Menghidupkan Kembali Warisan Budaya Afghanistan

Di sini terjadi percampuran tradisi India, Persia, dan Asia Tengah yang menciptakan budaya seni yang unik.

INDONESIA

Jumat, 19 Des 2014 18:39 WIB

Author

Ghayor Waziri

Menghidupkan Kembali Warisan Budaya Afghanistan

Afghanistan, budaya, warisan, perang, Ghayor Waziri

Afghanistan pernah menjadi pusat peradaban besar di jantung Jalur Sutra.

Di sini terjadi percampuran tradisi India, Persia, dan Asia Tengah yang menciptakan budaya seni yang unik.

Konflik puluhan tahun telah menghancurkan hampir semua tradisi seni dan arsitektur yang kaya itu.

Selama Taliban berkuasa, banyak seniman terpaksa meninggalkan negeri itu dan banyak bangunan dihancurkan.

Bagian kecil Kota Tua Kabul ini disebut Murad Khane. Berabad-abad lalu, para pengrajin mengukir bangunan kayu yang ada di sini.

Tapi perang bertahun-tahun, kemiskinan serta pengabaian, membuat tempat ini ditutupi sampah.

Tidak ada listrik dan rumah-rumah di sini terancam dengan keberadaan pengembang.

Tapi sekarang pembangunan kembali sedang berlangsung, didukung LSM Turquoise Mountain Foundation.

Mereka berupaya dengan cepat memperbaiki bagian dari martabat dan sejarah Kabul ini sebelum hilang untuk selamanya.

Abdul Waheed Khalily adalah direktur Turquoise Mountain.

“Karena Afghanistan sudah menderita selama tiga dekade terakhir karena perang dan selama itu pula kami kehilangan warisan budaya Afghanistan. Ada seniman yang meninggalkan Afghanistan dan yang lainnya meninggal karena usia. Sekarang untuk merenovasi area sejarah, kami terlibat di daerah Murad Khani, yang merupakan salah satu bagian dari kota tua Kabul.”

Untuk memperbaiki bangunan-bangunan itu, mereka telah mendirikan sebuah sekolah untuk melatih generasi baru Afghanistan dalam bidang kerajinan kayu, kaligrafi dan lukisan miniatur.

Di salah satu kelas, ada Ahmad Rashid yang berusia 19 tahun sedang mengukir gambar merpati di permukan kayu.

“Saya sudah mengerjakan ukiran ini selama dua bulan. Saya hampir selesai. Merpati adalah simbol perdamaian; sesuatu yang sangat kami butuhkan di negara ini. Saya akan lulus tahun depan dan saya yakin saya bisa mencari uang dari profesi ini karena banyak orang kaya yang berminat pada seni ini.”

Gurunya Baqeer Alizada telah membantu merenovasi istana Koti Baghcha dan Dell Koshah yang indah yang dibangun tahun 1920an.

“Saya menyukai profesi ini dan juga tempat-tempat bersejarah di negeri ini. Mereka bisa bercerita tentang sejarah kami dan menunjukkan betapa pentingnya Afghanistan dalam perkembangan arsitektur Islam.” 

Perhiasan adalah bentuk seni klasik lainnya yang diajarkan di sekolah seni dan arsitektur Afghanistan ini.

Maryam yang berusia 18 tahun ini belajar untuk menjadi seorang tukang emas.

“Kalau sudah lulus dari sekolah ini, saya akan terus menekuni pekerjaan ini. Saya akan menghidupkan kembali kerajinan perhiasan klasik yang telah hilang. Menurut saya penting untuk menghidupkan kembali tempat-tempat bersejarah dan memastikan generasi baru menjaga warisan seni kami agar tetap hidup.”

Zabuhullah Noori, koordinator komunikasi kelompok itu mengatakan mereka sekarang sudah mendapatkan pesanan dari luar negeri.

“Perhiasan kami sangat populer di Eropa dan penjualannya bagus terutama di Inggris. Kami juga punya karyawan yang bekerja di hotel bintang lima di Arab Saudi. Dan tak lama lagi kami akan punya kontak dengan museum Qatar.”

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Kontras Surabaya Desak Polisi Tangkap Pelaku Rasisme di Asrama Mahasiswa Papua