Film 'Semesta': Memperjuangkan Aspirasi Tanpa Bergantung Pada Negara

KBR mendapat kesempatan berbincang langsung dengan beberapa tokoh film 'Semesta' di Jakarta. Berikut cuplikan kisah dan aspirasi mereka.

BERITA | INTERMEZZO

Kamis, 23 Jan 2020 20:20 WIB

Author

Adi Ahdiat

Film 'Semesta': Memperjuangkan Aspirasi Tanpa Bergantung Pada Negara

Wajah para sosok inspiratif yang diangkat film 'Semesta'. (Poster: Tanakhir Films)

KBR, Jakarta - Semesta adalah film dokumenter produksi Tanakhir Films yang bakal tayang di bioskop mulai Kamis, 30 Januari 2020.

Film ini menampilkan kisah tentang tujuh sosok inspiratif dari berbagai pelosok Nusantara. Mereka memperjuangkan aspirasi pelestarian lingkungan dengan caranya masing-masing, secara mandiri, tanpa bergantung pada negara.

KBR mendapat kesempatan berbincang langsung dengan beberapa tokoh film Semesta di Jakarta, Kamis (23/1/2020). Berikut cuplikan aspirasi mereka.


Pak Is: Produksi Pangan Ramah Lingkungan dan Berkeadilan Sosial

Iskandar Waworuntu, yang akrab dipanggil Pak Is, adalah penggerak Yayasan Bumi Langit, komunitas spiritual sekaligus tempat edukasi permakultur (pertanian berkelanjutan) di Yogyakarta.

Lewat permakultur, Pak Is berupaya mengusung gaya hidup yang tidak menghasilkan sampah, entah itu sampah bagi lingkungan, ataupun 'sampah' bagi tubuh manusia.

Sebagai penganut Islam, Pak Is pun berupaya memproduksi bahan pangan yang tidak cuma halal, tapi juga thayyib atau 'baik', sesuatu yang menurut dia sulit ditemukan saat ini.

"Misalnya, lembaga POM punya kategori barang (pangan) baik atau buruk. Kalau dari segi agama, ada MUI yang memutuskan apakah sesuatu halal atau haram. Tapi itu kan cara mereka. Kalau saya melihat itu nggak cukup," kata Pak Is kepada KBR.

"Saya mengambil ukuran, sesuatu yang baik itu harus environmentally sound dan socially just. Tidak menzalimi alam, dan harus berkeadilan secara sosial," tegasnya.


Inam: Melestarikan Hutan dengan Adat

Ada lagi Pius Agustinus Inam, Kepala Dusun Sungai Utik, Kalimantan Barat.

Inam berupaya melestarikan hutan di dusunnya dengan menegakkan hukum adat, mulai dari menerapkan aturan menebang pohon, sampai mengajari anak-anak bagaimana cara berladang yang tidak merusak hutan.

"Kalau bahasa orang Iban, sungai itu ibu, hutan itu bapak, air itu darah. Itu perlu kita lestarikan. Kalau hutan hancur, kita nggak bisa hidup," kata Inam.

Inam juga berkisah pernah melindungi hutannya dari perambahan dengan hukum adat.

"Berapa tahun lalu, kita pernah diancam oleh PT (perusahaan), mereka itu mau pencurian kayu. Kami tidak mau dirambah (hutannya), kami tetap menuntut, caranya lewat hukum adat," kata Inam kepada KBR.

"Waktu itu, warga melindungi (hutan) sendiri, kalau pemerintah tidak, memang dia berpihak pada perusahaan," ujarnya.


Romo Marselus: Menerangi Desa dengan Energi Terbarukan

Romo Marselus Hasan adalah seorang pastor yang ditugaskan memimpin gereja Katolik di Desa Bea Muring, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Saat Romo Marselus baru datang ke Desa Bea Muring tahun 2011, desa itu belum punya infrastruktur listrik.

Saat itu warga setempat hanya menyalakan listrik di malam hari, dengan generator BBM yang memakan biaya sekitar Rp900 ribu per bulan.

Romo Marselus pun memunculkan inisiatif untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) bersama warga secara swadaya, meski tak ada bantuan dari pemerintah setempat.

"(Pembangunan PLTMH) ada yang ditanggung oleh masyarakat, ada yang ditanggung oleh gereja. Yang ditanggung gereja itu pembangkit, yang ditanggung masyarakat pembelian jaringan dan instalasi, tenaga untuk buat bendungan, saluran, rumah turbin, itu menjadi tanggungan masyarakat," jelas Romo Marselus.

Hasilnya, sejak 2011 sampai sekarang, warga Desa Bea Muring bisa menikmati listrik hanya dengan biaya sekitar Rp100 ribu per bulan.

"Harapannya, baik masyarakat maupun pemerintah lebih utama mengembangkan energi terbarukan," ujarnya kepada KBR.


Semesta: Film Dokumenter yang Puitik

Selain nama-nama yang disebut di atas, film Semesta juga menampilkan sejumlah sosok inspiratif lain yakni Yusuf (Aceh), Tjokorda (Bali), Mamak Almina (Papua Barat), dan Cassandra (Tangerang Selatan).

Masing-masingnya punya cara sendiri dalam mewujudkan aspirasi mereka soal pelestarian lingkungan, yang terdokumentasikan dengan apik dalam film Semesta.

“Kami sepakat membuat film tentang perubahan alam yang bukan sekadar mendokumentasikan, tapi juga ada cara bertutur yang puitik, dan ada story yang kami coba bangun dari setiap lokasi atau sosok ini,” ujar Chairun Nissa, sutradara film Semesta.

Sebelumnya, film Semesta pernah masuk nominasi Film Dokumenter Panjang Terbaik di Festival Film Indonesia 2018.

Film ini juga pernah lolos kurasi dan diputar di Suncine International Environmental Film Festival yang berlangsung di Barcelona, Spanyol, November 2019.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Belgia Kewalahan Hadapi Gelombang Pandemi

Penerimaan Masyarakat terhadap Vaksin Covid-19 Masih Rendah

Ronde 6 - Petani Tembakau

Kabar Baru Jam 8