Cegah Banjir, BPPT Akan Alihkan Hujan ke Selat Sunda dan Laut Jawa

"Untuk itu, radar cuaca menjadi tools utama untuk melakukan pengamatan near-realtime pertumbuhan awan di daerah target Jabodetabek," kata Kepala BPPT.

BERITA | NASIONAL

Jumat, 03 Jan 2020 15:38 WIB

Author

Adi Ahdiat

Cegah Banjir, BPPT Akan Alihkan Hujan ke Selat Sunda dan Laut Jawa

Ilustrasi: Awan hujan. (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Untuk mencegah banjir di Jakarta dan sekitarnya, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memulai operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) pada Jumat (3/1/2020).

Dalam operasi ini BPPT bekerja sama dengan BNPB, BPBD DKI Jakarta, dan BMKG, dengan menggunakan pesawat milik TNI-AU.

"Aplikasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) mulai dimanfaatkan dengan tujuan mengurangi intensitas curah hujan di wilayah Jakarta. Dengan demikian, diharapkan resiko terjadinya dampak banjir yang semakin meluas di DKI Jakarta dan sekitarnya dapat semakin ditekan," jelas Kepala BPPT Hammam Riza dalam keterangan resminya, Jumat (3/1/2020).

"Upaya ini dilakukan dengan menjatuhkan hujan di daerah-daerah yang aman seperti di Selat Sunda dan Laut Jawa," jelas Hammam.

"Untuk itu, radar cuaca menjadi tools utama untuk melakukan pengamatan near-realtime pertumbuhan awan di daerah target Jabodetabek," lanjutnya. 


Berita Terkait: Banjir Awal 2020, Pemerintah Dianggap Lalai Beri Peringatan Dini


BPPT Klaim Punya Teknologi Radar Cuaca

Kepala BPPT Hammam Riza menjelaskan operasi TMC akan dilakukan dengan bantuan teknologi radar cuaca bernama R-Rainbows, singkatan dari Radar-Rainfall Observation for Early Warning System.

"R-Rainbows adalah sistem observasi dan monitoring curah hujan menggunakan radar, untuk keperluan peringatan dini bencana banjir di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya," jelas dia lagi.

Menurut Hammam, teknologi R-Rainbows ini sudah dikembangkan BPPT sejak 2016.

Namun, hari Rabu kemarin (1/1/2020) nyatanya ada warga yang tidak mendapat peringatan banjir dari pemerintah, hingga ia tak sempat mengamankan harta bendanya.

"Iya, istilahnya yang ngasih tau tetangga, teriak 'banjir-banjir' gitu. Air itu sudah mengalir cepat masuk ke rumah, (informasi dari pemerintah) enggak ada," kata Yuli, warga Cipinang Melayu yang terdampak banjir, Kamis (2/1/2020).

"Semua enggak ada yang terselamatkan, (surat-surat) enggak sempet terselamatkan, yang penting nyawa sama baju di badan," kata Yuli.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Mengusung Pilkada yang Sehat dan Berkualitas