Temui Jokowi, GP Ansor Lapor Kelompok Radikal Mendompleng Peserta Pilpres

Kelompok radikal tersebut telah berkonsolidasi agar bisa menyusupkan agenda membentuk pemerintahan syariah lewat pasangan calon presiden yang diusung.

BERITA , NASIONAL

Jumat, 11 Jan 2019 13:40 WIB

Author

Dian Kurniati

Temui Jokowi, GP Ansor Lapor Kelompok Radikal Mendompleng Peserta Pilpres

Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Gerakan Pemuda (GP) Ansor menemukan adanya kelompok radikal yang mendompleng salah satu pasangan calon pada pemilihan presiden 2019. Temuan ini dilaporkan Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas kepada Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka Jakarta hari ini. 

Meski tak menyebut nama, Yaqut Cholil tak membantah saat disebutkan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Menurut Yaqut, kelompok radikal tersebut telah berkonsolidasi agar bisa menyusupkan agenda membentuk pemerintahan syariah lewat pasangan calon presiden yang diusung.

"Misalnya, berkonsolidir mereka itu. Di Jawa Barat, apalagi. Mereka bukan merusak Pemilu, tapi mereka menginduk pada salah satu kontestan Pemilu untuk masukkan agenda-agenda mereka. (Contoh agendanya?) Ya mendirikan negara Islam-lah, khilafah islamiah, atau minimal mereka dirikan NKRI bersyariat. (Pasangan Prabowo-Sandiaga?) Saya tidak mau sebut itu, tetapi faktanya ada. Bisa dirasakanlah. Saya kira kawan-kawan wartawan juga tahu," kata Yaqut di kompleks Istana Kepresidenan, Jumat (11/01/2019).

Baca juga: GP Ansor Siap Bela dan Lindungi Bocah Korban Persekusi

Yaqut mengatakan, pembicaraannya dengan Jokowi memang seputar isu-isu politik di Indonesia. Namun, ia membantah pertemuan tersebut untuk menyampaikan komitmen dukungan GP Ansor secara organisasi untuk Jokowi-Maruf Amin. 

Yaqut mengklaim GP Ansor tak akan mengarahkan dukungan untuk salah satu pasangan calon pada pilpres 2019. Meski begitu, ia menegaskan, GP Ansor akan memilih kandidat yang berlawanan dari pasangan calon yang diusung kelompok radikal. 

Menurutnya, sikap tersebut untuk melawan kelompok radikal, agar tak sampai mengubah ideologi negara. Alasannya, kelompok radikal itu ada di beberapa wilayah di Indonesia, misalnya Riau dan Jawa Barat. 

Editor: Sindu Dharmawan

 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.