Diperpanjang, Operasi Perburuan Anak Buah Santoso Paling Sadis di Poso

Operasi Tinombala diperpanjang untuk mengejar sisa-sisa anak buah kelompok teroris Santoso yang diperkirakan masih ada sekitar 10 orang.

BERITA , NASIONAL

Rabu, 04 Jan 2017 15:02 WIB

Author

Ninik Yuniati

Diperpanjang, Operasi Perburuan Anak Buah Santoso Paling Sadis di Poso

Razia Satgas Tinombala di Poso untuk mempersempit ruang gerak kelompok Santoso. (Foto: lantas.polri.go.id)


KBR, Jakarta - Kepolisian memperpanjang operasi perburuan teroris di Poso, Sulawesi Tengah, yang diberi nama Operasi Tinombala hingga April 2017.

Operasi Tinombala dilakukan pasukan gabungan Satuan Tugas (Satgas) Tinombala yang terdiri dari personel Polri dan TNI.

Kapolri Tito Karnavian mengatakan Operasi Tinombala diperpanjang untuk mengejar sisa-sisa anak buah kelompok teroris Santoso yang diperkirakan masih ada sekitar 10 orang.

Tito Karnavian mengatakan anak buah Santoso yang paling diburu adalah Ali Kalora dan Barok.

"Akan berlanjut sampai dengan bulan April, nanti akan dievaluasi jumlahnya (personil). Tapi yang jelas di sana lebih kurang tinggal 10 orang. Ali Kalora cs, Barok. Yang sadis itu Barok, yang ada orang tua dipotong lehernya itu, kita akan kejar dia," kata Tito di Mabes Polri, Rabu (4/1/2017).

Bekas Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyaad Mbay mengatakan Ali Kalora dan Basri (sudah ditangkap) merupakan anak buah Santoso yang paling sadis.

"Ali Kalora dan Basri, ini orang-orang yang pernah melakukan mutilasi kepada tiga siswi SMK di Poso di 2005-2006," kata Ansyaad Mbai kepada KBR, Selasa (19/7/2016).  

Operasi Satgas Tinombala tahun ini berhasil menewaskan Santoso, pemimpin kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Santoso alias Abu Wardah tewas dalam baku tembak kelompok itu dengan Satgas Tinombala, di Pegunungan Poso, Sulawesi Tengah, pada 19 Juli 2016. Salah satu tangan kanan Santoso yaitu Muktar alias Kahar juga tewas dalam bentrok senjata itu.

Baca juga:


Pasca tewasnya Santoso, kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) kian tersedut. Satu demi satu anggotanya dilumpuhkan, baik tewas dalam bentrokan atau ditangkap. Apalagi Satgas juga mengisolasi kelompok Santoso dari mendapatkan pasokan logistik dari warga.

Ali Kalora merupakan anak buah Santoso yang paling diburu dan menjadi target pengejaran Satgas Tinombala. Ia berkali-kali lolos dalam penyergapan pasukan gabungan TNI-Polri. Saat ini Ali Kalora menjadi tokoh utama pengganti Santoso di kelompok MIT.

Satgas juga telah menangkap sejumlah orang penting lain di kelompok Santoso. Diantaranya istri Santoso, Jumiatin alias Umi Delima yang sedang turun kampung mencari pasokan makanan. Begitu juga Basri, orang kepercayaan bahkan sempat menjadi calon pengganti Santoso di kelompok MIT.

Baca juga:


Operasi Tinombala  dimulai Januari 2016 lalu. Operasi ini merupakan operasi gabungan TNI dan Polri untuk mengejar kelompok teroris MIT dan jaringannya. Kelompok ini telah mendeklarasikan diri sebagai pendukung kelompok ISIS di Suriah. Sebelum ada Operasi Tinombala, perburuan Santoso dilaksakan melalui operasi Camar Maleo.

Baca: Istana Berharap Operasi Tinombala Bisa Segera Diakhiri

Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Aparat Dinilai Tak Tegas Usut Pelaku Rasisme terhadap Mahasiswa Papua

Kabar Baru Jam 15