BKF Proyeksi Penggunaan Batu Bara Hingga 2030 Masih Cukup Tinggi

"kalau dilihat komposisi energy mix ke depan, nanti adalah komposisi batu bara menurun, dan komposisi EBT akan meningkat. Tapi tentunya tidak akan langsung hilang sama sekali"

BERITA | NASIONAL | KABAR BISNIS

Kamis, 06 Jan 2022 18:34 WIB

Author

Ranu Arasyki

batu bara

Ilustrasi. Kapal tongkang pengangkut batu bara di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (15/1/2020). (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta— Badan Keuangan Fiskal (BKF) memproyeksi, penggunaan batu bara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) masih cukup besar hingga 2030, yakni mencapai 264,2 ribu Gigawatt (GW). Angka itu meningkat dibandingkan tahun ini yang hanya 194,5 GW.

Kepala Pusat Kebijakan Sektor Keuangan (BKF) Adi Budiarso mengatakan, penggunaan sumber energi batu bara itu diiringi dengan bertambahnya pembangunan PLTU di sejumlah daerah, kendati beberapa PLTU akan memasuki masa pensiun. 

Namun, lanjutnya, jika melihat berdasarkan komposisi bauran energi ke depan, penggunaan batu bara akan menurun disusul adanya penambahan penggunaan energi baru terbarukan (EBT) untuk kelistrikan.

"Diolah dari RUPTL 2021-2030, kalau dilihat komposisi energy mix ke depan, nanti adalah komposisi batu bara menurun, dan komposisi EBT akan meningkat. Tapi tentunya tidak akan langsung hilang sama sekali. Dan ini pentingnya kita perlu melakukan focusing energy dan optimizing mix energy," katanya daring, Kamis (6/1/2022).

Baca Juga:

Dia memperkirakan, penggunaan EBT di sektor kelistrikan akan meningkat perlahan hingga 106,3 ribu GW pada 2030, dibandingkan tahun ini yang hanya 36,5 ribu GW.

Merujuk pada Indonesia Long Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilient Development (LTS-LCCR) 2050, total penggunaan energi primer pada 2050 mencapai 585 Million Tonne Of Oil Equivalent (MTOE). 

Energi tersebut mencakup batu bara mencapai 197,2 MTOE atau sebesar 33,7 persen, EBT 191,7 MTOE atau sebesar 32,8 persen, gas bumi 146,7 MTOE atau 25 persen, dan minyak bumi 49,6 MTOE atau 8,5 persen.

"Ini menjadi target optimalisasi apakah energi alternatif batu bara itu gas bumi, EBT, atau yang lain. Nah ini tentunya menjadi perhatian kita untuk menangkap peluang karena Indonesia memiliki natural gas yang besar, hydro yang besar juga. Tapi tentunya dibutuhkan investasi dan mitigasi untuk berbagai macam peluang ketemuan dengan peminat investor dari luar maupun dalam negeri," katanya.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Membuat Minyak Goreng di Satu Harga