Tantangan Pemberian Bantuan bagi Korban Topan Filipina

Angin topan Haiyan atau yang disebut warga lokal dengan nama Yolanda adalah angin topan terdashyat yang pernah melanda Filipina.

INDONESIA

Senin, 25 Nov 2013 15:56 WIB

Author

Jofelle Tesorio and Ariel Carlos

Tantangan Pemberian Bantuan bagi Korban Topan Filipina

Filipina, bencana alam, Haiyan, bantuan, Jofelle Tesorio and Ariel Carlos

Kiriman bantuan kemanusiaan terus mengalir pasca angin topan Haiyan melanda Filipina tengah.

Angin topan Haiyan atau yang disebut warga lokal dengan nama Yolanda adalah angin topan terdashyat yang pernah melanda Filipina.

Total sekitar 4000 orang meninggal dunia dan lebih dari seribu orang dilaporkan hilang akibat angin topan tersebut.

Pesisir pantai Tacloban di Leyte, Filipina, adalah daerah yang paling parah kondisinya…penuh dengan puing-puing reruntuhan dan rumah yang rata dengan tanah.

Para korban topan yang selamat berkumpul di lapangan terbuka untuk menerima bantuan yang sangat mereka butuhkan, seperti makanan, air bersih dan lainnya.

Palang Merah Filipina adalah salah satu lembaga bantuan pertama yang tiba di Leyte setelah bandara dan jalanan dibersihkan.

Tapi Ketua Palang Merah Richard Gordon mengatakan mereka masih kesulitan mencapai daerah-daerah terpencil.

“Bantuan pangan yang kami sediakan tidak cukup dan sulit sekali menolong mereka yang ada di daerah-daerah terpencil. Tantangan terbesar adalah mengirimkan bantuan lewat udara atau perahu dari Cebu menuju Tacloban dan daerah sekelilingnya. Kawasan yang bersentuhan dengan Samudera Pasifik adalah yang paling parah.”

Tacloban adalah salah satu kota yang paling menderita akibat topan Haiyan.



Semua gedung rata dengan tanah.

Saat ini Presiden Benigno Aguino III ada di Provinsi Leyte untuk memantau operasi pemberian bantuan dan pemulihan. 

“Apakah saya puas dengan proses pemulihan pasca bencana? Saya tidak akan pernah puas jika itu menyangkut tentang rakyat dan kebutuhan mereka. Apa pun yang sudah dicapai, saya selalu berusaha meningkatkan efisiensinya. Tapi ini adalah bencana angin topan terdashyat dan terkuat yang pernah melanda Filipina dan sistem yang sudah disiapkan tetap kewalahan.”

Beberapa hari sebelum bencana terjadi, Presiden telah mengingatkan rakyat Filipina untuk bersiaga lewat siaran TV nasional.

“Air pasang setinggi 5 sampai 6 meter akan menghantam sejumlah daerah. Menteri Pertahanan Negara Volt Gazmin dan Menteri Dalam Negeri Mar Roxas sudah berada di Leyte untuk upaya penanganan badai Yolanda. Seluruh badan kordinasi bencana alam baik nasional dan internasional juga tengah bersiap-siap.”

Semua orang mengira, angin topan itu adalah angin topan biasa yang kerap melanda Filipina, sampai 20 kali setahun.

Tidak ada yang melakukan persiapan khusus dan banyak orang yang mengurungkan niatnya untuk evakuasi.

Akibatnya 3000 orang meninggal dunia dan pemukiman di pesisir pantai provinsi Leyte dan pulau sekitarnya tersapu habis.

Untuk menolong para korban, regu penolong menghadapi sejumlah tantangan besar kata direktur Palang Merah Filipina, Richard Gordon.
 
“Dari awal, kami sama sekali tidak mempunyai informasi. Kedua, tidak ada jaringan telepon, tidak ada telepon genggam, tidak ada komunikasi sama sekali. Ketiga, banyaknya puing-puing reruntuhan di jalanan…tiang listrik, pohon-pohon, bahkan rumah-rumah semuanya rata dengan tanah. Sangat sulit untuk bisa masuk..”

Filipina adalah sebuah negara kepulauan.

Karena itu butuh waktu yang cukup lama untuk mengirimkan bantuan ke daerah yang rusak akibat topan.

Presiden Aquino berterima kasih atas bantuan dari dunia internasional.

“Salah satu negara pertama yang membantu kami adalah Amerika Serikat. Angkatan Udara Filipina memiliki sejumlah pesawat C130 dan daya angkutnya luar biasa. Amerika Serikat mengirimkan kapal induk berikut personelnya yang memungkinkan kami untuk membantu mereka yang berada di pulau-pulau dan kotamadya terpencil.”

Di Provinsi Palawan, komunitas seni ikut membantu dengan sebuah konser amal.

Tujuannya untuk membantu daerah terdampak yang tidak banyak mendapatkan bantuan.

Dinggot Conde-Prieto adalah salah seorang panitia acara.

“Kami dapat mengadakan pameran seni untuk menjual karya-karya seni dengan harga murah. Tapi semua pendapatan akan diserahkan kepada dana bencana.”

Musisi Pat Marquez bahkan menciptakan sebuah lagu yang dipersembahkan untuk korban bencana topan Haiyan.

“Judul lagunya adalah “This is the Time” atau “Inilah saatnya”. Dari hasil pengamatan saya, upaya pemerintah menolong para korban yang tinggal di daerah-daerah terpencil sangat lamban. Ini kemudian menginsipirasi saya untuk menciptakan lagu tentang kerusakan yang menimpa daerah Coron dan lainnya. Semoga lagu ini dapat menggugah perasaan orang lain untuk tergerak membantu para korban bencana topan Haiyan.”

Butuh waktu lama untuk membangun kembali hidup dan rumah-rumah penduduk akibat kerusakan hebat yang disebabkan oleh topan Haiyan…tapi selalu ada harapan.

Untuk saat ini, para korban membutuhkan bantuan apa pun yang bisa mereka dapatkan.



Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Pandemi dan Dampak Pada Kesehatan Mental Siswa

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Menanti Perhatian pada Kesehatan Mental Pelajar

Kabar Baru Jam 10