Kafe Kopi Agonist, Kantornya Para Pekerja Berkebutuhan Khusus di Lebanon

“Saya merasa seperti mimpi saat bekerja di sini,” ujar Farah Ballout, karyawati Kafe Agonist yang mengidap Angelman syndrome.

INTERMEZZO

Rabu, 15 Mei 2019 18:07 WIB

Author

Fairuz Nurul Izzah

Kafe Kopi Agonist, Kantornya Para Pekerja Berkebutuhan Khusus di Lebanon

Pekerja berkebutuhan khusus sedang belajar membuat roti di sebuah kafe di Lebanon. (Foto: Reuters via VOA News)

Lebanon adalah negara kecil di Timur Tengah yang punya cukup banyak masalah.

Sepanjang tahun 1975 – 2006 Lebanon sudah berkali-kali dilanda perang besar, dan sampai sekarang sendi-sendi kehidupan masyarakatnya belum kunjung stabil.

Kini Lebanon juga jadi tempat mengungsi bagi sekitar satu juta orang, yang mayoritasnya merupakan pelarian dari perang Suriah.

Meski demikian harapan tetap tumbuh di Lebanon.

Salah satunya tumbuh di kota Beirut, tepatnya di Kafe Agonist, coffee shop yang menyediakan tempat kerja bagi kalangan berkebutuhan khusus.


Bisnis Sosial di Kafe Agonist

“Saya merasa seperti mimpi saat bekerja di sini,” ujar Farah Ballout, karyawati Kafe Agonist yang mengidap Angelman syndrome.

Angelman syndrome adalah kelainan genetik yang membuat seseorang sulit berbicara, sulit berjalan dan sulit menjaga kesimbangan badan. Dalam sejumlah kasus, penderitanya juga biasa mengalami kejang.

Meski lahir dengan Angelman syndrome, Farah tetap menyambut tamu-tamu kafe dan melayani mereka dengan senyuman lebar tiap harinya. “Rasanya seperti sedang berjalan masuk rumah, tidak seperti sedang pergi ke kantor,” jelas Farah.

Selain Farah, Kafe Agonist juga mempekerjakan sekitar 14 pegawai berkebutuhan khusus lain, mulai dari individu autis sampai down syndrome.

Menurut Wassim El Hage, seorang dokter terapi fisik sekaligus pendiri Kafe Agonist, tempat ini memang dirancang sebagai social enterprise atau ajang bisnis sosial.

Dalam wawancara dengan Reuters, Wassim mengatakan, “Target saya bukan menghasilkan uang atau keuntungan untuk diri sendiri. Target saya adalah mengembalikan keuntungan (bisnis) untuk mereka (pekerja berkebutuhan khusus) agar bisa membangun kehidupan yang utuh dan mandiri. Kami membutuhkan ini di Lebanon,” ujarnya.


Bergerak Tanpa Dukungan Pemerintah

Perjuangan membangun bisnis sosial, khususnya membuka lapangan kerja untuk kalangan berkebutuhan khusus, jelas tidak mudah. Terlebih lagi di Lebanon, negara yang tengah bergulat dengan krisis ekonomi.

Menurut data dewan perdagangan Lebanon yang dikutip VOA News, dalam setahun terakhir ada 2.000 unit bisnis di Lebanon yang tutup. Tingkat pengangguran nasionalnya juga mencapai 30 persen.

Di tengah kondisi demikian, skema bisnis sosial tidak mendapat dukungan apa-apa dari pemerintah.

“Tidak ada kebijakan atau strategi pemerintah untuk mengatur sektor usaha sosial,” kata George Ghafary, salah satu pengusaha sosial yang mempekerjakan mantan pecandu narkotika, tawanan dan perempuan di Lebanon.

Kalangan social entrepreneur Lebanon juga mengeluhkan pemerintah setempat yang tidak memberi keringanan pajak.atau insentif lainnya untuk sektor usaha sosial

Samer Sfeir, pendiri program pelatihan kerja untuk kalangan berkebutuhan khusus, mengatakan, "Bisnis sosial menghadapi lebih banyak kesulitan, karena biayanya lebih mahal dan keuntungannya lebih sedikit," jelasnya.

(Sumber: www.voanews.com)

Editor: Adi Ahdiat
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERMEZZO

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 10

Jelang Pelantikan Presiden, Dari Pengamanan Hingga Larangan Demo

20 Tahun Lagi, Lapisan Tanah Subur di Dataran Dieng Diperkirakan Terkikis Habis

Kabar Baru Jam 8

PM Selandia Baru Akan Bersihkan Konten Ekstrimis di Dunia Online