[Advetorial] Pemerintah Berkomitmen Fasilitasi Pengembangan Musik

Pemerintah menyatakan komitmennya untuk memfasilitasi pengembangan ekosistem musik Indonesia dalam diskusi “Menyusun Tonggak Sejarah Musik Indonesia” di M Bloc Space pada Selasa, 10 Maret 2020.

KABAR BISNIS

Rabu, 11 Mar 2020 15:40 WIB

Author

Eka Lestari

[Advetorial] Pemerintah Berkomitmen Fasilitasi Pengembangan Musik

Pemerintah menyatakan komitmennya untuk memfasilitasi pengembangan ekosistem musik Indonesia.“Membangun ekosistem musik ini penting, kami siap memfasilitasi,” ujar Ahmad Mahendra, Direktur Perfilman, Musik, dan Media Baru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam diskusi “Menyusun Tonggak Sejarah Musik Indonesia” yang diadakan di M Bloc Space pada Selasa, 10 Maret 2020. Diskusi tersebut adalah bagian dari rangkaian acara perayaan Hari Musik Nasional yang diselenggarakan Kami Musik Indonesia (KAMI), inisiatif bersama Koalisi Seni dan Yayasan Ruma Beta. 

Mahendra memaparkan bahwa Presiden Joko Widodo telah berjanji akan meneruskan pemajuan musik Indonesia. Ini dilakukan melalui lima cara, yaitu perlindungan hak cipta, sistem pendataan terpadu, peningkatan apresiasi dan literasi musik dalam pendidikan, peningkatan kesejahteraan musisi, dan penyiapan infrastruktur pendukung. Fokus kegiatan pengembangan musik Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Baru Kemendikbud ada enam. Pertama, penguatan, perlindungan, dan advokasi hak kekayaan intelektual dalam sektor musik. Berikutnya, pemajuan sumber daya manusia musik melalui sertifikasi musisi berdasarkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dan Standar Kompetensi Global. Ketiga, sistem pendataan melalui Data Pokok Kebudayaan yang dilakukan Sekretariat Direktorat Jenderal Kebudayaan. Kemudian, peningkatan literasi melalui kajian dan pemetaan literasi musik. Sebagai upaya diplomasi budaya di tingkat global, pemerintah juga berniat menjadikan negeri ini sebagai referensi musik dunia (world music) melalui penyelenggaraan acara musik Indonesia tingkat internasional, yang pada tahun ini rencananya diadakan di Bali. Keenam, pemerintah ingin menghidupkan dan mendorong makin banyaknya lagu anak yang sesuai dengan tumbuh kembang anak-anak Indonesia. 

Mahendra mengatakan, dalam pengembangan musik, direktoratnya akan berbagi tugas dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. “Harus sama-sama, agar hulu dan hilir satu konsep,” ucapnya. 

Sementara itu, Nyak Ina Raseuki, Direktur Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta, menyoroti kekuatan musik Indonesia. “Keanekaragaman adalah ciri musik Indonesia, yang mengikuti struktur dan perubahan masyarakatnya,” ucap etnomusikolog yang akrab disapa Ubiet itu.Ia menjelaskan, dengan berbeda-bedanya perkembangan masyarakat di  negeri ini, ada begitu banyak jenis musik yang bisa hidup. Ragam musik dari berbagai wilayah dunia memperkaya musik Indonesia sejak dulu, seperti musik dari Persia, India, Cina, dan Eropa bercampur baur dengan musik etnik.  Sayangnya, banyak di antara kita yang kurang mengerti soal ragam musik di daerah lain, sehingga pertukaran pengetahuan ini perlu lebih didorong. 

Dalam diskusi “Menyusun Tonggak Sejarah Musik Indonesia” ini, jurnalis foto Oscar Motuloh, membahas kaitan musik dengan politik, terutama masa menjelang dan awal-awal kemerdekaan. Ia sangat menyayangkan banyak artefak sejarah yang rusak akibat kurang baiknya pengelolaan oleh pemerintah. Ia mengatakan bahwa seharusnya artefak sejarah tersebut dapat dikonservasi secara lebih baik.

Wendy Putranto dari M Bloc Space menyarankan agar pemerintah mewujudkan janjinya membangun infrastruktur musik yang layak secara merata di berbagai daerah. “Musisi perlu touring circuit di Indonesia untuk tampil. Live show itu pendapatan utama musisi, baru setelahnya royalti dari platform streaming,” ucapnya. Ia juga menyarankan agar pemerintah bisa lebih konsisten dalam mengembangkan musik. 

Candra Darusman, musisi yang menjadi moderator dalam diskusi ini, menyimpulkan tiga hal penting. “Pemerintah punya kewajiban memfasilitasi, seniman memberi jiwa, sedangkan swasta membantu lewat CSR (corporate social responsibility)”, katanya menutup diskusi. 


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - KABAR BISNIS

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 12

Ancaman Gangguan Mental di Masa Pandemi Covid-19

Dukung Penanganan COVID-19 dengan Bernyanyi

Kabar Baru Jam 11