Bagikan:

Rawit Merah Melambung, Jokowi: Beli Cabai Merah atau Hijau

"Kita ini belinya tidak usah beli cabai rawit, beli cabai yang hijau dan merah juga pedasnya sama saja,"

BERITA | NASIONAL

Senin, 09 Jan 2017 21:47 WIB

Author

Yudi Rachman

Rawit Merah Melambung, Jokowi: Beli Cabai Merah atau Hijau

Buruh memilah cabai rawit merah di lapak pedagang agen Cabai, Pasar Induk Cibitung, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (7/1). (Foto: Antara)


KBR, Jakarta- Presiden Joko Widodo memastikan kenaikan harga cabai karena stok di petani terbatas. Joko Widodo mengatakan, cuaca selama dua tahun terakhir tidak baik untuk komoditas cabai.

Kata dia, banyak cabai petani yang busuk sehingga tidak bisa dipanen. Hal itu mengurangi stok cabai di pasaran.

"Yang namanya harga tergantung suplay dan demand. Karena musiman, yang pertama. Kedua  juga musimnya pada 2016 juga jelek untuk cabai sehingga banyak yang busuk dan ada yang gagal panen sehingga suplainya kurang. Fluktuatif dalam harga itukan biasa. (Upaya dari pemerintah sendiri?) Tidaklah, kita ini belinya tidak usah beli cabai rawit, beli cabai yang hijau dan merah juga pedasnya sama saja," jelas Presiden Joko Widodo di Pekalongan, Senin (9/1/17).

Presiden Joko Widodo menambahkan, dari hasil turun ke Pasar Induk Kajeng Pekalongan, harga cabai rawit merah Rp 100 ribu per kilogram, Cabai Merah Rp 50 per kilogram. Kata dia, pemerintah terus memantau fluktuatif harga. Selain itu, melalui Kementerian Pertanian, pemerintah juga sudah membagikan bibit cabai agar suplai meningkat sehingga harga turun.

"Mentan sudah bagi bibit-bibit cabai, tergantung suplai banyak harga turun, rumusnya hanya itu. Kalau pertaniannya gagal dan busuk ya pasti suplainya kurang," ujarnya.

Cuaca Buruk

Kementerian Perdagangan memastikan kenaikan harga cabai rawit merah di beberapa daerah karena menurunnya produksi petani. Hal itu diakibatkan cuaca buruk di beberapa sentra cabai. Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Oke Nurwan mengatakan, petani mengambil untung dengan melakukan penjualan melebihi harga normal untuk mengurangi kerugian karena menurunnya produksi akibat cuaca buruk.

"Ya pada prinsipnya, memang kenaikan harga ini diakibatkan provitas (produktifitas pertanian) menurun sehingga petani yang menanam dengan modal sekian harus mengkompensasi terhadap panen yang dihasilkan. Kalau harusnya 6 ton dalam satu hektare, sekarang dihasilkan 2 atau 2.5 ton, maka dikompensasi dijualnya senilai 6 ton, makanya naik jadi 2 kali lipat," jelas Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Oke Nurwan kepada KBR, Senin (9/1/2017).

Oke menambahkan, untuk menstabilkan harga Kemendag bersama dengan PPI dan Bulog berkejaran untuk memenuhi stok di beberapa daerah yang mengalami peningkatan harga, seperti di Kalimantan dan Jawa Barat.

"Kita ini kejar-kejaran, sekarang pindah dari Gorontalo Manado hujan sehingga tidak ada panen, sehingga lari lagi. Kementan informasikan ada di Magelang, kita lari ke Magelang untuk ambil cabai. Jadi di daerah-daerah yang tidak terganggu panennya, sekarang kebanyakan provitasnya menurun 57%. Kita masih mengutamakan produk dalam negeri, kita tutup pintu impor," jelasnya.

Oke meminta masyarakat bisa menanam tanaman pangan di halaman rumah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Karena, berdasarkan koordinasi dengan BMKG, cuaca dengan curah hujan tinggi akan berlangsung hingga Februari. Sehingga, masalah komoditas yang rentan terhadap cuaca akan terus terjadi hingga cuaca membaik.

"Sampai kapannya itu, siapa yang bisa kendalikan cuaca, dari BMKG basahnya ini diperkirakan sampai bulan Februari," jelasnya.

Editor: Rony Sitanggang
 

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 7

Tergoda Perpanjangan Masa Jabatan Kepala Desa

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11

Most Popular / Trending