Pengungsi Akibat Operasi Militer di Pakistan Ditolak Masyarakat

Sebuah aliansi yang terdiri dari 23 kelompok nasionalis meluncurkan gerakan untuk menghentikan pengungsi masuk ke wilayah itu.

INDONESIA

Senin, 15 Des 2014 11:26 WIB

Author

Naeem Sahoutara

Pengungsi Akibat Operasi Militer di Pakistan Ditolak Masyarakat

Pakistan, pengungsi, perang, Taliban, Naeem Sahoutara

Tentara Pakistan sedang memperluas serangan melawan militan Taliban yang sedang berlangsung di Waziristan Utara. Pemerintah berjanji akan terus berperang sampai militan terakhir mati.

Operasi yang dimulai Juni lalu itu membuat hampir satu juta orang mengungsi. Puluhan ribu dari mereka diperkirakan ada di provinsi Sindh.

Loi Khan yang berusia 70 tahun mengemis di kawasan kumuh yang ada di pinggiran kota Karachi. Dia meninggalkan kampung halamannya di Waziristan Utara Juni lalu setelah pertempuran hebat terjadi antara militer pemerintah dan Taliban. Dia berada di sini bersama dua istrinya dan tujuh anak.

“Lihat, ini ada orang baik yang memberi saya lima ribu rupiah. Anak-amak saya dapat makanan dari sebuah pesta perkawinan dekat sini. Beginilah kami hidup.”

Operasi militer pemerintah telah membuat satu juta orang terpaksa mengungsi sejak dilancarkan Juni lalu.

Tempat penampungan yang dibuat pemerintah di barat laut provinsi Khyber Pakhtunkhawa tidak dilengkapi fasilitas dasar. Akibatnya sebagian besar pengungsi seperti Khan mengungsi ke kota-kota seperti Karachi.

Mereka berharap bisa mendapatkan pekerjaan... tapi ternyata itu tidak mudah.

“Saya kehilangan mata pencarian dan anak-anak saya tidak bisa lagi sekolah. Sudah beberapa bulan ini kami hidup karena kemurahan Tuhan. Tidak ada pejabat pemerintah yang datang dan bertanya apakah kami butuh bantuan atau memberi uang.”

Selain harus berjuang untuk hidup, keberadaan mereka di sana pun ditolak masyarakat.

Sebuah aliansi yang terdiri dari 23 kelompok nasionalis meluncurkan gerakan untuk menghentikan pengungsi masuk ke wilayah itu. Pada Agustus lalu mereka menutup jalan raya dekat Loi Khan tinggal.

Mereka berteriak ....”Taliban tidak diterima di Sindh”...”Orang dari Waziristan Utara dan Swat tidak diterima di sini.”

Pemimpin unjuk rasa Jalal Mehmood Shah mengatakan mereka yakin beberapa dari pengungsi itu adalah militan.

“Kedamaiana di daerah kami akan terganggu dengan kedatangan militan dari Waziristan Utara yang menyamar sebagai pengungsi. Kekerasan, obat-obatan dan senjata akan mengancam kampung halaman kami. Dulu orang Afghanistan dan Lembah Swat datang kemari dan menggangu perdamaian Karachi. Sekarang mereka datang dari Waziristan Utara.”

Di bawah tekanan, pemerintah mulai memeriksa para pengungsi saat mereka tiba. Syed Qaim Ali Shah adalah Gubernur Sindh.

“Kami sudah membuat pos pemeriksaan di jalan raya untuk memeriksa tidak ada teroris yang menyamar sebagai pengungsi.”

Pekerja sosial Shah Wali Mehsud sudah membantu ratusan keluarga yang hidup dalam persembunyian. Dia mengatakan mereka membutuhkan bantuan dan dukungan bukan intimidasi.

“Mereka hidup dalam kondisi yang mengenaskan dan ketakutan karena tentara melancarkan operasi melawan para penjahat dan mungkin akan menangkap mereka atas kecurigaan punya hubungan dengan Taliban. Seharusnya pengungsi boleh memilih apakah mau tinggal di tempat pengungsian atau pindah ke daerah lain. Tidak boleh ada pembatasan. Ini melanggar konstitusi pasal 20 yang memberikan hak pada setiap warga negara untuk tinggal dimana saja.”

Tentara secara perlahan memperluas operasi ke daerah kesukuan lainnya. Pemerintah mengakui tidak bisa menangani besarnya pengungsi dan sudah mencari bantuan kemanusiaan dari Amerika Serikat. 

Pemerintah menerima kucuran dana lebih dari Rp200 milyar dari USAID untuk menyediakan makanan, tempat penampungan dan fasilitas kesehatan bagi para pengunsi.

Pengamat keamanan Ikram Sehgal mengatakan pemerintah harus memastikan mereka mampu mengurus para pengungsi.

“Jika para pengungsi tidak diurus dengan baik akan menimbulkan kebencian dan akibatnya tidak akan pernah selesai. Apa yang seharusnya menghapus terorisme, malah membuat orang makin cenderung ke militansi.” 

Kembali ke kawasan kumuh, keluarga Loi Khan baru saja selesai makan malam. Dia mengatakan tidak mau tinggal di Karachi dan bermimpi suatu hari nanti mereka bisa pulang.

“Mengapa tidak? Kerabat, teman, rumah dan semuanya ada di sana. Insha Allah kami akan pulang kampung dan kembali hidup damai.”

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Masyarakat Sipil Tolak Rencana Amandemen UUD 1945