Stigma terhadap HIV/AIDS di Myanmar Mini

Pekerja migran Burma yang tinggal di Thailand rentan terkena HIV/AIDS

INDONESIA

Senin, 09 Des 2013 15:10 WIB

Author

Craig Knowles DVB

Stigma terhadap HIV/AIDS di Myanmar Mini

Burma, HIV/AIDS, pekerja migran, stigma dan diskriminasi, DVB

Industri perikanan Thailand menyediakan lapangan kerja bagi puluhan ribu pekerja migran Burma.

Mereka melarikan diri dari negaranya demi penghidupan yang lebih baik.

Upahnya kecil, pekerjaannya sulit dan berbahaya.

Mahachai seringkali disebut “Myanmar Mini”, jaraknya sekitar 45 kilometer dari Bangkok.

Kebanyakan buruh pelabuhan ini mendapatkan 60 ribu rupiah per hari.

Tapi ini pekerjaan yang berbahaya.

Sepertiga pekerja ini berstatus ilegal. Dan ini membuat mereka jadi sasaran empuk pemerasan dari pihak berwenang.

Mereka tidak berpendidikan tinggi dan terus bermimpi bisa pulang ke rumah suatu hari nanti.

Tapi banyak pekerja migran ini yang menikmati saat-saat di Thailand.

Karena di sini mereka bisa menikmati seks bebas dan punya lebih dari satu partner seks, karena seks bukan hal tabu seperti di negara asal mereka.

Ini juga membuat mereka rentan terpapar HIV, khususnya bagi pekerja yang masih muda. 



Zayar Lin dari yayasan Pendidikan dan Pembangunan.

“Pekerja migran Burma dengan HIV paling banyak berusia antara 15 sampai 25 tahun. Ada dua alasan utama. Pertama, mereka ingin bereksperimen. Kedua, kurangnya kesadaran akan HIV/AIDS karena mereka tidak berpendidikan.”

Pusat informasi dan klinik ini dikelola LSM Raks Thai.

Di sini, pekerja migran asal Burma bisa mencari tahu informasi soal pencegahan dan penanganan HIV/AIDS.

Tin Tin Aye yang berusia 42 tahun kerap mendatangi pusat informasi ini sejak suaminya meninggal akibat penyakit yang berkaitan dengan AIDS 7 tahun lalu.

“Saya baru saja tahu soal HIV.  Dulu waktu masih tinggal di Myanmar, saya sama sekali belum pernah mendengarnya.”

Di sini, para pekerja migran Burma diajari cara memakai kondom yang benar serta cara melindungi diri sendiri dari HIV dan penyakit menular seksual lainnya.

Mereka juga bisa mengakses layanan dukungan sebaya dan layanan konsultasi.

Nwe adalah konselor dukungan sebaya di Buddy Center.

“Mereka perlu diberi penyuluhan soal HIV/AIDS. Jadi kami berikan materi untuk dibaca, sehingga mereka tahu soal penularan HIV dan penyakit menular seksual lainnya. Juga bagaimana memakai kondom yang benar, sehingga bisa mencegah diri tertular HIV dan penyakit menular seksual lainnya.”

Para pekerja migran juga mendapat arahan untuk pemeriksaan kesehatan, perawatan dan dukungan dari klinik kesehatan terdekat.

Walau di sana ‘tempat yang aman’ dan tak perlu menyebutkan nama, banyak penduduk Burma yang takut akan stigma dan diskriminasi jika mereka kedapatan positif HIV.

Dr Khin Thant Zin adalah penasihat kesehatan di Yayasan Raks Thai.

“Saat Anda mengetahui kalau Anda positif HIV, Anda tidak mau memberitahukan kepada orang lain. Bagaimana Anda menyampaikannya kepada keluarga, suami atau istri. Terutama saat mereka benar-benar dalam kondisi kesehatan yang buruk dan tidak ada yang merawat mereka. Pada saat itulah mereka akan datang ke klinik Raks Thai. Biasanya mereka takut akan diskriminasi dan stigma yang ada dalam masyarakat.”



Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11