Rencana Vietnam Atasi Polusi Jalanan

Kini Vietnam tengah berusaha menghindari masalah kemacetan seperti yang dialami Jakarta, atau polusi berat seperti di Beijing.

INDONESIA

Senin, 09 Des 2013 16:53 WIB

Author

Lien Hoang

Rencana Vietnam Atasi Polusi Jalanan

Vietnam, polusi, kemacetan, sistem kereta api bawah tanah, Lien Hoang

Menyeberang jalanan di Vietnam butuh keahlian khusus.

Dan ini adalah hal pertama yang diamati turis saat tiba di negeri ini.

Bisa melewati semua sepeda motor tanpa jalur penyeberangan khusus adalah prestasi besar.

Tapi tak lama lagi, kesulitan ini bakal sedikit berkurang.

Pemerintah tengah memperkenalkan langkah-langkah baru untuk mengatasi kemacetan dan polusi yang diakibatkannya.

Ini penjelasan Trinh Van Chinh dari Universitas Transportasi Ho Chi Minh City.

“Dalam konteks pembangunan, pertama-tama kita harus membangun trotoar sehingga masyarakat bisa berjalan kaki dengan bebas. Kedua rencana pembangunan dan reformasi publik harus dilakukan secara menyeluruh. Ketiga kami harus mendorong penggunaan mobil listrik di pusat kota.”

Pemerintah juga berencana mengenakan biaya untuk kendaraan yang masuk ke pusat kota dan mengubah beberapa jadwal sekolah dan kantor.

Tujuannya untuk mengurangi polusi... meski kondisinya tak separah di Cina.
 
Akira Hosomi adalah perwakilan Vietnam di Konsultan Internasional untuk Transportasi Jepang.

“Meski angka polusi udara negara ini tak jauh berbeda dengan kota-kota lain, tapi orang-orang di Vietnam lebih rentan terkena polusi udara. Ini karena 80 sampai 90 persen masyarakat naik sepeda motor untuk beraktivitas.”

Dan jika masyarakat bepergian di waktu yang berbeda, maka saat jam sibuk, lalu lintas tidak akan begitu padat.



Kembali Chinh dari Universitas Transportasi.

“Menurut saya, mengubah jam masuk sekolah dan kantor akan meminimalkan kemacetan di pagi hari. Tentu saja itu akan berpengaruh besar pada kehidupan sehari-hari warga. Tapi seperti yang saya lihat di negara-negara lain di Asia dan Eropa, mereka semua punya solusi yang sama.”

Puluhan ribu orang Vietnam meninggal akibat kecelakaan lalu lintas setiap tahun.

Sementara yang lainnya mengalami luka-luka atau penyakit akibat masalah lalu lintas.

Nguyen Nhu Thach Truc adalah presiden RBX, sebuah kelompok lingkungan pelajar.

“Saya dulu biasa naik sepeda ke sekolah karena saya suka bersepeda dan sekalian olahraga. Tapi setahun setelahnya saya berhenti bersepeda karena saya kena asma. Saya tidak memakai masker jadi saya menghirup terlalu banyak debu. Sekarang saya mengendarai sepeda motor.”
 
Tapi bila polusi berkurang, masyarakat akan kembali mengayuh sepedanya.

Seorang warga Vietnam, Do Quang Huy, mengatakan mereka juga akan jadi lebih senang berjalan kaki.

“Jika hanya sedikit mobil di pusat kota, terutama di jalan Nguyen Hue dan Le Loi, maka jalanan tidak akan begitu macet. Wisatawan pun bisa berjalan-jalan dengan lebih mudah. Sekarang, jika Anda berjalan-jalan di luar saat jam sibuk, ada banyak polusi dan suara klakson. Orang jadi enggan untuk menyeberang jalan. Itu yang teman-teman saya katakan saat mereka mengunjungi Vietnam. Mereka benar-benar takut.”

Huy juga mengatakan akan mengandangkan sepeda motornya jika rencana angkutan massal kereta api yang baru berjalan.

Akira Hosomi meniru pengalaman membangun sistem kereta bawah tanah Jepang yang terkenal, untuk membantu Vietnam membangun sistem kereta apinya sendiri.

“Membangun sistem kereta api bawah tanah memang tidak menyelesaikan semua masalah, jadi penting untuk memadukan beberapa kebijakan. Jika kereta api sudah ada tapi masyarakat masih memakai kendaraan pribadi, maka ini akan sulit. Maka nantinya kami akan mengontrol kendaraan pribadi dan mengajak masyarakat naik kendaraan umum. Tapi jika Anda melakukannya sekarang tanpa sarana pendukung, masyarakat tidak punya alternatif lain sehingga banyak orang akan mengeluh.”

Jika Vietnam bisa mengurangi polusi dan kemacetan lalu lintasnya, menyeberang jalan mungkin bukan lagi sebuah petualangan.

Tapi paling tidak, kota akan lebih bersih dan aman.





Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kesiapan Mental sebelum Memutuskan Menikah

Kabar Baru Jam 8

Setahun Pandemi dan Masalah "Pandemic Fatigue"

Kabar Baru Jam 10