Mengenalkan Toleransi Kepada Anak-Anak Melalui Buku Jenggo

Sekar mengangkat topik perihal perundungan (bully) lewat sebuah analogi kehidupan di peternakan yang diisi oleh berbagai jenis binatang yang berbeda.

INTERMEZZO

Rabu, 28 Nov 2018 14:08 WIB

Author

Yogi Ernes

Mengenalkan Toleransi Kepada Anak-Anak Melalui Buku Jenggo

Ilustrasi Foto: Anthea Sieveking

KBR, Jakarta – Jika kita bicara tentang toleransi, maka salah satu hal yang terlintas di kepala kita adalah kewajiban yang harus dilakukan ketika dewasa kelak. Namun bagi Sekar Sosronegoro, seorang penulis buku anak, toleransi harusnya  sudah diperkenalkan sejak dini kepada anak-anak.

Sekar mengajarkan toleransi kepada anak-anak melalui buku. Lewat seri buku toleransi yang ia tulis, Sekar berharap bukunya bisa menjadi medium pembelajaran antara anak dan orang tua mengenai persoalan toleransi.

“Saya pikir pendidikan toleransi ini krusial bagi anak-anak di era sekarang yang sudah terpapar intoleransi di lingkungan sekitar. Bisa lewat media massa, media sosial atau komentar dari orang tua yang disengaja atau tidak,” ujar Sekar dalam program Ruang Publik KBR (22/11/2018).

Sekar mengatakan menanamkan pendidikan karakter dan toleransi sejak dini kepada anak-anak juga lebih mudah. Hal ini mengingat di momen tersebut anak-anak belum memiliki prasangka kepada orang yang berbeda dengan dirinya.

Buku anak terbarunya berjudul "Jenggo" Ayam Jago Yang Sombong, Sekar mencoba menanamkan nilai-nilai toleransi dengan cara yang paling sederhana dan menarik. Dalam buku Jenggo tersebut, Sekar mengangkat topik perihal perundungan (bully) lewat sebuah analogi kehidupan di peternakan yang diisi oleh berbagai jenis binatang yang berbeda. Salah satunya cerita mengenai ayam dan kambing yang hidup berdampingan dalam suatu peternakan.

“Jadi buku ini tentang bagaimana anak bisa belajar memiliki rasa empati ke orang lain, serta memperlakukan orang lain dengan baik,” ucapnya.

Selain bicara mengenai empati, lewat buku Jenggo, Sekar juga mencoba mengangkat isu perbedaan dan bagaimana kita bisa menerima serta menghormati perbedaan tersebut.

Tema "memaafkan" juga menjadi hal yang dibahas di buku ini. Sekar ingin mengajarkan tentang kasih dan memaafkan kepada anak di lingkungan yang majemuk seperti masyarakat Indonesia. Baginya, memaafkan adalah hal yang sangat penting.

“Kita tidak mau ketika dewasa anak-anak kita menjadi pemarah dan membawa kebencian ke sekitarnya. Itu kenapa saya kira tema memaafkan menjadi penutup yang pas dalam buku ini,” tambahnya.

Buku yang telah diluncurkan di kota Yogyakarta pekan lalu ini telah mendapat respon yang positif dari masyarakat. Jumlah buku anak yang membahas topik serupa yang sangat sukar ditemui menjadi alasan mengapa buku ini sangat dinantikan.

Untuk ke depannya, menurut Sekar tidak menutup kemungkinan akan mengeluarkan buku anak dengan pesan-pesan positif lainnya dan sesuai dengan kondisi masyarakat.

“Sekali lagi, anak itu kan seperti investasi untuk masa depan, ya. Jadi mengajarkan hal-hal baik ke mereka sedari kecil penting untuk bekal di kehidupan mereka ketika dewasa. Kita mau anak-anak kita bisa menjadi pembawa pengaruh positif bagi lingkungannya,” ujarnya.


 

 

 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERMEZZO

Most Popular / Trending

Mahkamah Konstitusi Gelar Sidang Perdana, Perselisihan Hasil Pemilu

10 Tahun UU Narkotika: Seperti Apa Implementasinya?

Sidang Perdana Sengketa Pemilu

Cek Fakta: Misleading Content KPU Panik

What's Up Indonesia