Bagikan:

Dua Merek Vaksin COVID-19 Bisa Digunakan untuk Booster Vaksin Primer Berbeda

BPOM menyatakan 3 merek vaksin dapat digunakan untuk booster homologous (vaksin yang sama), 2 vaksin lainnya yakni Moderna dan Zivivax bisa digunakan untuk booster heterologous (vaksin berbeda).

BERITA | NASIONAL

Senin, 10 Jan 2022 21:44 WIB

Booster

Petugas menyuntikkan vaksin COVID-19 dalam kegiatan vaksinasi anak di Palembang, Sumatera Selatan, Minggu (9/1/2022). (Foto: ANTARA/Feny Selly)

KBR, Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan izin penggunaan darurat lima merek vaksin untuk program vaksinasi booster. Lima merek vaksin itu adalah CoronaVac (Sinovac), Pfizer, AstraZeneca, Moderna, dan Zifivax.

Kepala BPOM Penny K Lukito mengatakan, penggunaan kelima vaksin untuk booster harus disesuaikan dengan vaksin dosis pertama dan kedua atau vaksin primer yang digunakan.

Kata Penny, masing-masing vaksin harus digunakan sesuai ketentuan apakah bisa untuk homologous yang artinya booster harus sama dengan vaksin primernya, atau heterologous yang artinya pemberian vaksin booster berbeda dengan pemberian vaksin primer.

Yang pertama adalah vaksin Coronavac Covid-19 Biofarma. Vaksin ini adalah booster homologous yang diberikan untuk penerima vaksin Sinovac atau Coronavac sebagai vaksin primer.

Vaksin booster ini diberikan untuk usia 18 tahun ke atas sebanyak satu dosis setelah 6 bulan dari vaksinasi primer dosis lengkap.

"Berdasarkan pertimbangan dari hasil uji klinik, pertama keamanannya, kejadian advisory event, kejadian tidak diinginkan yang sering terjadi dan berhubungan dengan vaksin yaitu reaksi lokal seperti nyeri di tempat suntikan, kemerahan, umumnya tingkat keparahannya grade satu atau dua. Imunogenitas menunjukkan peningkatan titer antibodi netralisasi hingga 21 sampai 35 kali setelah 28 hari pemberian vaksin booster ini pada subjek dewasa," kata Penny dalam keterangan pers, Senin (10/1/2022).

Yang kedua adalah vaksin Pfizer yang digunakan untuk booster homologous, diberikan sebanyak satu dosis, minimal setelah 6 bulan dari vaksinasi lengkap untuk 18 tahun keatas.

Booster Pfizer menunjukkan terjadi peningkatan imonogenitas dengan nilai rata-rata titer antibodi sebesar 3,3 kali setelah satu bulan.

Vaksin ketiga adalah Astrazeneca yang juga yang digunakan untuk booster homologous. Data keamanan vaksin ini dapat ditoleransi dengan baik, 55 persen menunjukkan reaksi ikutan pasca imunisasi yang ringan, dan 37 persen sedang.

Imunogenitas booster Astrazeneca menunjukkan peningkatan nilai rata-rata titer antibodi sekitar 3,5 kali.

Baca juga:

https://kbr.id/nasional/01-202...

https://kbr.id/nasional/01-202...

Vaksin berbeda

Kepala BPOM Penny K Lukito menjelaskan, selain 3 vaksin yang digunakan untuk booster homologous, 2 vaksin lainnya yakni Moderna dan Zivivax bisa digunakan untuk booster heterologous.

Penny menjelaskan, vaksin Moderna bisa digunakan untuk booster baik homologous atau heterologous dengan setengah dosis.

"Heterologousnya Moderna adalah untuk vaksin primer Astrazeneca, Pfizer, dan Johnson and Johnson dengan dosis setengah. Ini menunjukkan respon imun antibodi netralisasi sebesar 13 kalinya setelah pemberian dosis booster dan pada subjek juga dewasa 18 tahun keatas," kata Penny.

Dan yang terakhir adalah vaksin Zifivax yang bisa digunakan untuk penerima vaksin primer Sinovac dan Sinopharm. Vaksin ini dikembangkan oleh perusahaan farmasi Anhui Zhifei Longcom asal Tiongkok.

"Yang kelima adalah vaksin Zifivac. Ini untuk booster heterologous dengan primer Sinovac atau Sinopharm. Juga diberikan setelah 6 bulan ke atas. Di pemberian dosis menunjukkan titer antibodi netralisasi meningkat lebih dari 30 kali pada subjek yang telah mendapatkan dosis primer Sinovac atau Sinopharm," katanya.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Haruskah Ikut Program Pengungkapan Sukarela?