"Anak-Anak di Panti Asuhan Bukan Objek Wisata"

Itulah slogan kampanye di Kamboja yang bertujuan untuk mengakhiri

INDONESIA

Jumat, 28 Nov 2014 17:32 WIB

Author

Heather Stilwell

Kamboja, anak-anak, pariwisata, panti asuhan, Heather Stilwell

Seorang anak laki-laki berkunjung dari satu kafe ke kafe lainnya,  sambil membawa  beberapa buku yang diikatkan pada pundaknya, untuk dijual kepada para ekspat dan wisatawan. Ia mengaku butuh uang untuk bayar biaya sekolahnya.

Direktur Eksekutif LSM Friends-Internasional, Sebastien Marot menuturkan, para turis ini harus berpikir dua kali sebelum membeli barang-barang dari anak-anak jalanan.

“Ada anak-anak yang berusia 5, 6, 7, 8, 9, dan 10 tahun yang tidak akan pernah mendapatkan pendidikan karena mereka mendapatkan uang di jalanan. Jadi para turis, orang Kamboja, dan orang Thailand, dan lainnya memelihara mereka dalam posisinya yang sama sekarang ini.”

Friends-International meluncurkan kampanye untuk mendidik para turis seputar tips keamanan anak-anak. Ini untuk menunjukkan kalau amal yang bertujuan baik bisa berdampak negatif pada anak-anak Kamboja.

Kampanye ini menyasar tren “pariwisata panti asuhan.” Bagi wisatawan, berkunjung ke panti asuhan menjadi sama pentingnya dengan kunjungan ke  Museum Nasional atau kuil-kuil terkenal seperti Angkor Wat.

Di Phnom Penh sangat mudah melakukan kunjungan ke sebuah panti asuhan. Ada yang membuka diri, menyambut para pengunjung, tanpa banyak pertanyaan. Kunjungan turis biasanya singkat saja, cukup waktu untuk melihat anak-anak, mengambil foto dan mungkin memberikan sumbangan, lalu pergi.

Kelompok aktivis hak-hak anak  bernama ‘Friends’ menentang praktek seperti ini. Dalam poster kampanye ada gambar anak-anak yang terjebak sebagai pajangan museum, sementara para turis mencermati dan mengambil foto mereka. Slogan itu bertuliskan “Anak-Anak Bukan Obyek Wisata.”

“Pertanyaan utamanya  yang kita harus tanyakan pada diri kita sendiri adalah, apakah kita bisa lakukan hal seperti ini di negara kita sendiri? Apakah kita bisa biarkan  para turis masuk sekolah, panti asuhan, di negara Barat mana pun? Tidak. Itu tidak mungkin. Jadi mengapa kita merasa ini boleh dilakukan di negara seperti Kamboja? Atau negara lainnya... karena itu terjadi di negara lain.”

Sementara banyak turis yang hanya ingin membantu, Sebastien menuturkan mereka nyaris tak tahu sistem apa yang tengah mereka dukung.

Laporan LSM Save the Children dari Inggris tahun 2009 menyebutkan, panti asuhan bukan pilihan terbaik untuk anak-anak yang terlantar. Laporan itu menentang keyakinan kalau anak-anak di panti asuhan pastilah tidak punya orang tua.

Pemerintah dan donor didorong untuk menggeser fokus mereka kepada berbagai alternatif pertolongan yang berbasis pada keluarga dan komunitas.

Pemerintah Kamboja sudah mempublikasikan standar-standar dasar perawatan anak di pusat perawatan anak. Tapi menurut Sebastien, apa yang diterapkan masih di bawah standar.

“Panti-panti asuhan itu biasanya menerapkan kebijakan perlindungan anak yang tidak kuat, yang berarti, siapapun bisa saja masuk pintu tanpa diperiksa,  dan langsung bermain dengan anak-anak. Jadi siapa yang mengawasi orang-orang yang tiba-tiba berinteraksi dengan anak-anak? Apakah mereka itu orang-orang yang baik? Sebagian besar memang iya...tapi tidak selalu kan?”

Kelompok Star Kampuchea menempatkan para sukarelawan sedikitnya 2 minggu  di sejumlah panti asuhan atau sekolah.

Meski para sukarelawan tidak perlu  persyaratan  profesional untuk diterima dalam wisata ini, kelompok tersebut memeriksa latar belakang dan menggelar program orientasi selama 2 hari untuk mereka.

Raksmey Koy  menjalankan kelompok itu. Ia menuturkan, selama dikelola dengan baik, pengalaman pariwisata sukarelawan ini bisa bermanfaat baik bagi para turis maupun orang Kamboja.

“Kami mengatakan dalam program kami, ini adalah program pertukaran budaya, yang berarti para sukarelawan tidak hanya datang dan membantu, tapi juga belajar. Warga lokal juga bisa belajar sesuatu dari mereka, jadi kedua belah pihak bisa saling mengambil manfaatnya.”

Tapi Raksmey mengaku sulit untuk anak-anak yang sudah ketergantungan dengan para tamu-tamu asing itu. Ia menuturkan, anak-anak harus dididik seputar program ini supaya mereka tahu apa  yang bakal terjadi.

Kayla Robertson adalah pelancong berusia 20 tahun yang ditempatkan di panti asuhan selama 3 minggu. Ia menuturkan, meski masih berjuang dengan isu-isu seputar ‘pariwisata sukarela’ tapi akhirnya ia menyimpulkan, ada lebih banyak manfaat ketimbang kerugian.

“Pariwisata semacam ini akan positif kalau dilakukan dengan cara yang tepat. Berbagai organisasi yang terlibat tidak hanya akan mengambil manfaat dari sedikit uang yang mereka dterima, tapi juga dari tenaga manusianya. Mereka hanya memerlukan bantuan,  dan kadang sumber daya masih kurang. Mereka sering tidak punya apa-apa dan butuh bantuan.”

Tapi masih ada keprihatinan lainnya. Meski sudah melewati organisasi ternama, Kayla menuturkan kriteria penerimaan ini masih lemah. Tidak ada pemeriksaan yang menyeluruh, apalagi pengecekan latar belakang oleh polisi.

“Sebagian besar orang sudah memenuhi syarat unuk melakukan hal ini. Tapi, kalau ada orang-orang  yang tidak tulus dan jujur, mereka akan mudah sekali tidak terdeteksi. Menurut saya, harus ada upaya yang lebih banyak untuk memastikan para sukarelawan ini memang sesuai dengan identitasanya, supaya kondisinya lebih aman lagi.”

Aktivis hak-hak anak Sebastien Marot sependapat.

“Kampanye ini untuk pariwisata dan para sukarelawan, memang untuk tujuan yang disebutkan tadi. Kami mengatakan, harus ada pengendalian dan pemeriksaan untuk menerapkan standar-standar itu, yang menjamin anak-anak itu aman.”

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12

Bagaimana Kinerja KPK Setelah Komisioner Kembalikan Mandat?