Taman Hiburan Pertama di Afghanistan

Di dalam taman hiburan ini ada tempat pelarian yang menyenangkan buat semuanya -- bebas dari ketakutan, serangan bom bunuh diri, tentara atau perang.

INDONESIA

Rabu, 10 Des 2014 12:54 WIB

Author

Ghayor Waziri

Taman Hiburan Pertama di Afghanistan

Afghanistan, Taman Hiburan, Kabul City Park, Perang, Ghayor Waziri

Ada antrian panjang untuk bisa masuk ke dalam taman hiburan, Kabul City park, yang dikelilingi kawat berduri. Tampak anak-anak dengan pakaian berwarna cerah menggandeng tangan orangtua mereka dan mereka terlihat melompat-melompat kegirangan.

Di dalam taman hiburan ini ada tempat pelarian yang menyenangkan buat semuanya -- bebas dari ketakutan, serangan bom bunuh diri, tentara atau perang.

Fakhroden, yang berusia 9 tahun langsung berlarian begitu berada di dalam taman.

“Saya merasa sangat gembira, wow semuanya terlihat bagus.”

Anak-anak yang menjerit senang tidak tahu harus mulai dari mana. Ada karakter besar ramah yang terlihat mirip Minnie Mouse dan si kucing Tom dari kisah Tom and Jerry. Juga ada wahana klasik seperti kincir raksasa, boom boom car, komedi putar dan tempat melukis wajah.

Ahmad yang berusia 17 tahun baru saja turun dari wahana perahu ayun. Dia sudah satu jam berada di sini.

“Taman hiburan ini paling keren di Kabul. Tidak ada taman seindah ini! Saya suka semua wahana di sini tapi paling suka dengan wahana pesawat ulang alik. Sangat menyenangkan mendengar orang-orang berteriak senang.”

Selama dua hari dalam sepekan, taman ini dibuka khusus untuk anak-anak dan perempuan. Di hari lain, semua orang bisa datang.

Parween Rahmati, guru TK di Kabul, adalah salah satu perempuan yang datang ke taman hiburan ini bersama keluarganya untuk menghabiskan waktu dan bersenang-senang. 

“Kami ingin anak-anak kami bisa bergembira. Kami sudah dua jam berada di sini dan merasa sangat senang. Saya ingin taman hiburan seperti ini dibangun di penjuru Afghanistan. Saya suka dengan  pengaturan yang ada di taman ini dan taman ini juga aman dan kondisinya bagus,” katanya.

Kabul yang dihuni enam juta jiwa adalah sebuah benteng virtual. Gedung-gedung utama dilindungi dinding beton dan kawat berduri dan jalanannya macet. Pasukan keamanan bersenjata ada hampir di setiap sudut jalanan.

Afghanistan dilanda perang selama 30 tahun. Ketika pasukan keamanan PBB dan NATO bersiap untuk meninggalkan negara itu pada akhir 2014, pemberontak Taliban tidak menampakkan tanda-tanda mereda.

Hanya sedikit keluarga di Kabul yang tidak tersentuh kekerasan kata Habib Allah Asmati, general manajer taman hiburan itu.

“Tujuan bisnis ini untuk menghapus kesedihan dari pikiran masyarakat kita meski untuk waktu yang singkat. Sangat jelas kalau masyarakat kita sangat butuh hiburan. Sekitar tiga ribu sampai lima ribu pengunjung datang kemari setiap hari.”

Taman hiburan ini dibangun di atas lahan seluas 10 hektar milik Pemerintah Kota Kabul dan disewakan selama lima tahun kepada sebuah perusahaan swasta.

Khozhman Olumi, wakil walikota Kabul mengatakan sekitar Rp18 milyar diinvestasikan untuk taman hiburan ini dan pemerintah kota mendapat 26 persen dari keuntungannya. Dia mengatakan juga kalau pemerintah akan mendukung lebih banyak taman hiburan seperti ini.

“Di masa lalu kami tidak punya taman hiburan seperti ini dan pikiran anak-anak kami penuh dengan perang. Kami ingin menciptakan kenangan baru untuk anak-anak dan menunjukkan kepada mereka masa depan yang cerah tanpa perang. Taman hiburan ini sangat populer dan kami melihat banyak pengunjung bahagia dan mendengar teriakan-teriakan sukacita. Ini benar-benar membuat kami bahagia. Kami telah menerima proposal untuk membangun taman hiburan lain yang lebih bagus dari ini.”

Ahmad yang berusia 17 tahun sudah menghabiskan waktu berjam-jam di taman hiburan ini dan dia dalam perjalanan pulang.

“Saya rasanya melarikan diri dari berita-berita seperti ledakan bom, serangan bom bunuh diri dan perang.”

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Eps.2: Kuliah di UK, Cerita dari Rizki Putri Part 2

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17