Bagikan:

Freediving

Bagi sebagian kita berenang di laut sudah butuh keberanian ekstra, tapi bagi sebagian orang menyelami lautan tanpa alat bantu pernapasan adalah sebuah keasyikan yang addictive. Freediving, hobi para pecinta laut ini sungguh menantang. Hanya berbekal satu

INTERMEZZO

Jumat, 03 Mei 2013 14:24 WIB

Freediving

free diving, jakarta, scuba diving

Bagi sebagian kita berenang di laut sudah butuh keberanian ekstra, tapi bagi sebagian orang menyelami lautan tanpa alat bantu pernapasan adalah sebuah keasyikan yang addictive. Freediving, hobi para pecinta laut ini sungguh menantang. Hanya berbekal satu kali tarikan napas mereka bisa menyelam hingga kedalaman puluhan meter.

"Awalnya saya hobi scuba diving, tapi begitu mengenal freediving sekarang saya justru lebih sering menyelam bebas," ujar Kukuh penyuka hobi ekstrim ini.

Apa nikmatnya menyelam di laut tanpa alat bantu pernapasan? Bagaimana menikmati keindahan bawah laut dengan napas terbatas?

"Saya seperti selalu mengucap syukur untuk setiap napas yang saya hirup. Di bawah sana keindahan yang dulunya saya bisa nikmati berlama-lama dengan oksigen di tabung scuba, kini kian bernilai seiring dengan tiap bulir oksigen yang saya optimalkan dari satu kali tarikan napas," ulasnya.

"Oksigen seperti setetes air di tengah gurun pasir, dan di saat bersamaan pemandangan di bawah sana seperti belantara tropis yang begitu nyaman," tuturnya lagi. Memang adakalanya keindahan sekejap lebih berharga daripada saat kita punya banyak waktu untuk menikmatinya.

Namun, selain untuk menikmati keindahan bawah laut, hobi freediving juga menuntut diri untuk mampu mengetahui batas diri. Memaksakan diluar kemampuan jelas sangat terlarang.

Para penggemar hobi freediving ini rutin berlatih bersama di kolam renang Senayan, Jakarta setiap minggu pagi pukul 09.00 - 12.00 dan kamis malam 18.00 - 21.00. Kalau ingin berkenalan dengan mereka bisa langsung gabung di kolam atau bisa menyapa mereka di grup facebook Lets Freedive.

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Menyongsong Terbitnya Rupiah Digital

Episode 4: Relasi Kuasa: Akar Kekerasan & Pengaturannya Dalam UU TPKS

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Mendorong Vaksinasi Booster untuk Antisipasi Kenaikan Kasus Covid-19 di Akhir Tahun