Yap Thiam Hien untuk Perempuan yang Melawan Tambang

Aleta Baun gigih dan terbukti memperjuangkan hak warga di desanya, sehingga dua perusahaan tambang marmer pergi dari desanya.

BERITA | NASIONAL

Rabu, 25 Jan 2017 22:05 WIB

Author

Rio Tuasikal

Yap Thiam Hien untuk Perempuan yang Melawan Tambang

Foto: Rio Tuasikal

KBR, Jakarta - Penghargaan Yap Thiam Hien 2016 dianugerahkan kepada Aleta Baun, atas usahanya menolak pertambangan yang mengancam sumber air di Mollo, Nusa Tenggara Timur, selama 13 tahun.

Penghargaan ini diberikan kepada orang, kelompok, atau lembaga yang dianggap memperjuangkan penegakan HAM di Indonesia.

Ketua Dewan Juri 2016, Yosep Adi Prasetyo, menyatakan Aleta Baun gigih dan terbukti memperjuangkan hak warga di desanya, sehingga dua perusahaan tambang marmer pergi dari desanya.

"Dengan keteguhan hati dan keberaniannya membuat dirinya menjadi panutan dan pemimpin dari sebuah gerakan untuk menyelamatkan alam," ujarnya saat membacakan penganugerahan di Jakarta, Rabu (25/1/2017) malam.

"Menyelamatkan martabat manusia, menyelamatkan lingkungan dan hak asasi manusia, dari serbuan komersialisme industrialisasi, dari serbuan kerakusan dan ketamakan dunia usaha yang tidak peduli lingkungan," katanya lagi.

Yosep menjelaskan, Aleta Baun menggunakan pendekatan non-kekerasan selama berjuang. Aleta mengajak puluhan ibu untuk menenun di celah gunung batu yang akan ditambang. Aksi tersebut berlangsung selama setahun dan akhirnya PT Soe Indah Marmer dan PT Karya Asta Alam pergi dari Mollo.

Ketua Yayasan Yap Thiam Hien Todung Mulya Lubis menjelaskan Aleta Baun terbukti gigih melawan penindasan dari penguasa dan pengusaha, dikejar-kejar sampai ke hutan, dibacok dan diusir. Namun itu tidak membuat Aleta menyerah.

"Tak berlebihan jika saya katakan Aleta Baun adalah lambang perlawanan terhadap kekerasan dan penindasan di tanah kelahirannya," tandasnya.

Aleta Baun menceritakan tambang itu akan membongkar gunung batu Nausus yang dikeramatkan oleh warga. Dalam perjuangannya, posisinya sebagai perempuan menghalanginya karena secara adat dianggap tidak bisa jadi pemimpin.

"Tapi saya tak bisa tinggal diam. Saya memimpin perjuangan menolak tambang," ujarnya.

Ada banyak strategi yang dilakukan Aleta Baun, antara lain menghidupkan ritual adat, membuat tim intel kampung, konsolidasi demonstrasi, termasuk bekerjasama dengan LSM, gereja, mahasiswa, dan media.

"Tapi kemenangan itu tidak cukup. Tantangan berikutnya adalah bagaimana memulihkan alam yang rusak dan berpikir jauh ke depan untuk memilih ekonomi yang berkelanjutan.

Sejak 2 tahun lalu, Aleta Baun duduk sebagai anggota di DPRD NTT.

Penghargaan Yap Thiam Hien diberikan sejak 1992 dan sempat absen 2005-2007. Penghargaan ini dinamai atas tokoh pejuang HAM Yap Thiam Hiem yang wafat 1989. Penghargaan 2016 ini dilakukan pada Januari 2017 karena alasan teknis.

Editor: Sasmito

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Belgia Kewalahan Hadapi Gelombang Pandemi

Penerimaan Masyarakat terhadap Vaksin Covid-19 Masih Rendah

Ronde 6 - Petani Tembakau

Kabar Baru Jam 8