[Advertorial] 280 Juta Anak di Dunia Memiliki Kehidupan Lebih Baik dibanding 20 Tahun Lalu

Walaupun sudah banyak yang dicapai, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan. Pemerintah harus lebih banyak melakukan perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan hak anak.

KABAR BISNIS

Selasa, 25 Jun 2019 17:16 WIB

Author

Paul M Nuh

[Advertorial] 280 Juta Anak di Dunia Memiliki Kehidupan Lebih Baik dibanding 20 Tahun Lalu

Indonesia menempati urutan 107 dari 176 negara di dunia dalam rilis terbaru Save The Children terkait laporan penggambaran kondisi anak-anak di seluruh dunia. Dibandingkan 10 negara di Asia Tenggara, Indonesia menempati urutan ke 6. Dari laporan bertajuk  Changing Lives in Our Lifetime”, ada 3 hal yang menjadi catatan prestasi Indonesia dalam meningkatkan mutu kehidupan anak. Pendidikan menjadi hal yang pertama di mana Indonesia mengalami peningkatan dalam jumlah anak bersekolah. Sejak tahun 2000, dihitung dari jumlah anak-anak, remaja dan dewasa yang tidak bersekolah dasar dan menengah dibandingkan dengan jumlah penduduk mencapai 85,8%. Kedua terkait peran perempuan dalam mengurangi tingkat pernikahan anak. Terjadi peningkatan yang signifikan partisipan perempuan di akar rumput. Ketiga Indonesia berhasil mencatat penurunan angka stunting hingga 14%.

Menurut penuturan Tata Sudrajat, Direktur Advokasi dan Kampanye Save The Children, walaupun sudah banyak yang dicapai, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan. Dalam rangka pemenuhan hak anak pemerintah harus lebih banyak melakukan perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan hak anak. Anak-anak Indonesia harus dapat menikmati awal kehidupannya lebih baik. Sesuai UU Perlindungan anak, setiap orang berhak untuk mendapatkan masa kecil yang aman, sehat dan bahagia.

Global Chilhood Index tahun ini hadir dalam rangka ulang tahun Save The Children yang ke 100 dan turut serta merayakan kemajuan yang sudah diraih untuk kehidupan anak-anak di seluruh dunia. Fakta yang ditemukan pada tahun ini adalah kemajuan signifikan  di mana lebih sedikit anak yang sakit, kekurangan gizi, kurang pendidikan, pekerja anak, pernikahan anak, kehamilan dini, serta kematian yang kejam. Pada tahun 2000 diperkirakan 970 juta anak tidak dapat menikmati masa kecil mereka karena terdampak hal ini. Saat ini jumlahnya menyusut menjadi 690 jutaan anak saja.

Global Report 2019 menampilkan indeks baru yang menunjukkan peningkatan kemajuan di berbagai negara sejak tahun 2000. 

Berdasarkan berbagai indikator individual yang ada dalam indeks laporan ini, Save The Children menemukan banyak negara di dunia telah membuat kemajuan yang mengesankan dalam pemenuhan hak-hak anak dengan  mengurangi angka kematian balita. Di belahan negara lain terlihat peningkatan mendapatkan akses sekolah anak, pengurangan malnutrisi pada anak, pekerja anak, dan pernikahan anak. Dunia telah membuat sedikit kemajuan dalam mengurangi kelahiran remaja dan pembunuhan anak, akan tetapi tidak ada kemajuan sama sekali dalam mengurangi jumlah anak yang hidup di daerah konflik. Bahkan angka ini meningkat sejak tahun 2000.

Satu di antara 4 anak direnggut haknya untuk menikmati hidup yang aman di masa kecil mereka. Migrasi anak karena konflik meningkat sangat tinggi. 30,5 juta anak lebih pindah secara paksa di tahun 2000. 

Direktur Media dan Komunikasi Save the Children di Indonesia, Fajar Jasmin Sugandhi menambahkan, “Tidak ada perubahan signifikan untuk Indonesia dari Global Childhood Report tahun lalu. Namun sangat menarik untuk membandingkan kondisi negara-negara lain di dunia untuk mewujudkan masa kecil yang sehat, bahagia dan aman. Ada dua negara Asia yang duduk di 10 Besar Terbaik. Di sisi lain, laporan ini menunjukkan betapa perang membawa kerusakan besar bagi anak-anak yang menjadi korban.” Global Childhood Report 2019 juga menyediakan interactive map untuk memudahkan para pembaca dalam melihat perbandingan antar negara selayaknya sebuah index digunakan dalam membaca isu-isu tertentu.

 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Perlindungan Hukum untuk Para Pembela HAM Masih Lemah

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Belajar HAM di Museum HAM Munir

Kabar Baru Jam 13