Perjuangan Melawan Stigma HIV/AIDS Terus Berlanjut

Badan PBB soal AIDS meluncurkan kampanye triple zero untuk memerangi penyebaran HIV/AIDS.

INDONESIA

Sabtu, 30 Nov 2013 13:35 WIB

Author

Ron Corben

Perjuangan Melawan Stigma HIV/AIDS Terus Berlanjut

Thailand, HIV/AIDS, pekerja migran, stigma dan diskriminasi, Ron Corben

Kelompok teater ini terdiri dari pekerja migran di Thailand .

Mereka menggelar drama soal peningkatan kesadaran akan HIV/AIDS dari para pekerja industri perikanan Thailand.

Pakpoom Sawangkhum penasihat hukum LSM Yayasan Raks Thai mengatakan, informasi dan pengobatan untuk AIDS kini tersedia bagi pekerja migrant.

“Sepuluh tahun lalu, kami tidak dapat mengakses area-area pabrik atau pemilik pabrik menolak kehadiran kami. Tapi kini kami dapat mendatangi pabrik dengan mudan dan pemahaman pejabat pemerintah sekarang jauh lebih baik dibanding masa lampau.”

Tapi jumlah orang di wilayah yang dapat mengakses ARV, obat yang dapat memperlambat pertumbuhan virus HIV, tetap rendah.

Dan jumlah penyebaran infeksi masih belum berubah dari 2008.

Di Indonesia, jumlah infeksi telah meningkat sebesar tiga kali lipat, sementara di Pakistan, peningkatannya sebesar delapan kali lipat.

Direktur kerja sama PBB untuk penanggulangan AIDS regional Asia Pasifik, Steve Kraus, mengatakan perjuangan melawan epidemi AIDS kini berada dalam tingkat kritis.

“Kami tahu bahwa jika tetap melakukan apa yang kami lakukan maka tidak akan ada perubahan di wilayah ini. Kami harus melakukan inovasi. Dalam lima tahun terakhir, kami tidak melihat adanya penurunan jumlah infeksi di wilayah ini.”

Kraus mengatakan mereka membutuhkan ide-ide baru.

“Wilayah ini penuh dengan aturan hukum yang terus mengkriminalisasi prilaku seks yang sama. Negara-negara terus membatasi gerak kebebasan seseorang berdasarkan status HIV mereka. Kami perlu menentang status kuo ini karena aturan hukum, kebijakan, praktik-praktik kerap menghalangi akses pengobatan yang tidak tersedia dan program pencegahan yang tidak meningkat.”

Salah satu perhatian PBB adalah menumbuhkan kesadaran dampak akibat hubungan seks antara laki-laki dengan laki-laki khususnya generasi muda.

Stefan Baral adalah seorang pakar epidemiologi di John Hopkins University yang berbasis di Amerika Serikat.

“Menurut saya, sesungguhnya epidemi tidak akan kemana-mana selagi kita masih melihat laki-laki muda masih beresiko tinggi terinfeksi HIV. Ini juga menunjukkan bahwa pada umur 18 tahun, kita mulai melakukan eksperimen-eksperimen beresiko dan ini berarti kita telah kehilangan para lelaki ini. Ini juga memberitahukan kita bahwa perlu kaum remaja membutuhkan perhatian lebih.”

Organisasi Kesehatan Dunia WHO, mengatakan ada lebih dari dua juta remaja berusia antara 10 sampai 19 tahun di dunia yang hidup dengan HIV.

Itu artinya sejak 2001 telah terjadi peningkatan sebesar 33 persen.

Kelompok lain yang beresiko adalah komunitas transgender, kata Laxma Narayan Tripathi, salah seorang pendiri Asia Pacific Transgender Network.

“Sebagian besar transgender di kawasan Asia Pasifik hidup dalam komunitas. Peranan politik dan komitmen sangat penting. Komitmen dari agen PBB sehingga mereka mau menyertakan dan melihat isu transgender lebih dekat – kelompok minoritas ini sepertinya kasat mata tapi sebenarnya sangat mengancam dan tidak terlihat.”

Para ODHA, terutama dari kelompok minoritas, terus mengalami diskriminasi, stigmatisasi dan sanksi legal.

Malu Marin adalah ketua kerjasama regional LSM Seven Sisters – jaringan kerjasama tujuh kelompok regional dalam soal HIV/AIDS dan pekerja seks di Asia Pasifik.

Kata dia, isu diskriminasi dan kematian yang disebabkan oleh AIDS bisa diatasi jika dibarengi dengan kebijakan progresif.

“Isu yang sama terus menerus terjadi, khususnya di saat kita mendapatkan bukti dan pengetahuan bahwa kita harus menghentikan penyebaran AIDS. Ini menggambarkan masih adanya diskriminasi, infeksi dan kematian. Tidak ada perubahan sama sekali karena tidak ada dana untuk itu, tidak ada reformasi hukuum dan tidak ada kemauan politik.”

Thailand dipandang banyak negara Asia sebagai pelopor dalam upaya menghentikan penyebaran AIDS.

Tapi dari jumlah penduduk sebanyak 70 juta, ada 450.000 orang yang terinfeksi virus HIV.

Dan dari jumlah tersebut, hanya 200 ribu orang saja yang dapat mengakses pengobatan ARV.

Juru kampanye AIDS terkemuka di Thailand, Mechai Viravaidya, mengatakan tantangannya terbesarnya adalah upaya menghentikan penyebaran virus.

“Pemerintah kami selama ini tidur. Tidak berbuat apa-apa. Kapan terakhir kali anda pergi ke jalan-jalan besar di Bangkok dan jalan tol Thailand dan anda melihat pesan lakukan seks dengan aman untuk mencegah penyebaran HIV AIDS – tidak pernah. Jadi inilah saatnya untuk melakukan itu kembali.”

Mechai mengatakan masa depan melawan HIV/AIDS harus dipimpin oleh generasi muda – karena merekalah yang paling rentan.

“Sayangnya dulu kita meletakkan tanggung jawab melawan AIDS ditangan orang-orang yang memiliki sejarah dengan AIDS…bukan di tangan mereka yang punya masa depan. Usul saya adalah mulai saat ini kita harus memberikan perhatian lebih dan kepercayaan kepada generasi muda – mereka yang punya masa depan.”



Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10