[Advertorial] Feminist Festival 2019: Diskusi Feminisme dalam Konteks Lokal

Dengan mengusung tema Feminis Buatan Indonesia, FemFest 2019 ingin melibatkan kalangan muda-mudi untuk mendorong narasi bahwa feminisme sudah dan akan tetap menjadi bagian dari budaya Indonesia

KABAR BISNIS

Jumat, 22 Nov 2019 19:44 WIB

Author

Paul M Nuh

[Advertorial] Feminist Festival 2019: Diskusi Feminisme dalam Konteks Lokal

Feminist Festival, atau yang biasa disebut FemFest, akan kembali diadakan akhir minggu ini. Femfest merupakan sebuah festival dwitahunan bertemakan feminisme dan kesetaraan yang diadakan selama dua hari, untuk tahun ini diadakan pada 23 dan 24 November 2019.Dengan mengusung tema Feminis Buatan Indonesia, Perkumpulan Lintas Feminis Jakarta sebagai penyelenggara FemFest 2019 ingin melibatkan kalangan muda-mudi untuk mendorong narasi bahwa feminisme sudah dan akan tetap menjadi bagian dari budaya Indonesia. 

Dalam acara ini, peserta akan dapat memilih dari lebih dari dua puluh sesi diskusi, lokakarya dan pleno. Setiap harinya, acara akan dibuka dengan sebuah sesi diskusi pleno mengenai gambaran besar tentang gerakan feminisme di Asia Tenggara dan kebijakan-kebijakan hukum yang menjadi salah satu fokus gerakan feminisme di Indonesia.

Selain itu, akan ada juga sesi-sesi diskusi dan lokakarya yang mencakup beragam topik mengenai feminisme pada padanan konteks lokal, antara lain diskusi perempuan dan budaya, identitas dan feminisme interseksional, dan lokakarya Bystander Intervention. Tahun ini, panitia kembali membawakan sesi-sesi yang populer pada FemFest 2017 seperti diskusi Feminisme dan Agama dan Identitas Gender.

FemFest 2019 akan diisi oleh lebih dari tujuh puluh pengisi acara, mulai dari pembicara hingga para seniman yang akan membawakan hiburan di setiap malam. Sejumlah pembicara yang mewakili puluhan organisasi yang telah lama berpengalaman di bidang mereka masing-masing akan membantu membawakan sesi pada rangkaian diskusi. 


Devi Anggraini, selaku ketua umum Perempuan AMAN, akan membahas tentang perempuan dan krisis iklim. Kalis Mardiasih, pengarang buku Muslimah yang Diperdebatkan dari Jaringan Gusdurian, akan berbicara tentang feminisme dan agama. Sementara itu, ada Dian Septi, selaku Sekjen dari Federasi Buruh Lintas Pabrik, yang akan membahas mengenai hak pekerja. Dan, figur lain yang akan menjadi pembicara, antara lain Anis Hidayah, Hannah Al-Rashid, Nur Hidayat, Tara Basro, Bhagavad Sambadha, Maryam Lee, hingga Silvia Halim.

Selama dua hari berjalan, acara akan selalu ditutup dengan penampilan dari sejumlah seniman. Misal, penampilan tari bellydance dari Christine Yaven hingga pertunjukan komedi dari Sakdiyah Ma’ruf. Dua seniman tersebut merupakan hiburan penutup yang dapat disaksikan usai rangkaian agenda FemFest 2019 berlangsung.

Peserta juga akan dapat mengunjungi bazar komunitas serta garage sale yang akan digelar selama dua hari FemFest 2019 berlangsung di Wisma PKBI Kebayoran Baru, Jakarta. Kehadiran bazar ini juga turut diisi oleh berbagai booth dari berbagai mitra Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang hadir, yakni Rumah Faye, Yayasan PLAN International Indonesia, Yayasan IPAS, Indorelawan, Walhi, dan Amnesty International Indonesia.

Tiket FemFest 2019 bisa didapatkan melalui tautan bit.ly/TiketFemFest2019. Ada beberapa kategori tiket yang dijual, mulai dari Paspor Cepat Sabtu atau Minggu seharga Rp 80.000, yang akan memberikan akses ke seluruh sesi di ruang Aula dan bazaar komunitas, hingga Paspor Lengkap Dua Hari seharga Rp 150.000, yang akan memberi peserta akses ke seluruh sesi di acara FemFest 2019. Penyelenggara FemFest 2019 juga menawarkan potongan harga tiket sampai dengan 25% khusus untuk peserta yang membeli empat tiket sekaligus. Selain itu, ada juga tiket subsidi donasi yang bisa dibeli untuk membayarkan tiket masuk peminat acara yang tidak mampu untuk membeli tiket.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Bekas Napi Koruptor Harus Jeda Lima Tahun Sebelum Maju di Pilkada