Ini Penyebab Utama Gempa di Indonesia

Menurut catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), rata-rata Indonesia mengalami 6.000 kali gempa setiap tahunnya. Apa penyebabnya?

RUANG PUBLIK | INTERMEZZO

Selasa, 08 Jan 2019 18:40 WIB

Author

Adi Ahdiat

Banyaknya gunung berapi sebagai penyebab gempa

Ilustrasi: Aktifitas Gunung Berapi.

KBR, Jakarta- Indonesia bukan hanya negeri dengan sejuta pesona, tapi juga sejuta potensi bencana. Ungkapan ini tentu tidak berlebihan, mengingat beberapa tahun belakangan negeri ini kerap diguncang gempa besar yang mematikan.

Sebut saja di antaranya: gempa Aceh  2004, gempa Nias   2005, gempa Padang 2009, gempa Lombok dan Palu  2018, serta gempa-gempa lain yang melanda bagian Barat hingga Timur Indonesia. Menurut catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),  rata-rata Indonesia mengalami 6.000 kali gempa setiap tahunnya.

Apa yang membuat Indonesia begitu sering dilanda gempa?


Gempa Akibat Tumbukan Tiga Lempeng Benua

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Sri Hidayati, mengungkapkan bahwa potensi gempa di Indonesia terutama disebabkan karena letak geografisnya.

Indonesia berada di atas pertemuan tiga lempeng tektonik dunia yakni lempeng Eurasia, Hindia-Australia dan Pasifik. Ketiganya merupakan lempeng tektonik yang memiliki pergerakan aktif dan berpotensi mengalami tumbukan satu sama lain. Di samping berpotensi menimbulkan gempa tektonik, tumbukan antar lempeng-lempeng ini juga bisa memicu terjadinya erupsi dan tsunami.


Gempa Karena Banyaknya Sesar Aktif

Dr. Daryono, kepala bidang informasi bidang gempa bumi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)  juga mengungkapkan betapa Indonesia sangat kaya dengan sesar aktif.

Sesar merupakan zona rekahan pada struktur batuan bumi yang telah mengalami pergeseran. Jika dalam 10.000 tahun terakhir sesar itu pernah bergerak, maka ia tergolong sebagai sesar aktif dan bisa menjadi sumber gempa bumi dangkal. Keberadaan sesar dapat dikenali dari bentukan lahan seperti pegunungan karst, canyon, lereng dan juga gumuk pasir.

Sampai saat ini BMKG telah memetakan sekitar 200 sesar aktif yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Namun menurut  Dr. Daryono, masih banyak pula yang belum terpetakan. Mengingat kekayaan struktur geologis tersebut, menjadi wajar jika di Indonesia ada 10 gempa yang terjadi setiap harinya.


Gempa Karena Banyaknya Gunung Api

Indonesia memiliki 127 gunung api aktif yang tersebar dari Sumatera hingga Papua. Dengan jumlah gunung api sebanyak itu, potensi terjadinya gempa vulkanik di Indonesia tentu semakin besar. 

Gunung-gunung api di Indonesia termasuk ke dalam rangkaian Cincin Api Pasifika atau Ring of Fire. Dalam wujud nyatanya, “cincin” ini merupakan rangkaian jalur magma yang melingkari Samudra Pasifik. Jalurnya terbentang mulai dari Chile di bagian Selatan benua Amerika, melewati Jepang, hingga ke Asia Tenggara. “Cincin” ini dikenal sebagai jalur gempa paling aktif di dunia.

Sebagai salah satu negara yang berada di atas Cincin Api Pasifik, Indonesia tentu memiliki kebutuhan mendesak untuk membangun sistem mitigasi yang efektif, baik mitigasi untuk gempa maupun untuk bencana “turunannya” seperti erupsi dan tsunami.


Solusi: Bangunan Tahan Gempa

Menurut Dr. Ir. Amien Widodo, ahli mitigasi bencana dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), sampai sekarang gempa masih menjadi fenomena alam yang tidak bisa diprediksi, dihindari, ataupun dijinakkan.

Pertumbuhan penduduk dan aktivitas pembangunan yang semakin tinggi juga mengakibatkan risiko gempa menjadi semakin besar.

Karena itu, Dr. Ir. Amien Widodo menegaskan akan pentingnya membuat bangunan tahan gempa. Bangunan di daerah rawan harus dirancang agar memiliki ketahanan berdasarkan skala gempa terbesar yang pernah melanda daerah tersebut. Cara demikian diharapkan bisa meminimalisir, bahkan meniadakan korban jiwa saat bencana itu terjadi.


(Dari berbagai sumber)

 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INTERMEZZO

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pegawai KPK Berstatus ASN, Independensi KPK Terancam