pelajarannya, cukup mudah ya’. Kalo orang Inggris orang bilang ‘piece of cake’ gitu. Gampang gitu. Jadi waduh…muncul lah bosan, ‘kok gini gini aja? Kita mau something different’ gitu ya kan. Jadi kemudian karena gak ada tantangan, karena balik lagi karena kita anak muda kita perlu suatu yang... suatu yang baru, suatu yang menantang. Kalo gak menantang gak keren.

Karena merasa bosan, perkataan apa apa yang pernah kita pelajari itu mahfudzot dari guru yang kita pelajari SMP, apa itu mahfudzot nya? Kaya gini kata mahfudzot nya, ‘Isy Kariman Au Mut Syahidan’ - Hiduplah Mulia atau Mati Syahid. Tanpa waktu itu kita ga pernah tau apa maksud dari mahfudzot itu sendiri, rata-rata orang juga mengatakan itu adalah Hadits. Ya waktu itu berpikir, ‘Oh mak, dari pada gini-gini aja hidup mending mati syahid ya kan?’.

Jadi ingin pergi kesana, jadi kita juga pegang senjata, jadi abis itu di sana kata kawan tuh yang abang kelas yang udah kesana tuh, VIP Service, makan daging kuda, Kebab, ‘oh mak, bukan kaleng kaleng’ ya kan? Pegang senjata dapat, makan juga dapat, gaji dapat, rezeki nomplok. Dan juga kita syahid. Syahid yang pernah kita pelajari waktu itu, ya kita juga masih mencari, searching for the meaning. Kalo syahid kan masuk surga, tanpa kita ketahui waktu itu apa? Syahid yang bagaimana? Bagaimana mati nya? Bagaimana ini. Tanpa ada… kita tahu bagaimana hukum syariah-syariah.

Kemudian bisa dibilang, kita dulu sama Bang Yazid itu, waktu pertama-tama nyampe di Turki, kita sering pergi ke warnet bareng. Ke warnet bareng, abang itu sering kita lihat main PB (Point Blank) zaman dulu lah, kalau sekarang PUBG, Mobile Legend…’Welcome to Mobile Legend’. Kemudian kita ingin mentransformasikan dari game online ke game nyata, kan keren gitu.

Kemudian, yang terakhir kenapa kita bersimpati kepada ISIS waktu itu ya karena mereka juga menjanjikan, bukan hanya menjanjikan, mereka juga mensentil, memotong hadits-hadits yang dipakai. Salah satunya adalah oleh Rasulullah, intinya kalo misalnya kita disana, kalo kita syahid, kita mendapatkan surga. Jadi surga itu bukan hanya untuk diri sendiri, tapi surga itu akan kita dapatkan untuk orang tua juga. Jadi siapa yang gak mau, sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, baik hati, rajin menabung gitu kan. Kita juga ingin berbakti pada orang tua dengan memberikan surga. Waktu itu kita berpikir, awalnya cara yang paling cepat adalah dengan syahid. Hidupnya berkah, syahid-nya juga berkah, gitu.

Waktu mulai searching searching di Internet, siapa yang pergi kesana, siapa orang Indonesia, ada dapat namanya melalui online Wildan Mukhallad. Beliau itu pergi kesana menjadi martir, pelaku bom bunuh diri di Irak. Cita-citanya hanya satu, ingin memberikan surga kepada kedua orang tua-nya. Ya siapa yang ga ingin? Tapi setelah tau, ga kepengen lagi kesana. Untuk orang tua nya, bukan hanya itu saja. Siapa yang kesana siapa yang syahid akan diberikan juga 73 bidadari di surga katanya. Untuk orang-orang tua. Kalo misalnya kita belum penting gitu.

Tapi sekarang gak mau lagi liat bidadari itu. Kenapa kok gak jadi gitu? Saya sebagai yang awalnya bersimpati, tapi tidak jadi kesana, apa penyebabnya? Kenapa dan bagaimana?

Yang pertama itu karena sewaktu ingin pergi kesana, saya mencari apa ini betul. Karena kita juga belum kesana, karena saya mempunyai titik balik sewaktu saya pergi ke Turki. Kami itu ke Turki, ini saya galau, galau kenapa ya? Kita buat awal berpikir ‘oh mak, Turki tuh negeri 2 benua. Wess… Negerinya Usmani. Keren. Beasiswa gratis. Luar Negeri’, itu pertama kali ke luar negeri kan.

Ternyata impian kita tidak sesuai dengan kenyataan. Tidak semuanya. Karena itu lah muncul galau, ‘kok gini gini aja belajarnya? oh Turki modelnya kaya gini, gak ada orang Bahasa Inggris. Kan kita mau improve Bahasa Inggris. Kok bahasa Turki’ gitu.

Jadi karena galau-galau itu, jadi saya udah punya pengalaman. Saya tidak ingin pergi belajar ke suatu tempat sebelum saya pergi ke tempat itu dengan merasakannya sendiri.

Jadi sebelum berangkat ke Suriah, karena saya sudah pengalaman waktu ke Turki. ‘mak ini apa betul di sana? Apa betul disana Jihad yang sesungguhnya?’. Muncul lah pemikiran untuk searching for the meaning. Terus mencari… mencari… mencari… apakah ini betul? Hingga akhirnya bertemulah, ada satu Hadits. Intinya begini ‘ada seorang Pemuda datang kepada Nabi Muhammad SAW, bertanya ‘Wahai Nabi, saya ingin berjihad bersama mu. Apakah boleh?’ nah intinya begitu. Kemudian Nabi kembali bertanya kepada seorang Pemuda itu, ‘Apakah kamu masih mempunyai kedua orang tua?’ dijawab lagi sama Pemuda itu. ‘Masih Ya Nabi’. ‘Kembali lah kepada orang tua mu. Buatlah mereka tersenyum’. Itu sabda Nabi.

