Bagikan:

Sekolah Bagi Pengungsi di Malaysia

Sekolah Komunitas Fugee dibangun untuk memberikan alternatif pendidikan bagi mereka.

INDONESIA

Sabtu, 21 Des 2013 11:26 WIB

Sekolah Bagi Pengungsi di Malaysia

Malaysia, pengungsi, sekolah, Deborah Henry, Malaysiakini

Menurut Badan Pengungsi PBB, Malaysia menampung sekitar 200 ribu pengungsi, pencari suaka dan mereka yang tergusur.

Komunitas ini mulai dari kelompok Muslim Filipina di Sabah sampai pengungsi Somali di Kuala Lumpur.

Anak-anak mereka tak punya akses ke sekolah milik pemerintah.

Sekolah Komunitas Fugee dibangun untuk memberikan alternatif pendidikan bagi mereka.

Lima jam tiap hari, Sekolah Komunitas Fugee menyediakan pendidikan bahasa Inggris, Matematika, pengetahuan alam dan aneka pelajaran lainnya – mulai dari seni, komputer, teater serta gaya hidup hijau.

Sekolah ini dibangun dengan bantuan bekas Miss Malaysia, Deborah Henry.

“Setelah saya menang Miss Malaysia pada 2007, saya ingin melakukan sesuatu dengan bantuan LSM di Malaysia. Saya hubungi Badan PBB soal pengungsi di sini. Lalu mereka mengontak saya dan meminta saya membuat dokumenter soal pengungsi. Salah satu keluarga yang kami datangi berasal dari Somalia. Mereka tinggal di apartemen ini. Saya datang ke sini dan mewawancarai keluarga ini – ada 4 bersaudara dan nenek mereka. Saya melihat anak-anak ini dan mereka tak punya apa pun. Mereka tidak sekolah, tidak berpendidikan dan sangat tertutup. Saya tidak bisa pergi begitu saja dan berharap hidup mereka lebih baik. Saya harus melakukan sesuatu.”

Henry bekerjasama dengan seorang pendidik Somali yang dihormati dan pemimpin komunitas, Shafie Sharif Mohamed.

“Saya ke Malaysia karena ada perang di Somalia. Waktu saya datang ke sini, saya dapat perlindungan. Ketika itu tahun 2008, dan tidak ada sekolah di sini untuk anak-anak Somalia. Tak ada pusat pendidikan  yang bisa didatangi. Saya hanya punya sedikit uang. Jadi kenapa tidak saya pakai untuk pendidikan anak-anak?”

Shafie Sharif Mohamed dulu adalah guru di sekolah swasta di Somalia.

“Saya juga aktivis yang bekerja di LSM. Saya biasa menggelar seminar, bicara soal perdamaian, hak asasi dan kekerasan terhadap perempuan. Jadi begitu saya di sini, saya menjadi guru sekaligus pemimpin komunitas.”

Lewat dukungan sponsor perusahaan dan pribadi, juga dari penggalangan dana, Sekolah Fugee menyediakan buku, guru tetap dan mentor bagi anak-anak.

Sekolah ini berupaya menolong anak-anak pengungsi untuk jadi bagian dari masyarakat Malaysia.

“Sebagai bekas Miss Malaysia, juga orang Malaysia biasa, saya ingin mereka mengenang saat-saat di Malaysia dengan menyenangkan... kalau ada orang Malaysia yang peduli pada mereka. Supaya mereka tak melulu merasa sebagai orang asing, sebagai imigran gelap, atau pengungsi yang tak berhak  hidup bersama kami. Mereka juga bisa berkontribusi terhadap ekonomi, terhadap masyarakat. Ini sesuatu yang bisa dipelajari. Ini adalah pengalaman yang menyenangkan.”

Mohamed Adullah adalah satu dari 100 murid yang sekolah di sini.

Dia lari dari perang Somali adan tiba di Malaysia pada November 2008.

“Saya ingin kuliah di Malaysia. Saya ingin membawa anak dan istri saya ke sini untuk memulai hidup baru. Saya bisa beradaptasi di sini – makanan, orang dan bahkan bahasanya. Saya tahu berbagai karakter dan perilaku di sini. Ini adalah negara yang damai, negara Islam dan negara yang indah.”

Deborah Henry punya harapan besar untuk sekolah ini.

“Kami menyiapkan mereka untuk dunia, tidak hanya untuk Malaysia atau Somalia. Kami ingin memberdayakan mereka, menyiapkan mereka dengan rasa percaya diri yang tinggi. Meski mereka kesulitan, di mana pun mereka berada, mereka bisa melakukan apa pun.”

Mulai dari kelas Matematika, bicara di depan publik sampai bermain peran, Sekolah Fugee menyediakan pendidikan menyeluruh bagi murid-muridnya.

Tanpa sekolah ini, kebanyakan anak-anak bakalan tak dapat pendidikan apa pun.



Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Most Popular / Trending