Peneliti Kembangkan Plasenta Mini Atasi Gangguan Awal Kehamilan

Plasenta mini tersebut digunakan mendekteksi pelbagai macam gangguan kehamilan seperti preeklamsia.

BERITA , INTERMEZZO

Kamis, 29 Nov 2018 14:13 WIB

Author

Yogi Ernes

Peneliti Kembangkan Plasenta Mini Atasi Gangguan Awal Kehamilan

Ilustrasi. (Foto: Pexels)

KBR, Jakarta – Para ilmuwan di Unversitas Cambridge mengembangkan "plasenta mini" yang diyakini mampu memperkuat jawaban dari penelitian tentang penyebab utama keguguran, bayi yang meninggal ketika baru dilahirkan, serta gangguan kehamilan lainnya.

Organoid tersebut menyerupai plasenta asli pada tahap awal kehamilan di usia 12 minggu pertama. Para peneliti akan menggunakan plasenta mini untuk memahami bagaimana jaringan berkembang pada kehamilan yang sehat, dan apa saja yang salah ketika kehamilan gagal.

Ashley Moffet, seorang peneliti senior di tim dan profesor imunologi reproduksi di Universitas Cambridge mengatakan plasenta mini ini mirip dengan bentuk yang asli sehingga bisa mengelabui alat tes kehamilan yang dijual bebas.

"Jika kita tempelkan alat pengecek kehamilan kepada organoid tersebut, maka ia bisa membaca tanda kehamilan," jelas Moffet dikutip dari The Guardian, Rabu (28/11/2018).

Pada sebuah kehamilan yang sehat, plasenta tumbuh dan menempel di dinding rahim. Fungsinya, menyediakan oksigen dan nutrisi untuk bayi juga pada saat bersamaan membuang kotoran dari darah janin.

Kehamilan dapat gagal ketika embrio tidak berimplantasi dengan benar di rahim dan plasenta tidak menempel seperti seharusnya. Sebelum terobosan plasenta mini ini, para ilmuwan sulit memahami apa yang salah dalam pelbagai soal terkait kehamilan.

Kondisi itu terjadi karena para ilmuwan tidak punya plasenta untuk dipelajari, dan plasenta hewan terlalu berbeda untuk membuat perbandingan yang signifikan.

"Terobosan ini membuat kami sekarang dapat mulai melakukan percobaan tentang bagaimana perkembangan plasenta terjadi di lingkungan uterus," kata Moffet.

Lalu dengan apa para ilmuwan menumbuhkan organoid tersebut?

Tim peneliti Cambridge menggunakan sel-sel dari struktur seperti daun yang disebut villi yang ditemukan dalam jaringan plasenta. Sel-sel itu mengorganisasikan diri menjadi struktur multi-seluler yang mampu mengeluarkan protein dan hormon yang memengaruhi metabolisme ibu selama kehamilan.

Organoids dalam bentuk plasenta mini ini memiliki ukuran mulai dari sepersepuluh milimeter hingga setengah milimeter. Mereka dapat dibekukan dan disimpan serta dicairkan bila diperlukan.

Temuan ini juga didorong banyaknya bayi yang lahir dengan perkembangan otak yang abnormal akibat ditularkan oleh ibu yang terinfeksi wabah virus Zika. Penelitian para ilmuwan sebelumnya tak mampu menjelaskan bagaimana virus tersebut bisa melintasi plasenta.

"Plasenta mutlak penting untuk mendukung bayi saat tumbuh di dalam ibu. Ketika tidak berfungi denga baik, maka dapat menyebabkan masalah serius, mulai dari preeklamsia hingga keguguran, dengan konsekuensi langsung dan seumur hidup untuk ibu dan anak," terang Margherita Turco, penulis utama pada penelitian dikutip dari The Guardian.



Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERMEZZO

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 10

What's Up Indonesia

Kesepakatan Batas Usia Perkawinan

Newsbeat

Kabar Baru Jam 8