[Advertorial] A New Zero Waste Capital City

Tantangan terbesar di Indonesia soal pengelolaan sampah adalah kesadaran dan budaya

KABAR BISNIS

Selasa, 24 Mar 2020 08:56 WIB

Author

Eka Lestari

[Advertorial] A New Zero Waste Capital City

ilustrasi (pixabay)

Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur terpilih sebagai lokasi ibu kota Indonesia yang baru. Pemerintah bermimpi ibu kota baru dapat menjadi kota yang smart (cerdas) dan sustainable (berkelanjutan). Untuk bisa merealisasikan itu, pemerintah juga harus punya perencanaan soal pengeloalaan sampah yang baik, dan berkelanjutan, sehingga dapat menjadikan ibu kota baru sebagai ‘Zero Waste Capital City’ . 

Adhitya Prayoga, Project Executive Waste4Change menjelaskan bahwa pengelolaan sampah bukan hanya kumpul, angkut dan buang. Menurutnya ada alternatif lain dari pengelolaan sampah, yaitu daur ulang sehingga tidak akan menimbulkan penumpukan limbah (zero waste). “Zero waste bukan berarti kita tidak memproduksi sampah sama sekali, tapi gimana cara kita melihat sampah itu sebagai resource. Jadi tidak ada waste yang benar jadi waste. Bisa kita daur ulang lagi, kita gunakan lagi atau kita recover jadi sumber energi,” ujar Adhitya. Adhitia mengusulkan diterapkannya sistem ‘polluters pay principle’ di ibu kota baru, artinya adalah siapa yang membuang sampah paling banyak, dia akan membayar lebih besar.

Tak hanya memikirkan pengelolaan sampah akhir, Swietenia Puspa Lestari, Founder Divers Clean Action mengatakan, kita juga harus memikirkan pengurangan sampah dari sumbernya. ”Kita berharap sampah-sampah yang sering ditemukan di laut tidak kita temukan diperjual belikan lagi di kota baru. Contohnya kantong plastik, sedotan, dan lainnya, jadi masyarakat yang ada di kota baru itu dari segi lifestyle-nya dapat diubah karena sudah disediakan opsi yang lebih berkelanjutan dari segi kemasan,” jelas  Swietenia.

Tantangan terbesar di Indonesia soal pengelolaan sampah adalah kesadaran dan budaya. Adhitya juga mengatakan bahwa kurangnya edukasi soal dampak buruk dari sampah juga mempengaruhi bagaimana perilaku masyarakat terhadap sampah. “Saat ini masyarakat mulai sadar akan masalah sampah, tapi kesadaran saja tidak cukup, karena kesadaran saja bukan berarti perilaku akan berubah. Budaya juga harus diubah, budaya pola konsumsi, gak mau repot. Kita juga harus menyadari bahwa orang yang misalnya buang sampah sembarangan atau tidak milah sampah, itu bukan karena mereka jahat, tapi karena mereka tidak tahu”. Jelas Adhitya.

Editor: Paul M Nuh

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - KABAR BISNIS

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 19