Bagikan:

ADVERTORIAL

Terapi Pencegahan Tuberkulosis bagi Kontak Erat Pasien TBC

ILTB dan pemberian TPT adalah kunci sukses untuk dapat eliminasi TBC.

RAGAM

Selasa, 13 Sep 2022 14:18 WIB

Terapi Pencegahan Tuberkulosis bagi Kontak Erat Pasien TBC

Diskusi Publik bertajuk “Tanpa Tuberkulosis, Anak dan Keluarga Sehat, Indonesia Kuat!” di Sekretariat Daerah Kab. Sleman, DIY pada Jumat, 2 September 2022

KBR, Jakarta - Indonesia adalah negara urutan ketiga tertinggi kasus tuberculosa (TBC) berdasarkan data GTR 2021. Sayangnya tidak semua penderita mengalami gejala, atau biasa disebut kondisi Infeksi Laten TBC (ILTB). Kondisi inilah yang sedang diupayakan pemerintah dengan diobati melalui Terapi Pencegahan Tuberkulosa (TPT) kepada kontak serumah dan kontak erat yang berisiko tinggi terkena TBC.

Cakupan TPT pada semester pertama tahun 2022 masih rendah, 3.420 orang sehingga dibutuhkan penguatan kolaborasi dan usaha lebih masif. Beberapa kendala rendahnya cakupan TPT, antara lain;

  1. masih rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat mengenai ILTB dan TPT, termasuk keamanan pemberian TPT;
  2. sehingga masih terjadi penolakan yang datang dari orang tua/wali/keluarga anak dengan faktor risiko TBC yang kontak erat atau tinggal serumah dengan pasien TBC serta
  3. pemahaman pada tenaga kesehatan yang masih bervariasi terhadap perlu atau tidaknya Pemberian TPT, serta
  4. ketersediaan dan jaminan keberlanjutan logistik TPT di fasilitas kesehatan.

Dalam sebuah diskusi publik bertajuk “Tanpa Tuberkulosis, Anak dan Keluarga Sehat, Indonesia Kuat!” di Sekretariat Daerah Kab. Sleman, DIY pada Jumat, 2 September 2022 lalu, Country Officer WHO Indonesia, dr. Setiawan Jati Laksono, menyatakan, TPT diperlukan karena mayoritas orang yang terinfeksi TBC tidak memiliki gejala atau tanda TBC, tetapi memiliki risiko untuk mendapatkan sakit TBC. dr. Setiawan menegaskan, “TPT sudah terbukti sebagai intervensi yang efektif untuk menghindarkan individu dari sakit TB, bahkan mengurangi risiko mengalami TB sebesar 60-90% dibandingkan dengan individu lain yang memiliki karakteristik yang sama tetapi tidak mendapatkan TPT.”

Sependapat dengan dr. Setiawan, DR. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A(K) dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan, “TPT terbukti efektif mencegah sakit TBC dan memiliki tingkat keamanan yang tinggi. Efek samping yang timbul hanya sedikit dan sebagian besar ringan serta dapat sembuh secara sempurna”.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinkes DIY, dr. Ari Kurniawati, MPH, menjelaskan, Pemerintah DIY telah membentuk Tim Percepatan Penanggulangan TBC yang disahkan dengan Surat Keputusan Gubernur DIY nomor 55/TIM/2022 sebagai tindak lanjut dari Peraturan Presiden 67/2021. Dinkes DIY merekomendasikan seluruh organisasi profesi dapat mensosialisasikan TPT kepada semua anggota, sementara fasyankes berperan menyiapkan SDM sebagai pelaksana TPT.

Sejalan dengan itu KOPI (Koalisi Organisasi Profesi Indonesia) TB DIY juga merekomendasikan strategi dalam meningkatkan TPT balita dan kontak erat serumah;

  1. mengadvokasikan memberikan tanggung jawab keberhasilan TPT pada kepala pemerintahan sehingga menjadikan TPT sebagai sebuah Gerakan bersama;
  2. maksimalkan IK dan deteksi ILTB di populasi rentan
  3. mengaktifkan peran dasawisma untuk pendampingan anggota yang menerima TPT maupun pengobatan TBC

Rekomendasi lain Dinkes DIY adalah peningkatan peran komunitas dalam investigasi kontak untuk menemukan kontak yang berhak mendapatkan TPT, memotivasi untuk memulai TPT dan menjadi pengawas menelan obat TPT. Konsorsium Komunitas Penabulu-STPI, juga telah mengembangkan beberapa strategi peningkatan cakupan TPT melalui video partisipatif oleh kader dan Tim Kerja Komunitas mengenai TPT dan implementasi pengawasan menelan obat TBC bersamaan dengan pemberian TPT berbasis keluarga menggunakan lembar edukasi khusus TPT.

Dr. Adang Bachtiar, MPH, DSc selaku Ketua Technical Working Group (TWG) TB – CCM Indonesia yang menyatakan, “Asumsinya, ILTB dan pemberian TPT adalah kunci sukses untuk dapat eliminasi TBC. Untuk dapat mengimplementasikan TPT diperlukan kepemimpinan yang kolaboratif dengan budaya kerja berbasis bukti”.

Baca juga: Pemanfaatan Aplikasi SOBAT TB tingkatkan Temuan Kasus Tuberkulosis - kbr.id

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - KABAR BISNIS

Kabar Baru Jam 7

Ekonomi Indonesia di Tengah Bayang-Bayang Ketidakpastian Global

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11

Most Popular / Trending