[Advertorial] Mengimajinasikan Ibu Kota Baru yang Cerdas dan Berkelanjutan

apakah perencanaan kota sudah berhasil dan bekerja baik untuk warganya?

KABAR BISNIS

Selasa, 17 Mar 2020 16:11 WIB

Author

Eka Lestari

[Advertorial] Mengimajinasikan Ibu Kota Baru yang Cerdas dan Berkelanjutan

gambar: ilustrasi smart city (pixabay)

Presiden Joko Widodo resmi mengumumkan Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, sebagai lokasi ibu kota negara (IKN) baru. Presiden Joko Widodo melalui akun Instagram miliknya pada 7 November lalu, mengunggah  #jkwkomik bertajuk “Pindah Ibu Kota” yang menampilkan alasan kepindahan sekaligus memancing jawaban pengikutnya dengan pertanyaan: ibu kota seperti apa yang kalian inginkan?.

Pernahkah kalian berimajinasi tentang ibu kota kita yang baru? KBR bersama Yayasan Indonesia CERAH, Koaksi dan 350 menggelar diskusi yang dikemas dalam podcast untuk memantik imajinasi publik, khususnya generasi milenial, tentang bagaimana seharusnya wajah ibu kota baru. Terutama agar masalah yang dihadapi Jakarta saat ini, seperti “macet, polusi, banjir, dan padat” tidak terjadi di ibu kota baru, dan berganti menjadi kota yang smart dan sustainable sebagaimana visi yang digadang-gadang pemerintah. Apa itu kota yang smart dan sustainable?

Ahmad Gamal, Peneliti dan Manajer Kemitraan Smart City Universitas Indonesia menjelaskan bahwa ungkapan ‘smart city’ adalah hal yang sulit diidefinisikan karena istilah ini dipakai oleh banyak makna. “Sulit sekali mendefinisikan smart city, Kami sendiri memaknai smart city sebagai kapasitas memutuskan masalah dengan baik. Sebuah kota yang mempunyai kapasitas untuk memecahkan masalah dan menyelesaikan masalah tersebut, menurut kami kota itu smart dan teknologi adalah salah satu pendukungnya”. ujar Gamal.

Menurut Gamal, Kota yang smart belum tentu sustainable (berkelanjutan) dan begitu juga sebaliknya, karena teknologi yang diterapkan di dalam kota belum tentu bisa bermanfaat untuk keberlangsungan kota. Salah satu contohnya adalah kota dengan teknologi maju, belum tentu mampu mengurangi emisi gas buang yang sudah menjadi masalah di kota-kota besar. Smart city juga bukan hanya sebatas bangunan fisik dan tekonogi, namun juga membangun manusianya. “Kota membentuk orang yang ada di dalamnya, di saat yang bersamaan, orang yang tinggal di dalamnya membentuk kota,” jelas Elisa Sutanudjaja selaku Pendiri Rujak Center for Urban Studies. Ia menambahkan bahwa keadaan kota akan mempengaruhi pilihan hidup yang akan diambil oleh masyarakat yang ada di dalam kota.

Gamal berharap pemerintah melihat kota-kota lain yang melakukan pemindahan ibu kota sebagai contoh. Menurutnya perencanaan kota bukanlah sesuatu yang selesai tapi sesuatu yang harus terus menerus dilakukan, harus dipikirkan kembali, dan harus ditanyakan kembali, apakah perencanaan kota sudah berhasil dan bekerja baik untuk warganya?

Editor: Paul M Nuh

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - KABAR BISNIS

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Selandia Baru Catat Penurunan Signifikan Penambahan Orang Terinfeksi Corona

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Pemeriksaan COVID-19 Bakal Ditingkatkan Jadi 300 Ribu Orang per Bulan