Geolog Sebut Kawasan CAT di Rembang Bisa Ditambang, Apa Alasannya?

Agus menjelaskan batuan kapur yang berada di dua daerah itu (Tambakromo dan Sukolilo) lebih murni dibandingkan batu kapur yang ada di Rembang.

BERITA | NASIONAL

Kamis, 19 Jan 2017 09:48 WIB

Author

Eli Kamilah

Geolog Sebut Kawasan CAT di Rembang Bisa Ditambang, Apa Alasannya?

Kawasan pegunungan karst di Rembang, Jawa Tengah, 3 Desember 2015. (Foto: AW)


KBR, Jakarta - Ahli geologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Agus Hendratno menyebut daerah Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih di Rembang Jawa Tengah bisa dijadikan lokasi pertambangan.

Hal itu terkait polemik boleh tidaknya kawasan pegunungan kapur Kendeng Utara, Rembang Jawa Tengah dijadikan lokasi pertambangan pabrik semen PT Semen Indonesia.

Agus yang turut menjadi pendamping tim penyusun Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) mengatakan sensitivitas lingkungan di kawasan CAT Watuputih cenderung lebih rendah dibandingkan kawasan di Kecamatan Tambakromo, dan Sukolilo, Pati, Jawa Tengah.

Agus menjelaskan batuan kapur yang berada di dua daerah itu (Tambakromo dan Sukolilo) lebih murni dibandingkan batu kapur yang ada di Rembang. Semakin murni batuan kapur, maka semakin besar daya serapnya terhadap air.

Agus mengatakan jika ada penambangan di Watuputih, mitigasi atau penanggulangan kerusakan yang dilakukan pun lebih mudah.

"Sensitifitas lingkungan dan terkait dengan keberlangsungan bumi, air dan keberlanjutannya. Biasanya kualitas dan kuantitas air yang keluar dari daerah kapur akan berlimpang ruah sangat bagus jika batu gambungnya murni mendekati 100 persen, seperti di Gombong, Sukolilo dan Tambakromo. Pokoknya yang masuk wilayah Pati," kata Agus kepada KBR, Selasa (17/1/2017).

Baca juga:


Agus Hendratno menambahkan, tim penyusun KLHS juga perlu memperhitungkan kajian dan data berseri Pegunungan Kendeng sejak tahun 1980-an. Hal itu untuk mengetahui  perubahan-perubahan dan kerusakan apa yang terjadi selama 30 tahun terakhir.

"Untuk menjawab itu (ketahanan CAT jika ada penambangan, Red), barang datanya tidak di depan saya. Pemerintah pasti punya data series. Tim ini harus mencari data series dari 1980 hingga 2016. Data ini akan menjadi data tolok ukur terjadinya dinamika ekosistem yang terkait mata air, apakah ini karena penambangan atau perubahan iklim atau ada perubahan iklim karena penambangan," ungkapnya

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Waspada Beragam Modus Perdagangan Orang

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12