Bagikan:

Dorong Ekonomi Hijau, OJK Beri Insentif untuk Kredit Kendaraan Listrik

"Untuk itu 2021 ini kita sudah mulai memberikan risk weighted asset yang lebih rendah 25 persen untuk kredit kendaran yang berbasis kendaraan listrik."

NASIONAL | KABAR BISNIS

Selasa, 22 Feb 2022 17:09 WIB

Author

Ranu Arasyki

Ilustrasi: Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengendarai sepeda motor listrik di Nusa Dua, Badun

Ilustrasi: Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengendarai sepeda motor listrik di Nusa Dua, Badung, Bali. Minggu (23/1/22). (Foto: Antara/Fikri Yusuf)

KBR, Jakarta— Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berjanji bakal memberikan insentif pembiayaan dan mempermudah akses keuangan bagi masyarakat yang akan membeli Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KLBB).

Ketua Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan insentif itu rencananya akan diperluas mulai dari industri hulu hingga hilir yang mengikuti taksonomi hijau melalui kebijakan risk weighted asset.

"Untuk itu 2021 ini kita sudah mulai memberikan risk weighted asset yang lebih rendah 25 persen untuk kredit kendaran yang berbasis kendaraan listrik. Baterai maksudnya. Sehingga ini adalah langkah awal supaya mempercepat produksi kendaraan berbasis baterai dan mempercepat masyarakat untuk mendapatkan insentif," katanya pada acara Green Economy Outlook 2022, Selasa (22/2/2022).

Baca Juga:

Insentif risk weighted asset itu dimaksudkan untuk mengurangi penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil yang dinilai menghasilkan emisi karbon cukup tinggi.

Menurut Wimboh, pemberian insentif itu juga tidak menutup kemungkinan akan diberikan hingga kepada para diler kendaraan. Saat ini, OJK tengah menggodok perluasan insentif tersebut.

"Dan juga bisa saja kredit modal kerja dari para diler-nya dari setiap penjualan tentunya itu bisa mendapatkan insentif. Enggak tahu nanti ini masih dalam penggodokan apa lagi yang bisa kita perbuat," sambungnya.

Lebih lanjut, insentif akan diberikan kepada produk-produk berlabel taksonomi hijauyang berasal dari sektor lainnya, seperti produk tambang, pertanian, perkebunan, perikanan, dan sebagainya.

Adapun, lanjutnya, bagi sektor yang belum masuk kategori hijau, maka akan memperoleh disinsentif. Kebijakan ini menurut dia bagian dari upaya Indonesia untuk mendorong penggunaan energi baru terbarukan sebagai pengganti energi fosil.

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Most Popular / Trending