Menteri Jonan Bantah Cina Minta Jaminan Proyek Kereta Cepat

Biaya megaproyek kereta cepat Jakarta-Bandung mencapai lebih Rp 70 triliun. 75 persen biaya diperoleh dari pinjaman pemerintah Cina ke KCIC

BERITA | NASIONAL

Kamis, 28 Jan 2016 19:13 WIB

Author

Dian Kurniati

Menteri Jonan Bantah Cina Minta Jaminan Proyek Kereta Cepat

Ilustrasi. Kereta cepat. Foto: Setkab.go.id

KBR, Jakarta– Menteri Perhubungan Ignasius Jonan membantah kabar PT. Kereta Cepat Indonesia Cina meminta jaminan proyek pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung pada pemerintah Indonesia. Jonan hanya menjawab singkat saat dikonfirmasi kabar permintaan jaminan tersebut.

“Enggak, enggak. Enggak minta,” jawab Jonan di Kantor Kementerian Bidang Ekonomi, Kamis (28/01/16).

Sebelumnya, PT. Kereta Cepat Indonesia Cina dikabarkan meminta pemerintah menjamin proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. PT. Kereta Cepat Indonesia Cina ingin pemerintah Indonesia turut menanggung kerugian apabila proyek tersebut gagal dibangun atau dioperasikan. 

Saat mencanangkan megaproyek kereta cepat Jakarta-Bandung di Cikalong Wetan, Bandung Barat, pekan lalu, Presiden Joko Widodo menjamin tidak ada duit dan jaminan negara di megaproyek itu. Megaproyek itu murni kerja sama bisnis BUMN Indonesia dengan BUMN Cina. Presiden Jusuf Kalla juga ikut berkomentar soal ini. Menurutnya, pemerintah tidak perlu memberikan jaminan karena proyek ini adalah kerjasama B to B (business to business). 

Biaya megaproyek kereta cepat Jakarta-Bandung mencapai lebih Rp 70 triliun. 75 persen biaya diperoleh dari pinjaman pemerintah Cina ke KCIC. Konsorsium badan usaha milik negara—PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, PT Kereta Api Indonesia (Persero), dan PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero)—menguasai 60 persen saham di KCIC sehingga mereka menanggung 60 persen utang atau US$ 2,5 miliar. 

Editor: Malika

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Upaya Kurangi Risiko Bencana Iklim

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Perkara Bukber Tahun ini

Kabar Baru Jam 10