Bagikan:

Harga Cabai Meroket, APPSI Minta Pemerintah Atasi Pasokan

Kenaikan harga cabai jenis rawit pada tahun ini lebih parah dari tahun sebelumnya.

BERITA | NASIONAL

Minggu, 08 Jan 2017 19:25 WIB

Harga Cabai Meroket, APPSI Minta Pemerintah Atasi Pasokan

Foto: kementan.go.id

KBR, Jakarta- Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia (APPSI) meminta pemerintah cepat mengantisipasi lonjakan harga cabai. Sekjen APPSI Ngadiran, kenaikan harga cabai jenis rawit pada tahun ini lebih parah dari tahun sebelumnya.

"Ya memang kondisinya kalau di harga tidak menentu, ada yang sudah lebih 100 ribu, khusus yang rawit.Kalau cabai merah masih Rp 45-50 ribu perkilogram. Sebenarnya sudah sering terjadi, tetapi cerita untuk harganya tinggi untuk jenis produk itu kali ini terlalu tinggi," jelas Sekjen APPSI Ngadiran kepada KBR, Minggu (8/1/2016).

Ngadiran menambahkan, kenaikan harga cabai rawit ini menyebabkan pedagang kesulitan untuk menyediakan stok bagi masyarakat. Kata dia, pedagang mengurangi pembelian stoknya karena harganya tidak terjangkau.

"Pedagang membatasi pembelian stok, kalau biasanya beli 10 kilogram sekarang beli 5 kilogram saja, uangnya sudah tidak cukup lagi. Jualnya susah, pembeli juga mau beli juga mikir, kalau dulu orang mau beli 2 ribu bisa, sekarang dapat berapa," ujarnya.

Ngadiran juga meminta pemerintah tidak menjadikan masalah cuaca dan musim sebagai dasar pembenaran terkait kenaikan harga cabai. Menurutnya, kenaikan harga cabai karena stok yang terbatas.

"Kalau menyalahkan cuaca, sekarang kan ada metode baru, modifikasi pertanian. Ada payung di atasnya, dengan teknologi yang modern ini sekarang bisa kok saya lihat. Sekarang saya tanya anggaran di Kementerian Pertanian itu berapa triliun, larinya ke mana. Kita juga banyak ahli pertanian," katanya.

Baca: Kemendag Tugaskan BUMN Turunkan Harga Cabai

Editor: Sasmito

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Catatan untuk TNI

Most Popular / Trending