KBRI Damaskus: Masih Banyak TKI Terjebak di Aleppo

Meskipun pemerintah Indonesia sudah menghentikan pengiriman pekerja ke Suriah, namun ternyata pengiriman TKI masih terus terjadi hingga kini.

BERITA | NASIONAL

Senin, 02 Jan 2017 11:33 WIB

Author

Agus Lukman

KBRI Damaskus: Masih Banyak TKI Terjebak di Aleppo

Kondisi masjid Umayyad di wilayah Aleppo yang kini dikuasai tentara pemerintah Suriah, Selasa (13/12/2016). (Foto: ANTARA/Reuters)


KBR, Jakarta - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Damaskus di Suriah menyebutkan masih banyak warga Indonesia yang terjebak di Kota Aleppo.

Sebagian besar dari mereka adalah buruh migran atau tenaga kerja Indonesia (TKI). Beberapa TKI diantaranya kini ditampung di shelter Kantor Cabang Konsuler KBRI di Aleppo.

Pejabat Protokol Konsuler, sekaligus Pejabat Penerangan Sosial Budaya KBRI Damaskus, AM Sidqi mengatakan meskipun pemerintah Indonesia sudah menghentikan pengiriman pekerja ke Suriah, namun ternyata pengiriman TKI masih terus terjadi hingga kini.

"Sekarang di shelter cabang konsuler di Aleppo ada enam TKI. Sementara untuk yang ada di wilayah Aleppo yang luas itu kami tidak bisa pastikan jumlahnya," kata AM Sidqi kepada KBR, beberapa hari lalu.

AM Sidqi mengatakan Indonesia saat ini merupakan satu-satunya negara di dunia yang masih membuka kantor perwakilan di Aleppo. Keberadaan kantor perwakilan konsuler itu untuk misi perlindungan WNI.

Warga Indonesia yang berada di Aleppo kesulitan untuk keluar dari Aleppo, karena bergantung situasi keamanan. Jika kondisi keamanan terganggu karena konflik, jalur transportasi dari Aleppo menuju Damascus ditutup.

"Kalau TKI itu mau keluar dari Suriah, itu tidak semudah warga Indonesia yang lain. Karena terikat kontrak, terikat masa kerja, ada exit permit dari majikan, gaji harus terpenuhi dan lain-lain. Harus selesai dulu urusan disini," kata AM Sidqi.

KBRI Suriah di Damaskus menyatakan semestinya pengiriman TKI ke Suriah sudah dihentikan sejak adanya moratorium pengiriman TKI ke Timur Tengah pada 2011 lalu dan penghentian permanen pengiriman TKI pada 2015. Lagi pula, pemerintah Indonesia sudah melakukan proses repatriasi (pemulangan TKI) ke Indonesia.

"Berdasarkan data resmi, seharusnya sudah selesai repatriasi dari Suriah. Artinya harusnya sudah tidak ada lagi TKI di Suriah. Namun, TKI masih terus dikirim masuk ke Suriah, meski itu di tengah konflik. Ini jadi masalah bagi kami. Mereka kami identifikasikan sebagai korban perdagangan manusia atau Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO)," lanjut Sidqi.

Baca juga:


KBRI kesulitan mendata jumlah seluruh TKI yang masih ada di Suriah, baik di Damaskus, Aleppo, Latakia maupun Homs---empat kota yang merupakan kantong-kantong warga Indonesia di Suriah.

"Kalau mereka (TKI) resmi, kami mendapat kewenangan untuk mengeluarkan endorsement perjanjian kerja atau kontrak. Tapi sekarang ini, mereka tanpa melalui notifikasi dari KBRI, para sindikat TPPO itu langsung mengirim TKI masuk Suriah," kata Sidqi.

Para TKI yang masuk Suriah itu mendapat visa resmi tenaga kerja dari pemerintah Suriah. "Jadi mereka resmi menurut pemerintah Suriah, tapi menurut pemerintah Indonesia, mereka ini korban human trafficking," kata Sidqi.

AM Sidqi mengatakan berdasarkan informasi yang diterima KBRI Damaskus dari Kementerian Imigrasi Suriah, jumlah TKI yang masuk Suriah hingga kini mencapai 2,500 orang dan jumlah itu diperkirakan terus bertambah.

Baca juga:

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran Terorisme