Di Era 4.0, Data Pribadi adalah 'Emas' Bagi Perusahaan

Dengan mengolah data pribadi, perusahaan bisa memprediksi kebutuhan konsumen, merancang produk baru, serta membuat strategi penjualan yang akhirnya bermuara pada penciptaan profit.

BERITA | NASIONAL

Jumat, 31 Jan 2020 14:29 WIB

Author

Adi Ahdiat

Di Era 4.0, Data Pribadi adalah 'Emas' Bagi Perusahaan

Ilustrasi: Data pribadi. (Foto: Pixabay)

KBR, Jakarta - Di era perkembangan teknologi informasi 4.0, data pribadi adalah 'emas' atau modal berharga bagi perusahaan.

Dengan mengolah data pribadi, perusahaan bisa memprediksi kebutuhan konsumen, merancang produk baru, serta membuat strategi penjualan yang akhirnya bermuara pada penciptaan profit.

Hal itu dijelaskan pimpinan perusahaan Astra International, Grab, dan Halodoc dalam acara Indonesia Data and Economic Conference yang digelar Katadata.co.id di Hotel Kempinski, Jakarta, Kamis (30/1/2020).

"Jadi kami sudah tahu (apa yang disukai konsumen) sebelum meluncurkan (produk) karena riset data,” kata Direktur Astra International Paulus Bambang Santoso dalam acara tersebut.


Lihat Juga: Gunakan Data Pribadi Pengguna, Google Kena Denda Rp800 Miliar 


Pemanfaatan Data Pribadi di Perusahaan Transportasi dan Kesehatan

Direktur Astra International Paulus Bambang Santoso mengungkap bahwa perusahaannya memang mengolah data pribadi untuk meningkatkan kepuasan konsumen.

Ia pun mencontohkan, dari data pergerakan harian konsumen, Astra bisa saja membuat bisnis baru seperti penyewaaan mobil.

"Kita sudah ngerti dia (konsumen Astra) pagi mau ke mana, lalu mau ke mana, segala macam kita sudah predict, even sebelum mereka menyadari, kita sudah tahu movement mereka," kata Paulus.

"Misalnya kita tahu mobilnya nganggur dari jam 8 (pagi) sampai jam 4 (sore), kita tahu pola itu, kenapa nggak jam 8 langsung (disewakan) ke kita, bisa cari duit itu. Itu sangat mungkin dengan data dan artificial intelligence kita, karena itu data yang sangat mudah," tukasnya.

Data pergerakan konsumen juga sudah lama dimanfaatkan perusahaan transportasi online, seperti dijelaskan Managing Director Grab Indonesia Neneng Goenandi.

"Kita sudah membaca, misalnya saya dari kantor (mau pulang) ke rumah, begitu kita buka (aplikasi) dia akan prediksi (alamat tujuan) untuk memudahkan customer memesan Grab, jadi nggak usah ngetik lagi," kata Neneng.

"Buat driver kita juga, mereka bisa tahu daerah mana yang hot (ramai pesanan)," lanjutnya.

Tak hanya di bisnis transportasi, pengolahan data pribadi juga bisa dimanfaatkan industri obat-obatan, seperti yang sudah dilakukan Halodoc.

“Di aplikasi (Halodoc) ada ribuan data yang masuk per hari. Kita bisa melihat customer behaviour dan kesehatan mereka," jelas Vice President Marketing Halodoc Felicia Kawilarang.

"Kita bisa lihat kota-kota mana saja yang kena virus (penyakit) paling tinggi, dan kita bisa supply apotik-apotik dengan obat yang tepat. Jadi, kita bantu menyediakan stok obat di daerah tertentu, depending on buyers apa yang lagi kuat di daerah itu," tutur Felicia.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Menunggu Sanksi Aparatur Tak Netral di Pilkada