[Advertorial] Bromocorah, Ketidakterdugaan dalam ARKIPEL 2019

Anggraeni Widhiasih: "Konsep Bromocorah mencoba menawarkan kemungkinan dalam membingkai realitas dengan cara-cara di luar kesepakatan sinema yang mapan."

KABAR BISNIS

Kamis, 22 Agus 2019 10:51 WIB

Author

Paul M Nuh

[Advertorial] Bromocorah,  Ketidakterdugaan dalam ARKIPEL 2019

Bromocorah. Itulah tema ARKIPEL – Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival tahun 2019. Malam pembukaan yang diadakan di GoetheHaus, Goethe-Institut Jakarta Senin, 20 Agustus 2019 dipadati pengunjung.

Pembukaan diawali penampilan dari 69 Performance Club berjudul The Partisan karya Otty Widasari dengan Kelompok Teater. Penampilan dilanjut oleh sambutan dari Direktur Festival, Yuki Aditya. Yuki memaparkan, tahun ini terpilih 28 filem dalam seksi Kompetisi Internasional yang terseleksi dari 1.232 filem. Total terdapat 83 negara yang mengirim karyanya dalam jangka waktu 3 bulan. ARKIPEL juga akan menghadirkan program pemutaran lainnya seperti Program Kuratorial, Presentasi Khusus, Penayangan Khusus, dan Candrawala yang semuanya akan dilakukan di GoetheHaus.

Selain itu, ada pula pameran Kultursinema #6 di Museum Nasional yang akan diadakan hingga 25 Agustus 2019. Program ini menampilkan arsip-arsip produksi instansi pemerintah Perum PFN pada periode 1950-an-1970an lewat seri filem berita bertajuk Gelora Indonesia. 


Salah satu karya seni dalam pameran Kultursinema #6 di Museum Nasional 

Hafiz sebagai Ketua Forum Lenteng turut menyambut para penonton dengan hangat. Menurut beliau, festival tahun ini kecil dan bermakna. Mengenai tema tahun ini, bromocorah, ia berkomentar bahwa tema tersebut cukup menantang untuk direalisasikan, namun juga personal.

Acara disambung dengan pertunjukkan filem-filem pembuka, antara lain Chinafrika.mobile karya Daniel Kotter dari Jerman; Steine (Stones) karya Jorn Staeger dari Jerman pula; Adegan Yang Hilang dari Petrus karya Arief Budiman dari Indonesia; dan akhirnya Chairs karya Avner Pinchover dari Israel. 

Sebagaimana dikemukakan Anggraeni Widhiasih sebagai perwakilan dari tim selektor, keempat filem ini mampu mewakili konsep bromocorah yang membingkai keseluruhan festival tahun ini. Filem-filem tersebut mencoba menawarkan kemungkinan dalam membingkai realitas dengan cara-cara di luar kesepakatan sinema yang mapan. Adanya celah pengetahuan yang berasal dari teknologi mutakhir justru menciptakan bahasa sinema yang luwes dan spekulatif, yang mampu menerjemahkan gejala-gejala global terkini. 

Usai seremoni para undangan bisa menikmati filem produksi Milisifilem yang diproyeksikan di ruangan terbuka GoetheHaus. 

Peter Samson, pembuat filem dokumenter The Love of Statues yang lolos kompetisi internasional tahun ini, berkomentar bahwa mengawali malam pembukaan dengan penampilan performans adalah gagasan yang di luar kebiasaan. Menurutnya, penampilan tersebut meningkatkan antusiasme penonton, dan membuat suasana jadi terkesan tidak formal. Salah satu filem yang berkesan baginya adalah Chinafrika.mobile, yang mengangkat isu eksploitasi ekonomi mulai dari pekerja tambang sampai pemulung sampah elektronik. Sentuhan pertamanya dengan filem ARKIPEL membuatnya tak sabar menonton filem-filem lainnya, mengingat ia akan hadir di festival ini hingga hari terakhir. 

Bagi Roberto Rosendy dan Sribuana Mantinu, sineas-sineas muda dari ISBI Bandung, festival ini sudah tak asing lagi. Roberto adalah finalis program Candrawala tahun lalu dengan filem What’s Wrong with My Film?, sementara Tinu adalah alumni Akademi ARKIPEL yang diadakan Januari lalu. 

 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pemerintah Didesak Cabut Izin Perusahaan Pembakar Lahan