Bagikan:

Ingin jadi Donor Plasma Konvalesen? Begini Syaratnya

"Karena itu kami mensyaratkan harus yang pulang dirawat dari rumah sakit dan membawa surat keterangan sembuh dari dokter yang merawat.”

RAGAM | NASIONAL

Jumat, 29 Jan 2021 16:34 WIB

Author

Dwi Reinjani

Ingin jadi Donor Plasma Konvalesen? Begini Syaratnya

Ilustrasi: Petugas PMI mengkampanyekan donor plasma konvalesen bagi pasien COVID-19 di Solo, Jateng, Kamis (07/01). (Antara/Maulana Surya)

KBR, Jakarta-   Ketua Bidang Unit Donor Darah, Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat, Linda Lukitari Waseso mengatakan, ada beberapa kendala dalam pelaksanaan donor darah plasma konvalesen, diantaranya kendala kemampuan alat dan syarat yang diberlakukan bagi calon pendonor juga cukup ketat. Kata dia, tidak semua penyintas Covid-19 bisa melakukan donor plasma konvalesen. 

“Karena memang plasma konvalesen ini para pendonor mungkin belum teredukasi dengan baik. Jadi apa sih sebenarnya pendonor plasma konvalesen itu kan seperti itu, jadi sebenarnya mereka banyak yang belum tahu. Persoalan dengan alat ya memang karena sekarang permintaannya cukup tinggi alatnya bukan terbatas, tapi satu alat itu mungkin hanya bisa dipakai kurang lebih 10 sampai 15 jam nggak bisa 24 jam itu juga ada kaitannya,” ujar Linda, saat dihubungi KBR, Jumat (29/01/2021).

Kata dia, para penyintas yang ingin mendonorkan plasma konvalesen bisa melakukannya di puluhan tempat. 

“Sebenarnya kami bisa berkunjung di unit kami bagi para pendonor plasma konvalesen, ada di 33 tempat. Misalnya di DKI saja ada donor darah pusat di Lenteng Agung, kemudian donor darah PMI DKI yang ada di Kramat. Kemudian ada di Aceh, Medan, Pekanbaru, Palembang, Lampung, kota Tangerang, Bodetabek. Kemudia ada di Jawa Barat ada di Cirebon, Bogor. Jawa Tengah juga ada Semarang, Banyumas, Cilacap, Surakarta, kemudian di Jawa Timur juga ada kota Surabaya, Malang, Sidoarjo, Lumajang, Tuban, Jember. Kemudian ada di Bali, kota Banjarmasin. Kemudian ada di Sulawesi utara dan Makassar. Jadi kita ada 33 tempat," ujar dia.  

Ketua Bidang Unit Donor Darah, PMI Pusat, Linda Lukitari Waseso menjelaskan, ada sejumlah syarat bagi mereka yang ini menjadi donor.  

"Kalau syarat yang normal itu kan biasanya dengan usia 18 sampai 60, berat badan harus di atas 55 kilogram. Jadi badan harus sehat, tapi ada syarat tambahan yang harus dipenuhi oleh calon pendonor plasma konvalesen, yaitu dia pernah dirawat di rumah sakit dan pernah terkonfirmasi covid-19. Setelah itu dia harus memberikan surat keterangan sembuh dari dokter yang merawat dan bebas keluhan minimal 14 hari. Yang terpenting lagi adalah mereka ini filter antibodinya ada atau terbentuk cukup optimal," jelasnya.

Dia melanjutkan, "ini kadang-kadang terkendala oleh syarat-syarat yang cukup ketat. Contohnya orang tanpa gejala yang sembuh banyak,  tapi kadang yang OTG ini sebenarnya bukan tidak ada filter antibodinya, tapi mungkin tidak optimal. Oleh karena itu kami mensyaratkan harus  yang pulang dirawat dari rumah sakit dan membawa surat keterangan sembuh dari dokter yang merawat.” 

Sebelumnya santri penyintas Covid-19 di sejumlah pondok pesantren di Kabupaten Cilacap. Jawa Tengah siap mendonorkan plasma konvalesen.  Pengasuh Pondok Pesantren Cigaru, Cilacap, KH Mazin al Hajar mengatakan di pesantrennya ada 100 lebih santri dan warga pesantren yang siap mendonorkan darahnya. Mereka adalah penyintas yang sebelumnya dinyatakan positif Covid-19.

Dia pun mengakui, sejumlah santri masih di bawah umur untuk donor. Karenanya, dia mempersiapkan santri yang sudah cukup umur dan dalam kondisi sehat. Kemudian, untuk asatidz, yang berusia di bawah 60 tahun dan dalam kondisi sehat.

Kesiapan ini didasari bahwa semua kalangan bisa terpapar Covid-19, termasuk para ulama. Karenanya, santri siap mendonorkan darahnya untuk pasien Covid-19 demi kemanusiaan.

“Itu karena demi kemanusiaan. Nanti anak-anak saya siapkan. Insyaallah siap, jika ada yang membutuhkan, terutama untuk ulama kita yang terkena (Covid-19), dan untuk yang membutuhkan plasma. Yang kemarin, berjumlah 108 santri, yang kategori usia sekitar 20 tahun,” kata Mazin al Hajar, Kamis malam (28/1/2021).

KH Mazin al Hajar  menjelaskan, sebelumnya Ponpes Cigaru sempat lockdown setelah seratusan lebih santri terpapar Covid-19. Selama penutupan itu, masyarakat dan pemerintah banyak membantu ponpes. Misalnya, dalam penyediaan makanan untuk santri, obat-obatan, dan masker. 

Menurut dia, setelah bebas Covid-19, sudah selayaknya para santri bersumbangsih untuk masyarakat. Ini adalah bentuk bakti santri untuk masyarakat.


Editor: Rony Sitanggang


(Redaksi KBR mengajak untuk bersama melawan virus covid-19. Selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan dengan 3M, yakni; Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Mencuci Tangan dengan Sabun.)

 

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Jalan Berliku Warga Ibu Kota Dapatkan Udara Bersih