Guru Besar UGM: 'Raja-raja Baru' Alami Waham Kebesaran

Ada juga sejumlah faktor psikologis yang membuat banyak orang mau jadi pengikut mereka, yaitu post-power syndrome, kurang kasih sayang, dan keinginan menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

BERITA | NASIONAL

Rabu, 22 Jan 2020 15:14 WIB

Author

Ken Fitriani, Adi Ahdiat

Guru Besar UGM: 'Raja-raja Baru' Alami Waham Kebesaran

Tangkapan layar dari video perkumpulan Sunda empire. (Youtube/Sunda Empire)

KBR, Yogyakarta – Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Koentjoro menegaskan bahwa klaim-klaim yang dilontarkan 'kerajaan baru' seperti Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire itu tidak rasional.

Menurut Prof. Koentjoro, para 'raja' baru itu mengalami grandiose delusion atau waham kebesaran, gangguan kejiwaan yang membuat seseorang sangat yakin ia punya kekuasaan besar, hingga tak bisa membedakan impian dan kenyataan.

Ada juga sejumlah faktor psikologis yang membuat banyak orang mau jadi pengikut mereka, yaitu post-power syndrome, kurang kasih sayang, dan keinginan menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

“Kalau post-power syndrome ini karena orang tua yang dulu punya jabatan tertentu, lalu pensiun, dan di rumah tidak ada siapa-siapa yang diperintah, kemudian mereka memilih bergabung di situ," jelas Prof. Koentjoro di kampus UGM, Yogyakarta, Selasa (21/1/2020).

"Kalau faktor kurang kasih sayang, ini yang memprihatinkan, sehingga mereka mencari ke luar."

"Nah, yang ketiga adalah banyak orang yang ingin menjadi pegawai negeri, karena pegawai negeri adalah fenomena dari perwakilan orang keraton," lanjut Prof. Koentjoro.


Bukan Faktor Kemiskinan

Menurut Prof. Koentjoro, kemiskinan bukanlah faktor yang mendorong orang-orang untuk bergabung ke 'kerajaan baru' tersebut. Sebab, para pengikut justru harus membayar ketika hendak menjadi 'anggota kerajaan'.

“Mereka gambling, ada keinginan yang ingin dicapai. Bisa jadi juga mental instan, tidak mau bekerja keras tapi kepengen cepat kaya," ujarnya.

Untuk mengantisipasi fenomena tersebut, Prof. Koentjoro meminta pemerintah meningkatkan daya kritis masyarakat melalui pendidikan. Ia pun mewanti-wanti bahwa kejadian serupa berpotensi muncul lagi.

“Akan selalu terjadi. Sejak zaman dahulu ini sudah ada, dan akan selalu ada," katanya.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13

Korona Mengancam Masa Depan Anak

Kabar Baru Jam 12

Bagaimana Kenormalan Baru bagi Aktivitas Perkantoran?