Kita sebagai anak gitu, kalo misalnya kita gak tau disana betul apa enggak ya karena saya belum pernah pergi kesana. Yang jelas kita lihat hukum-hukum syariah-syariah yang mereka lakukan itu tidak seperti yang diajarkan Islam. Tapi yang waktu itu saya pikir adalah saya kesana belum ada izin orang tua. Setiap saya ingin-apa yang ingin saya lakukan, apa yang mau saya kerjakan, saya pasti meminta izin orang tua.

Akhirnya, saya beranikan diri lah untuk tanya ke abang yang udah ada disana, ‘jadi, Bang, saya belum ada izin bang dari orang tua, gimana bang?’. Kemudian dia bilang, ‘belum ada izin orang tua?’. Langsung lah direct itu dia kirim pesan melalui Messenger waktu itu kita pakenya. Pokoknya intinya begini, ‘berjihad tanpa izin orang tua diperbolehkan’. Hah? Kaget saya gitu. Karena… kenapa? Itu dia kirim artikel yang ditulis oleh mereka dalam versi Bahasa Indonesia mereka menyentil satu ayat, ada terjemahannya kemudian mereka tafsirkan sendiri.

Saya bingung, saya baca, ‘kok gak masuk akal?’ menurut saya ya. Kenapa? Karena apa yang telah saya pelajari, apa yang telah saya dapatkan sewaktu saya SMP dulu di Aceh, Pesantren di Aceh, ya mungkin kita semua tau, bagi yang Islam ada satu Hadits yang berbunyi 'Ridho Allah tergantung kepada Ridho Orang Tua’. Anggaplah kita gak tau, karena saya gak pernah bilang disana betul atau nggak, hanya Allah yang tahu, hanya Tuhan yang tahu. Tapi anggaplah di sana betul nih Perang Jihad yang betul, tapi tanpa izin orang tua ini apakah itu Jihad yang sesungguhnya? Nah itu lah yang mulai menjadi titik balik saya.

Sebagai anak muda, sebagai anak yang berbakti kepada orang tua tidak ingin membuat orang tua menangis. Tetapi ingin membuat orang tua tersenyum bahagia. Kalaupun orang tua menangis, tetapi menangis karena prestasi kita. Menangis karena haru.

Saya kenapa tidak pergi ke sana? Yang pertama karena masih searching for the meaning. Sampai sekarang masih searching for the meaning. Yang kedua karena orang tua dan yang ketiga karena adanya satu insiden. Nah…insiden yang tidak disengaja.

Jadi ketika ingin pergi ke sana, ingin menyebrang, jadi di samping bus station, di belakang kita itu ada restoran. Restoran terkenal lah di kota saya itu. Waktu di jalan itu ketemu saya sama orang. Betul betul badannya gede, cukup tinggi orangnya, muka-muka melayu dia bilang lah,

‘Orang Indonesia lu ya?’ ‘Oh iya Pak’, kita kan masih kalem kalem gitu kan. ‘Udah makan?’ ‘Belum Pak’, ‘Yuk makan’.

Pas pula belakang tu ada restoran kan. ‘Yuk, Pak’, dalam hati nih ‘Oh mak, ini rezeki anak sholeh nih’, biasa kita Ind*mie selalu. Akhirnya makan, dia bilang, ‘Pesan terusss’ gitu. ‘oh mak mantap pula. Langsung VIP Service terus kan. Biasa kita yang 5000-5000 gitu kan, ini mana ada. Gas’. Kemudian ketika itu makan, pesan, makan, cerita, tanpa tau siapa orangnya itu. Jadi setelah makan beliau bilang, 'gua mau ke Cappadocia nih, Lu mau kemana?', 'saya mau nyebrang, Pak, 'kemana?', 'ya,nyebrang,Pak', 'kemana?', 'ke perbatasan, Pak', 'hah?'

Dia nih kaget, dengan kagetnya beliau ceritakan lah apa yang terjadi disana, bagaimana geopolitik di sana. Perang apakah ini dan sebagainya. Tapi waktu saya ini, saya ga tau siapa beliau dan bagaimana, tapi saya kaya nurut gitu, ‘betul juga yang dibilang bapak ini’.

Akhirnya, semenjak saat itu, saya memutuskan-ya di samping karena searching for the meaning dan orang tua itu, saya ketemu sama orang yang bisa kita bilang Guardian Angel. Guardian Angel yang betul-betul diawasi lah oleh Allah, takdir Illahi bisa kita bilang juga. Saya memutuskan untuk tidak jadi berangkat ke Suriah. Seperti itu,”

Akbar mengurungkan niat pada perhentian terakhir sebelum menyebrang ke wilayah ISIS. Pertemuannya dengan orang yang dia sebut sebagai Guardian Angel, Noor Huda Ismail, membuat Akbar mendefinisikan kembali arti Jihad. Apa itu? Temukan jawabannya di cerita Akbar bagian ke 2.

Dengarkan juga : Terpaksa Pindah Ke Suriah (Part 2)

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Komunitas Biboki Lestarikan Tenun Ikat Tradisional

Living Law, Apa Dampaknya Jika Masuk dalam RKUHP?

Kabar Baru Jam 10

Most Popular / Trending