[Advertorial] Mendirikan Bangunan yang Cerdas dan Hijau untuk Ibu Kota Baru

Smart dan green building adalah dua konsep yang berbeda tetapi saling bersinergi atau saling mendukung satu sama lain. Bangunan yang smart tidak harus green, begitu juga sebaliknya.

KABAR BISNIS

Senin, 23 Mar 2020 10:09 WIB

Author

Paul M Nuh

[Advertorial] Mendirikan Bangunan yang Cerdas dan Hijau untuk Ibu Kota Baru

ilustrasi (pixabay)

Ibu kota negara Indonesia pindah dari Jakarta ke Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Artinya, kita punya kesempatan untuk membangun kembali ibu kota Indonesia dari awal. Kementerian PPN/Bappenas mengatakan bahwa salah satu alasan ibu kota negara dipindahkan adalah karena pemerintah berencana mencanangkan living with nature (konsep forest city). Konsep Forest City di antaranya adalah penerapan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan pemanfaatan energi terbarukan serta rendah karbon. Untuk efisiensi dan konservasi energi, maka diperlukan juga ‘smart and green building’.

Selama ini kita sudah sering mendengar istilah ‘smart and green building’. Di Indonesia juga ada lembaga yang menerbitkan sertifikasi ‘bangunan hijau’. Apa sebenarnya ‘smart and green building’?. Smart dan green building adalah dua konsep yang berbeda tetapi saling bersinergi atau saling mendukung satu sama lain. Bangunan yang smart tidak harus green, begitu juga sebaliknya. Contohnya bangunan yang green dipasangi sensor, jadi saat orang masuk lampunya bisa nyala sendiri dan saat lampu tidak diperlukan, ia akan meredup,” jelas Anggie Amalia, selaku Principal Consultant di Science in Architect (ScA) Consultant.  Anggie menjelaskan bahwa green building adalah gedung yang ramah lingkungan yang mempunyai dampak seminimal mungkin, namun tetap melihat kenyamanan dan kesehatan pengguna bangunan. Menurutnya, green building memiliki cakupan yang cukup luas, mulai dari energi, konteks, material yang digunakan dalam ruangan, kontrol kenyaman ruangan, sampai pada pengelolaan sampah.

Anggie menambahkan, bangunan yang ‘smart’ dan ‘green’ memiliki keuntungan. Tak hanya menghemat biaya listrik tapi juga kualitas ruang. Bangunan yang menggunakan material dengan tingkat racun yang tinggi akan menimbulkan masalah kesehatan, contohnya jika masuk ke suatu ruangan yang habis dicat, akan merasa pusing. Kemudian ada lagi sick building syndrom. Kalau di kantor rasanya ngantuk, capek, dan pusing oksigen, namun saat keluar kantor rasanya segar kembali. Itu artinya tingkat polutan dalam kantor cukup tinggi, kemudian tingkan CO dan rendahnya oksigen.

Sigit Kusumawijaya selaku Architect & Urban Designer | SIG mengatakan, bahwa sebenarnya di Indonesia saat ini kesadaran tentang bangunan ramah lingkungan sudah ada, bahkan DKI jakarta sudah memiliki Perda soal bangunan hijau. Sayangnya Perda tersebut belum dijalankan secara maksimal, karena terhalang biaya. “Yang harus kita edukasi, khususnya stake holder, mereka masih menganggap bahwa biayanya mahal. Tetapi, seharusnya mereka bisa berpikir lebih jauh ke depan. Dalam arti, kalau kita tidak menerapkan konsep green ini dari sekarang, nantinya maintenance-nya yang akan lebih mahal” ujar Sigit.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - KABAR BISNIS

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 12

Ancaman Gangguan Mental di Masa Pandemi Covid-19

Dukung Penanganan COVID-19 dengan Bernyanyi

Kabar Baru Jam 11