Pengembangan Vaksin Merah Putih, ini Alasan Menristek Dorong banyak Metode

"Karena itu saya sangat mendorong enam platform yang saat ini dikembangkan,”

BERITA | NASIONAL | RAGAM

Minggu, 24 Jan 2021 01:23 WIB

Author

Dwi Reinjani

Pengembangan Vaksin Merah Putih,  ini Alasan Menristek Dorong banyak Metode

Peneliti bekerja mengembangkan vaksin Merah Putih di laboratorium PT Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/8/2020). (Antara/Dhemas Reviyanto)

KBR, Jakarta- Menteri Riset dan Teknologi sekaligus Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bambang P.S Brodjonegoro menjelaskan alasan  mengembangkan vaksin merah putih dengan banyak instansi dan berbagai platform. Menurutnya pengembangan itu dilakukan untuk mendukung Indonesia memiliki kemandirian dalam strategi kesehatan khususnya di bidang obat dan vaksin.

“Kita juga harus berpikir ke depan, di mana kedepannya kita tidak tahu pandemi jenis apalagi yang akan datang yang akan mengganggu kehidupan manusia, dan sudah saatnya kita lebih siap, kita lebih antisipatif terhadap kemungkinan pandemi masa depan yang belum kita bisa bayangkan seperti apa. Nah karena itulah kemandirian vaksin dan momentum pengembangan kemampuan untuk pengembangan vaksin harus kita manfaatkan sebaik-baiknya, karena itu saya sangat mendorong enam platform yang saat ini dikembangkan,” ujar Bambang, dalam webinar Tantangan dan Kebijakan Vaksin Merah Putih, Jumat (22/01/2021).

Kata dia,  saat ini ada enam instansi yang mengembangkan vaksin merah putih dengan berbagai macam platform. Yakni Universitas Indonesia (UI) dengan DNA dan mRNA, Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Airlangga, LIPI dan Eijkman dengan protein rekombinan lain.

Bambang menjelaskan, dengan banyaknya penelitian pengembangan vaksin menggunakan metode dan bahan uji yang berbeda, diharapkan bisa menjadi cikal bakal penemuan vaksin yang lebih variatif.

“Pengembangan vaksin itu sendiri dalam waktu yang relatif singkat paling tidak kita sudah ada enam yang segera bersedia melakukan penelitian untuk pengembangan vaksin covid-19. Dari Eijkman yang ada di bawah kemenristek. Demikian juga LIPI dan kemudian empat universitas dari UI, Airlangga, ITB maupun UGM dan masing-masing mengembangkan sesuai dengan teknologi yang dikembangkan. Ini menurut saya sangat penting, kalau misalkan semua mengembangkan hanya dengan satu platform misalkan protein rekombinan saja, yang kebetulan di sini juga kelihatan dominan, maka kita tidak pernah belajar mengenai teknologi pengembangan vaksin yang terbaru.” Ujar Bambang.

Kata dia, pengembangan vaksin tidak hanya berfokus pada pencarian untuk vaksin covid-19, namun juga menjadi cikal bakal teknologi yang bisa digunakan, untuk mencari vaksinasi lain seperti Malaria, Demam Berdarah sampai Hepatitis B.

Editor: Rony Sitanggang

Redaksi KBR juga mengajak untuk bersama melawan virus Covid-19. Selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan dengan 3M, yakni; Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Mencuci Tangan dengan Sabun.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Vaksinasi "Drive Thru" Pertama Indonesia

Pahlawan Gambut

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 10