Narkoba, Pilot dan Kecelakaan Penerbangan

Kepala BNN Budi Waseso mengatakan sebagian besar kecelakaan atau insiden penerbangan di Indoneia melibatkan pilot yang terpengaruh narkoba.

BERITA | NASIONAL

Sabtu, 14 Jan 2017 11:00 WIB

Author

Agus Lukman, Muh Ridlo Susanto

Narkoba, Pilot dan Kecelakaan Penerbangan

Ilustrasi kokpit pesawat. (Foto: RAF-YYC/Flickr/Creative Commons)


KBR, Jakarta - Insiden kemarahan calon penumpang pesawat Citilink jurusan Surabaya menuju Jakarta pada Rabu (28/12/2016) lalu menjadi perhatian banyak pihak. Para penumpang meminta Kapten Tekad Purnama yang hendak memandu pesawat itu diganti karena ada indikasi mabuk atau tidak sehat. Mereka tidak mau keselamatannya terancam.

Baca: Kesaksian Penumpang Citilink: Curiga Pilot Mabuk, Kami Minta Ganti!   

Insiden itu membuat Direktur Utama Citilink Albert Burhan mengundurkan diri.

Protes para calon penumpang pesawat Citilink itu mendapat penguatan dari Badan Narkotika Nasional (BNN). Kepala BNN Budi Waseso mengatakan sebagian besar kecelakaan atau insiden penerbangan di Indoneia melibatkan pilot yang terpengaruh narkoba. Kecelakaan itu termasuk peristiwa pesawat Lion Air yang tergelincir masuk laut saat hendak mendarat di Bali pada April 2013 lalu.

"Hampir semua kecelakaan udara di Indonesia, apakah itu selip atau apa, pilotnya terindikasi positif narkoba," kata Budi Waseso pekan ini.

Menurut Budi Waseso, pilot Lion Air itu berhalusinasi seolah-olah laut itu merupakan landasan untuk mendarat pesawat. Ia mengatakan setiap ada kecelakaan atau insiden pesawat, BNN selalu memeriksa pilot pesawat tersebut secara lengkap, mulai dari urin, darah hingga rambut.

Kasus Susi Air

Sebelumnya, Rabu (11/1/2017) lalu Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Cilacap juga memastikan dua orang pilot maskapai Susi Air positif menggunakan morfin.

Kepala BNN Kabupaten Cilacap, Edy Santosa mengatakan BNN melakukan tes urine terhadap seluruh awak pesawat yang baru mendarat, pekerja bandara dan siswa penerbangan di Bandara Tunggul Wulung Cilacap. Dari 44 orang yang diperiksa, dua pilot Susi Air, berinisal DE dan BH positif mengandung morfin. Pilot berinisial BH sebelumnya sempat menolak diperiksa urinnya.

Soal penggunaan morfin oleh pilot ini, Edy mengaku masih dalam pengembangan. Hasil koordinasi dengan manajemen Susi Air Pusat, kedua pilot dilarang menerbangkan pesawat. Keduanya saat ini sudah diterbangkan ke Jakarta untuk menjalani pemeriksaan kesehatan oleh Tim Dokter Maskapai Susi Air.

"Saya sudah berkoordinasi dengan manajemen (Susi Air), yang bersangkutan dua orang ini dibawa ke Jakarta. Untuk mengetahui, akan dicek ulang di Laboratorium Jakarta. Untuk kepastian. Karena alat kami kan terbatas pada cek urine saja. Jadi akan dikonfirmasi ulang. Cuma tadi disini kami jumpai dua orang, kan, yang keduanya mangandung zat morfin. Nanti apakah dia sedang mengkonsumi obat itu kan kita tidak tahu," kata Edy Santosa, Rabu (11/1/2017).

Tes urine yang dilakukan BNN Kabupaten Cilacap terhadap pilot maupun pekerja Bandara Tunggul Wulung itu dilakukan pasca kasus pilot Citilink beberapa waktu lalu.

Data FAA

Investigasi dari media FoxNews mengulas data dari otoritas penerbangan Amerika Serikat FAA yang menyebut banyak awak pesawat termasuk yang di kokpit yang ternyata sedang 'fly' atau dalam pengaruh narkoba atau minuman beralkohol usai mendarat.

Salah satu kasus yang diungkap FoxNews adalah kasus pilot maskapai Alaska Airlines yang menerbangkan pesawat komersial dari California menuju Oregon dan arah sebaliknya, ternyata mabuk.

Para ahli di Amerika sebetulnya menyebutkan bepergian menggunakan pesawat di Amerika Serikat sangat aman, karena ketatnya pemeriksaan terhadap awak pesawat mulai dari pilot hingga mekanik dan pengatur lalu lintas udara (Air Traffic Control/ATC).

Berdasarkan aturan FAA, pilot tidak boleh mengonsumsi alkohol delapan jam sebelum terbang, atau memiliki kadar alkohol mencapai 0,4 persen dalam darah.

Selama 2010 hingga 2015, FAA mencatat ada 64 piot yang melanggar larangan alkohol dan narkoba. Sepanjang 2015, ada sekitar 1,500 personel yang bertanggung jawab atas keamanan penerbangan---termasuk 38 pilot, positif narkoba.

Selama 2015, FAA melakukan lebih dari seribu penyelidikan terhadap pilot. Sebanyak 38 lisensi pilot dicabut dan 46 lisensi lainnya dibekukan. Data ini menunjukkan FAA sedang memberi pesan kepada para pilot untuk tidak main-main dengan pelanggaran aturan bebas alkohol dan narkoba.

Pada 2014 lalu, CNN mendapat dokumen yang menyebutkan sekitar 40 persen pilot yang tewas dalam kecelakaan pesawat nonkomersial dalam beberapa tahun terakhir terindikasi dalam pengaruh narkoba atau obat-obatan. Data itu menganalisa sekitar 6,677 pilot yang tewas antara 1990 hingga 2012.

CNN memberitakan obat-obatan yang paling banyak disebut dalam dokumen itu adalah antihistamin, yang bisa menyebabkan pilot mengantuk dan gangguan jantung.

Selain antihistamin, obat-obatan yang terdeteksi pada pilot-pilot itu adalah obat penyakit jantung, obat antidepresi, hingga obat terlarang seperti mariyuana atau ganja.

Namun, yang paling mengkhawatirkan ada sekitar 4 persen dari pilot yang tewas itu terpengaruh obat-obatan terlarang atau narkoba. Meskipun jumlahnya sedikit.

Data CNN itu juga memberitakan sekitar 40 persen insiden penerbangan fatal pada 2011 disebabkan karena positif obat-obatan, baik obat beresep atau obat terlarang. Angka itu meningkat dari 10 persen pada tahun 1990. (RID/FAA/FoxNews/CNN) 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Rencana Pembentukan Komponen Cadangan Militer Tuai Polemik