[Advertorial] Detoks Media Sosial & Berasuransi dengan MiPOWER by Sequis

Media sosial telah berkontribusi pada gangguan mental, utamanya pada milenial. Masalahnya, banyak yang malu mengakui kondisi kejiwaannya atau mungkin tidak menyadarinya.

KABAR BISNIS

Rabu, 17 Jun 2020 10:57 WIB

Author

Paul M Nuh

[Advertorial] Detoks Media Sosial & Berasuransi dengan MiPOWER by Sequis

Sosial media pada mulanya digunakan hanya sebagai pelengkap untuk update informasi ringan di sekitar kita. Belakangan hal ini menjadi candu yang tidak bisa terpisahkan dari keseharian. Sosial media menjadi alat ukur yang tidak realistis, merasa kurang dari orang lain yang dilihat di media sosial. Timbul kecemasan, menggambarkan diri secara negatif, iri hati dan lain sebagainya. Sosial media juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan secara fisik, antara lain mata lelah dan gangguan tidur.

Lalu bagaimana agat tidak candu? Anda bisa mencoba melakukan detoks media sosial. Maksudnya, penggunanya berhenti sejenak dari segala aktivitas di media sosial tetapi perlahan. Misalnya, jika dalam sehari bisa menghabiskan waktu lebih dari 3 jam untuk berselancar di media sosial maka coba kurangi secara bertahap. Kemudian berlanjut dalam seminggu mempraktekkan sehari tanpa media sosial dan seterusnya. Untuk membantu melatih terapi ini, bisa menggunakan screentime yang ada pada smartphone untuk mengukur kemajuan. Kemudian, lakukan hal-hal yang berkualitas, seperti menikmati kebersamaan bersama keluarga, mencoba kegiatan baru, atau melakukan lagi aktivitas lama yang tertunda, seperti membaca buku, berkebun, dan hobi lainnya yang membantu Anda lebih produktif.

Lindungi Kesehatan Mental dengan MiProtection

Media sosial telah berkontribusi pada gangguan mental, utamanya pada milenial. Masalahnya, banyak yang malu mengakui kondisi kejiwaannya atau mungkin  tidak menyadarinya. Orang tua pun banyak yang tidak paham, padahal mereka yang mengalami gangguan kejiwaan memerlukan pendampingan, perhatian, dan dorongan positif. Banyak hal yang dapat kita lakukan, misalnya berhenti menganggapnya sebagai sosok yang aneh, tetap bertegur sapa, menanyakan kabar, menjadi pendengar yang baik, menjadi teman cerita tanpa mendikte atau menggurui agar mereka merasa nyaman untuk menceritakan kondisinya. Berkonsultasi dengan psikolog adalah menjadi salah satu pilihan untuk mengobati ketergantungan tersebut.

Sayangnya, kesadaran mengobati dalam masyarakat kita masih rendah, belum lagi biaya konsultasi psikolog di Indonesia cukup tinggi,  rata-rata biayanya berkisar Rp250-Rp750 ribu untuk durasi 1 jam konsultasi. Tingginya biaya konsultasi psikolog ini menjadi perhatian Sequis dengan melakukan inovasi pada produk dari unit bisnis MiPOWER by Sequis, yaitu produk MiProtection yang menanggung biaya  kesehatan untuk konsultasi kesehatan mental ke psikolog.

Branding and Communication Stategist MiPOWER by Sequis Ivan Christian Winatha mengatakan MiProtection merupakan produk asuransi kesehatan untuk milenial yang memiliki fitur menarik yang belum pernah ada di pasaran, yaitu perlindungan atas gangguan mental seperti Obsessive Compulsive Disorder (OCD), Bipolar, dan Skizofrenia.

“Tentu kita perlu mencegah terjadinya gangguan agar berkesempatan mencapai hari esok kita yang lebih baik. Namun, jika sudah terdiagnosa mengalami gangguan kejiwaan maka sebaiknya segera dicarikan solusinya. Kehadiran MiProtection akan sangat membantu kebutuhan milenial untuk berkonsultasi dengan psikolog guna membantu proses penyembuhan sekaligus menjaga kondisi keuangan milenial,” sebut Ivan.

Ivan pun mengimbau para milenial agar tidak terjebak pada kecanduan media sosial dan mengajak berasuransi melalui MiProtection sehubungan dengan risiko gangguan kejiwaan yang dapat terjadi pada milenial di era media sosial. “Boleh saja berselancar di media sosial. Milenial memiliki kebutuhan aktualisasi diri. Kita bisa mendapatkannya tidak saja di media sosial, tetapi kita juga dapat berprestasi dan bermanfaat bagi sesama dalam kehidupan nyata.” tutupnya.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - KABAR BISNIS

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Stephanie: Mengubah Stigma Menjadi Empati