Sekolah di Bawah Jembatan Rel Kereta di India

Sekolah darurat ini didirikan oleh seorang pemilik toko di New Delhi.

INDONESIA

Senin, 04 Nov 2013 16:30 WIB

Author

Jasvinde Sehgal

Sekolah di Bawah Jembatan Rel Kereta di India

India, sekolah gratis, orang miskin, pendidikan, Jasvinder Seghal

Menurut hukum India, setiap anak berhak mendapatkan pendidikan secara gratis sampai usia 14 tahun.

Tapi kenyataannya, banyak anak tidak dapat bersekolah karena orantuanya tidak berpendidikan dan tidak menghargai nilai-nilai baik dari pendidikan.

Tapi seorang pemilik toko di ibukota New Delhi mencoba mengubah ini. Ia mengajar anak-anak miskin di sebuah sekolah darurat di bawah jembatan rel kereta api. 

Ini adalah pekerjaan Rajesh Kumar sehari-hari…menjual peralatan rumah tangga di toko kelontongnya.

Tapi mengajar adalah panggilan jiwanya…

Dia membangun sekolah darurat di bawah jembatan rel kereta api di New Delhi.

Sekolah ini memberikan pendidikan dasar bagi anak usia 4 sampai 14 tahun.

Murid sekolah darurat ini adalah anak pemulung sampah, penarik becak dan buruh pabrik.

Saya bertemu beberapa siswa yang mau ke sekolah.

Mereka mengaku ingin belajar membaca dan menulis...karena ingin menjadi dokter atau tentara.

Rajesh tidak punya bekal mengajar profesional.

Kuliahnya berhenti di tengah jalan lantaran ia kehabisan uang.

“Ini bukan sekolah resmi karena memang belum terdaftar. Murid-murid datang dan hanya belajar selama dua jam saja. Kami juga membangun sekolah lain tapi tidak jadi karena sekolah dibangun di atas sebuah pusat perbelanjaan. Anak-anak lebih aman di sini sekarang, di bawah jembatan rel kereta.”

Semua perlengkapan sekolah bisa dikemas dalam satu kotak besar dan tidak ada meja atau kursi.

Jembatan rel kereta api menjadi ‘atap’ sekolah, sementara anak-anak duduk di atas karpet yang digelar di lantai batu.

“Sekolah ini sangat dekat dengan daerah kumuh tempat anak-anak miskin ini tinggal. Sekolah ini dibuat agar mereka bisa mandiri, ingin tahu dan percaya diri sehingga bisa mengubah masa depan mereka. Setelah belajar mereka pulang ke rumah atau pergi bekerja.”

Ada 60 murid yang belajar di sekolah ini. 



Salah satunya adalah Babar Ali yang berusia 12 tahun.

Ia tidak masuk sekolah biasa yang berlangsung selama 6 jam per hari tapi memilih bersekolah di sini yang hanya berlangsung selama 2 jam.

“Saya bercita-cita menjadi dokter karena saya menyukai angka dan senang mendengar saya sendiri kalau bicara bahasa Inggris.”

Ajay Mandal dulu bersekolah di sini. Ia mengaku belajar dengan Rajesh membantunya lulus ujian masuk sekolah negeri yang bagus.

Sekarang ia duduk di kelas 8 di sebuah sekolah negeri.

“Berkat sekolah ini, kami bisa lulus ujian dan bersekolah di sekolah terbaik milik pemerintah di sini. Pak Guru mengajari kami banyak hal termasuk soal moral. Kini kami bisa menuju masa depan yang lebih baik.”

Pelajaran hari ini usai sudah.

Beberapa anak pulang ke rumah...sementara yang lain pergi bekerja...
 
Jai Prakash Yadav, seorang penarik becak datang menjemput anaknya Shiv, yang baru berusia 4 tahun.

“Anak-anak mendapatkan pendidikan gratis berikut buku-buku pelajaran. Mereka sibuk belajar dan mempelajari hal-hal baru dan ini bagus sekali.”

Rajesh kembali ke tokonya.

“Setelah selesai melayani masyarakat, saya kembali berjualan supaya bisa menghidupi keluarga.”


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Dampak Tambang terhadap Lingkungan di Sulawesi Tenggara dan Tengah

NFT, New Kid on the Block (chain)

Kabar Baru Jam 8

Seruan Penolakan Bibit-Bibit Kekuasaan Mutlak