Tahu Tempe Langka di Pasaran, Satgas Pangan Polri Turun Tangan

Sejauh ini belum ada temuan atas dugaan penimbunan atau monopoli.

NASIONAL

Selasa, 05 Jan 2021 20:38 WIB

Author

Wahyu Setiawan

Tahu Tempe Langka di Pasaran, Satgas Pangan Polri Turun Tangan

Ilustrasi kedelai impor

KBR, Jakarta- Satgas Pangan Polri turun tangan menyelidiki langkanya tahu dan tempe di pasaran selama beberapa hari terakhir.

Kelangkaan itu ditengarai karena melonjaknya harga kedelai yang merupakan bahan baku pembuatan tahu tempe.

Juru bicara Mabes Polri Ahmad Ramadhan mengatakan sejauh ini belum ada temuan atas dugaan penimbunan atau monopoli.

Hasil pemantauan akan disampaikan jika Satgas Pangan mendapatkan temuan signifikan.

"Sudah menjadi tugas pokok dari Satgas Pangan untuk memonitor kegiatan-kegiatan tersebut. Itu Satgas Pangan tetap melaksanakan tugasnya," kata Ramadhan di Mabes Polri, Senin (4/1/2021).

Mengutip antaranews.com, harga kedelai saat ini mencapai Rp9.300 per kilogram. Angka ini naik jika dibanding harga tiga bulan lalu yang berada di kisaran Rp6.000-Rp7.000 per kilogram.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Suwandi menjelaskan faktor kenaikan harga kedelai antara lain dikarenakan naiknya biaya angkut dan transportasi.

Kata dia, semula waktu tempuh dari negara asal sekira 3 minggu, kini menjadi 6 hingga 9 minggu.

Faktor lain adalah dampak wabah COVID-19, yang membuat harga kedelai di sejumlah negara produsen juga sudah tinggi, semisal di Brasil dan Amerika.

Karena itu, perajin tahu tempe di dalam negeri sempat mogok beberapa hari, dan kemudian menaikkan harga jual produk mereka.

Kementan berupaya memfasilitasi peningkatan kemitraan produksi dan memaksimalkan pemasaran serta penyerapan kedelai petani lokal.

Hal itu dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU) antara Gabungan Koperasi Tahu dan Tempe Indonesia (Gakoptindo), Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), investor, dan Ditjen Tanaman Pangan Kementan. MoU itu ditandatangani di kantor pusat Kementan, Jakarta, Senin (04/01).

Editor: Sindu Dharmawan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Izin Keruk Harta Karun RI

Kabar Baru Jam 8

Mama 'AB': Mengikat Yang Tercerai

Gelar Konser Musik dan Seni Pertunjukan Offline. Apa Sudah Memungkinkan?