Aktivis Tanah Kamboja Tep Vanny Kembali Dipenjara

Kali ini, kejahatannya yang dituduhkan adalah mengganggu ketertiban masyarakat.

INDONESIA

Senin, 24 Nov 2014 13:08 WIB

Author

Borin Noun

Aktivis Tanah Kamboja Tep Vanny Kembali Dipenjara

Kamboja, Tep Vanny, Boeung Kak, perampasan lahan, Borin Noun

Dua tahun sejak dibebaskan dari penjara – Tep Vanny kembali ditangkap polisi.

Kali ini, kejahatannya yang dituduhkan adalah mengganggu ketertiban masyarakat.

Long Di Monch adalah juru bicara kota Phnom Pehn.

“Mereka melanggar UU lalu lintas Kamboja. Mereka menutup jalan umum dan melakukan kekerasan terhadap pegawai negeri.”

Tep Vanny bersama sekitar 100 pengunjuk rasa meletakkan tempat tidur di sebuah jalanan yang sibuk di Phnom Penh.

Mereka menuntut pemerintah kota membantu mengatasi banjir di daerah mereka.

Mereka bilang rumah mereka banjir ketika hujan turun akibat pembanguan Danau Boeung Kak.

Danau itu dijadikan jalan untuk proyek pembangunan raksasa yang didukung anggota parlemen dari partai Perdana Menteri, Hun Sen.

Saat polisi membubarkan aksi unjuk rasa itu, Tep Vanny berteriak lewat pengeras suara.

“Anda orang yang kejam. Anda seharusnya menghormati hak asasi manusia. Kami hidup sengsara dan ditindas pemerintah setiap hari. Beri kami keadilan dan rumah yang layak! Anda tidak mendukung kami dan tidak memberikan tempat tinggal yang layak. Saya akan meminta bantuan komunitas internasional.”

Tep Vanny adalah pemimpin Boeung Kak 13 – kelompok perempuan yang menolak digusur dari rumah mereka yang akan dijadikan proyek pembangunan.

Rumah-rumah yang dihuni 4000 orang dihancurkan dan ribuan sumber mata pencaharian mereka ditenggelamkan.

Hari ini ada sekitar 200 orang berkumpul di luar Parlemen Kamboja menuntut pembebasan Tep Vanny dan aktivis lainnya.

Bov Sophea, aktivis Boeung Kak lainnya mengatakan mereka tidak akan berhenti sampai tuntutan dibatalkan.

“Kami akan melakukan kampanye nasional. Kami akan bicara dengan kedutaan asing dan menekan pemerintah untuk membebaskan mereka. Kami berharap wakil rakyat bisa memberi keadilan pada para aktivis. Kami juga menghimbau dunia untuk mengkaji ulang apakah Kamboja adalah negara demokrasi sebenarnya atau diktator komunis.”

Tep Vanny ditangkap dan dijatuhi hukuman dua setengah tahun penjara pada 2012.

Setelah diprotes komunitas internasional, hukuman Tep Vanny dikurangi.

Karena keberaniannya, dia meraih beberapa penghargaan internasional. Dan bersama perempuan Boeung Kak lainnya, dia menjadi simbol perlawanan terhadap perampasan lahan besar-besaran yang terjadi di seluruh negeri.

Dalam wawancaranya dengan Asia Calling awal tahun ini, dia mengaku tidak punya rencana untuk berhenti berjuang meski dapat ancaman.

”Saya memutuskan untuk mati. Saya tidak peduli dengan hidup saya. Jika saya meninggal hari ini, anak-anak saya bisa hidup besok. Jika saya tidak melakukan apa-apa, itu sama dengan saya bunuh diri dan membunuh anak-anak saya. Itulah mengapa saya harus bergabung dengan komunitas ini untuk mendapatkan keadilan dari pemerintah. "

Suami Tep Vanny, Ou Sok Chea, dulunya adalah anggota militer di Kementrian Pertahanan Kamboja tapi kemudian dia diberhentikan karena aktivitas istrinya.

Dia mengaku mendukung sepenuhnya sang istri.

“Saya meminta pemerintah untuk membebaskan istri saya dan yang lainnya dari penjara. Dia berjuang untuk kemanusiaan terutama untuk masyarakat kami. Komunitas internasional harus membantu mereka.”

Komunitas Boeung Kak menyanyikan lagu bertema kebebasan saat sebuah upacara keagamaan untuk mendoakan kebebasan teman-teman mereka.


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

What's Up Indonesia

Kesepakatan Batas Usia Perkawinan

Newsbeat