Orang-orang Thailand di Pengasingan

Ratusan akademisi dan aktivis ditahan, sensor ketat diberlakukan pada semua media.

INDONESIA

Senin, 08 Des 2014 12:41 WIB

Author

Kannikar Petchkaew

Orang-orang Thailand di Pengasingan

Thailand, militer, UU darurat, sensor, Kannikar Petchkaew

Sejak merebut kekuasaan pada Mei tahun ini, militer Thailand telah menolak segala bentuk perbedaan pendapat.

Saluran TV dan stasiun radio berhenti siaran. Hanya versi sensor lah yang dibolehkan mengudara. Ratusan akademisi dan aktivis ditahan, sensor ketat diberlakukan pada semua media.

Militer mengatakan kudeta itu dilakukan untuk menjaga ketertiban setelah enam bulan protes jalanan oleh pengunjuk rasa anti-pemerintah – kelompok ini disebut juga sebagai 'kaos merah'.

Militer mengatakan reformasi akan dilakukan tapi untuk saat ini mereka menuntut dukungan penuh.

Banyak akademisi dan jurnalis mengatakan mereka tidak bisa hidup di bawah sistem tersebut dan sekarang berusaha untuk mendapatkan suaka di negara-negara  Barat.

Dari rumah barunya di Amerika Serikat, Jom Petpradab menelfon lewat Skype untuk menghubungi keponakannya di Thailand.

Dia mengatakan padanya kalau dia baik-baik saja dan memintanya tidak khawatir. Dia juga mengingatkan keponakannnya untuk tetap bersekolah dan melakukan yang terbaik.
 
Setelah telfon usai, Jom mengaku hanya memasang wajah berani.

“Saya tidak baik sama sekali. Tapi saya lebih suka tinggal di mana saya punya kebebasan berekspresi dan bisa bekerja tanpa intervensi atau dibawah tekanan.”

Jom Petpradab meninggalkanThailand tak lama setelah kudeta militer yang terjadi Mei lalu.

Dia bekerja sebagai jurnalis selama lebih dari 20 tahun di negeri itu. Tapi setelah kudeta, dia merasa tidak ada gunanya lagi dia tinggal di tanah kelahirannya – karena media tidak lagi bebas.

Dia khawatir dipenjara karena memberikan kesempatan siaran bagi tokoh-tokoh kontroversial – termasuk bekas Perdana Menteri Thaksin Shinawatra.

“Saya tidak bisa menghilangkan kekhawatiran soal apa yang akan terjadi jika pengajuan suaka saya tidak dikabulkan. Tapi saya dengar kalau kasus saya sedang diproses dan saya bisa tinggal di sini ketika visa turis saya habis.”

Di San Fransisko, ada Jarupong Ruangsuwun, bekas Menteri Dalam Negeri Thailand yang berasal dari partai yang didirikan Thaksin.

Jarupong meninggalkan Thailand bersama keluarganya beberapa minggu setelah kudeta dan kini tinggal di Amerika Serikat menunggu suaka.

Dia mengaku menghabiskan waktu dengan berbincang-bincang secara online dengan orang-orang di kampung halamannya.

“Saya berbincang dengan mereka menggunakan aplikasi LINE. Saya kecanduan aplikasi itu dan juga internet. Dengan kebebasan berekspresi di sini, saya bisa meneliti apa saja dan bicara soal apa saja. Tapi orang-orang di Thailand tidak bisa melakukannya.”

Junta militer telah mengeluarkan surat perintah penangkapannya. Dia menghadapi tiga tuduhan: tidak menaati panggilan junta, melanggar UU tentang komputer dan pencemaran nama baik.

Dan jika ia kembali ke Thailand, dia akan dijebloskan ke penjara.

“Meski umur saya sudah 68 tahun tapi saya akan terus melawan. Tidak dengan cara radikal. Kami hanya akan terus bicara agar seluruh dunia tahu kebenarannya dan mendorong perubahan. Dunia tidak akan mentolerir kediktatoran. Orang Thailand tidak pernah mentolerir kediktatoran, hanya tidak bisa mengatakan kebenaran karena ditodong senjata. Senjata yang dibeli dengan keringat dan kerja keras rakyat.”

Kritsuda Khunasaen adalah pengunjuk rasa anti-pemerintah yang sempat ditangkap militer selama 30 hari.

Selama ditahan, dia mengaku matanya ditutup lalu dipukuli dan mengalami kekerasan seksual.

Begitu dibebaskan dia keluar dari negeri itu. Sekarang dia berada di Norwegia dan tinggal di rumah singgah bagi para pencari suaka.

“Ketika saya tiba empat bulan lalu, saya merasa begitu tertekan dan merasa sangat takut dan marah. Saya tidak bisa berbicara dalam bahasa mereka. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi dan seperti apa hidup di sini. Tapi semuanya sekarang lebih baik berkat dukungan banyak orang dan saya mulai bisa beradaptasi dan mulai bersikap optimis. Saya merasa sangat beruntung bisa melarikan diri dengan cepat. Saya dapat hidup baru di sini. Saya punya kebebasan di sini. Sangat menakjubkan karena negara lain yang telah membantu saya tapi negara saya sendiri malah melakukan sebaliknya.”


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18