“Jangan Tanya, Jangan Bilang”: Aturan Usang Militer AS Soal Gay

Militer AS pernah punya aturan diskriminatif untuk anggota gay. Tapi sekarang aturan itu sudah dihapus. Tentara gay tak terbukti bisa melemahkan pertahanan nasional.

INTERMEZZO | BERITA

Jumat, 17 Mei 2019 18:12 WIB

Author

Adi Ahdiat

“Jangan Tanya, Jangan Bilang”: Aturan Usang Militer AS Soal Gay

Ilustrasi. (Foto: Pixabay)

Diskriminasi terhadap kalangan homoseksual atau gay sudah terjadi sejak waktu yang sangat lama, di berbagai belahan dunia.

Bahkan negara yang dikenal “liberal” seperti Amerika Serikat (AS) juga pernah punya kebijakan-kebijakan yang meminggirkan mereka.

Tahun 1993 misalnya, militer AS pernah menerapkan kebijakan “Don’t Ask, Don’t Tell” (DADT) yang berarti “Jangan Tanya, Jangan Bilang”.


Boleh Gay, Asal Tidak Ketahuan

Kebijakan DADT mengatur bahwa militer AS dilarang bertanya soal orientasi seksual anggotanya. Anggotanya pun dilarang menyatakan apapun soal orientasi seksual mereka.

Sekilas, kebijakan ini seakan-akan memberi ruang bagi kelompok gay untuk bisa berkiprah di militer dengan bebas. Tapi nyatanya, DADT bersikap sangat keras terhadap kelompok orientasi seksual minoritas.

Jika ada anggota militer yang ketahuan menyukai sesama jenis, tak peduli apapun prestasinya, ia akan dinonaktifkan.

Alhasil, sepanjang periode tahun 1994 – 2008 ada lebih dari 13.000 anggota militer AS yang dipecat karena ketahuan homoseksual.

Setiap tahunnya ada sekitar 700 – 1.200 pemecatan, baik terhadap anggota laki-laki maupun perempuan.


Peneliti: Tentara Gay Tidak Merugikan Negara

Setelah belasan tahun pemberlakuan DADT, lembaga riset Center for American Progress (CAP) menerbitkan laporan penelitian berjudul Ending Don’t Ask Don’t Tell (2009).

Lewat laporan itu CAP menuntut pemerintah AS agar mencabut kebijakan DADT yang dinilai tidak sejalan dengan HAM dan sangat merugikan kelompok homoseksual.

CAP juga menyebut, sesungguhnya tidak ada bukti bahwa kelompok homoseksual bisa melemahkan kekuatan, kinerja, ataupun citra militer.

Menurut data CAP, ada 24 negara di seluruh dunia yang mengizinkan homoseksual berkiprah di militer.

Di antara negara-negara tersebut, tak ada satupun yang pernah mendokumentasikan kerugian karena tentara homoseksual.

Begitu juga yang terjadi di Central Intelligence Agency (CIA), Federal Bureau of Investigation (FBI), dan Secret Service.

Meski mengizinkan anggota homoseksual, lembaga-lembaga keamanan dan pertahanan AS itu punya kinerja baik. Menurut CAP mereka juga tak pernah punya masalah yang secara khusus disebabkan oleh gay.


Kebijakan DADT Dicabut

Setahun setelah CAP merilis laporan risetnya, pemerintah AS mencabut kebijakan DADT. Pencabutan kebijakan diskriminatif itu diajukan oleh para senat dan ditandatangani Presiden Obama tahun 2010.

Pencabutan DADT kemudian berlanjut pada perbaikan kesetaraan gender di lembaga lain.

Menurut catatan History.com, tahun 2013 Departemen Pertahanan (Dephan) AS membuka kesempatan bagi perempuan untuk melakukan tugas lapangan, tugas yang sebelumnya hanya boleh dilakukan laki-laki.

Tahun 2015 Pentagon pun resmi mengumumkan bahwa mereka terbuka bagi pelamar atau staf dengan beragam orientasi seksual, serta menegaskan komitmen untuk menghapuskan diskriminasi yang berbasis gender.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERMEZZO

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Polisi Sebut Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan Beraksi Sendiri

Pemulihan Gambut Pasca Kebakaran