covid-19

Kemendag Pastikan Stok Minyak Goreng Aman saat Libur Nataru

"Khusus untuk Natal dan Tahun Baru, produsen sudah menyiapkan minyak goreng dengan kemasan sederhana dengan harga Rp14.000 yang akan didistribusikan melalui ritel"

BERITA | NASIONAL | KABAR BISNIS

Rabu, 24 Nov 2021 17:02 WIB

Ilustrasi: Minyak goreng kemasan di pasaran. (Foto: Antara)

Ilustrasi: Minyak goreng kemasan di pasaran. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta - Pemerintah memastikan ketersedian stok minyak goreng dalam negeri aman untuk memenuhi konsumsi masyarakat saat Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Oke Nurwan mengatakan, pemerintah bekerja sama dengan produsen dan menggandeng ritel modern untuk menyediakan minyak goreng kemasan sederhana dengan harga terjangkau.

Untuk persediaan Nataru, harga minyak goreng dipatok Rp14.000 perkilogram. Stok minyak goreng sebanyak 11 juta liter akan disebar ke 45 ribu gerai secara nasional, dan tidak menutup kemungkinan akan ada penambahan stok.

Baca Juga:

"Pemerintah sampai saat ini sudah berbicara dengan produsen. bahkan produsen pun sudah memberikan perhatian khusus untuk ini. Khusus untuk Natal dan Tahun Baru, produsen sudah menyiapkan minyak goreng dengan kemasan sederhana dengan harga Rp14.000 yang akan didistribusikan melalui ritel. Dan mereka sudah bekerja sama dengan 45 ribu ritel modern," kata Oke Nurwan dalam acara Pemulihan di Atas Fundamental Rapuh oleh Indef, Rabu (24/11/2021).

Saat ini, stok minyak goreng untuk kebutuhan domestik mencapai 628 ribu ton. Angka ini, kata Nurwan, cukup untuk memenuhi konsumsi masyarakat selama satu setengah bulan ke depan.

Larangan Peredaran Minyak Curah 

Selain ketersediaan stok, per 1 Januari 2022 pemerintah akan melarang peredaran minyak goreng curah dan mewajibkan peredaran minyak goreng kemasan. Upaya ini dilakukan untuk mengendalikan harga minyak goreng di tingkat konsumen. 

Oke Nurwan beralasan, selama ini harga dari minyak goreng curah sangat tergantung dari harga market CPO. Berbeda dengan minyak goreng kemasan yang dapat disimpan dalam jangka panjang, sehingga harganya relatif lebih terkendali.  

"Dan untuk ini pemerintah juga mengantisipasi dengan mewajibkan peredaran minyak goreng kemasan. Tidak diizinkan lagi mulai 01 Januari 2022 minyak goreng diedarkan dalam keadaan curah. Ini tinggal dua negara yang masih mengedarkan minyak goreng curah. Sepengetahuan saya, yaitu Bangladesh dan Indonesia," katanya.

Menurut Oke, kenaikan harga minyak goreng bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga secara global. Kondisi ini disebabkan pasokan dan bahan baku untuk minyak nabati dunia mengalami penurunan.

Penurunan produksi crude palm oil (CPO) dari Malaysia berkisar 8 persen. Di samping itu, Kanada sebagai pemasok minyak nabati canola oil juga mengalami penurunan sebesar 6 persen. Belum lagi terjadi krisis energi di beberapa negara seperti India, Eropa, dan Cina.

Oke mengatakan, di Indonesia kemungkinan produksi CPO diprediksi akan turun dari target sebesar 49 juta ton menjadi 47 juta ton. Khusus di Indonesia, produsen minyak goreng dengan CPO merupakan entitas yang berbeda, meski ada sebagian kecil perusahaan minyak goreng dan CPO yang terintegrasi. Oleh karena itu, produsen minyak goreng dalam negeri sangat tergantung dari harga CPO. 

Editor: Agus Luqman


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - KABAR BISNIS

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Toilet Sehat untuk Semua, Sudahkah Terpenuhi?